16 Maret – Yes 55:10-11; Mat 6:7-15

“Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

(Yun 3:1-10; Luk 11:29-32)

 

“Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Luk 11:29-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada aneka macam tanda atau symbol di dalam kehidupan bersama kita, dalam aneka macam bidang kehidupan. Misalnya: tanda-tanda zaman, rambu-rambu lalu lintas, tanda cinta/saling mengasihi, tanda setuju dengan mengangguk atau kerdipan mata, dst.. Para penjahat pada umumnya menggunakan banyak tanda atau symbol dalam sepak terjang atau usaha kejahatan mereka. Warta Gembira hari ini mengajak dan mengingatkan kita untuk meningkatkan dan memperdalam kepekaan kita terhadap tanda-tanda zaman serta kehidupan. Untuk melatih dan meningkatkan kepekaan ini antara lain setia mengadakan pemeriksaan batin atau mawas diri setiap hari. Rekan-rekan perempuan kiranya cukup peka akan tanda-tanda atau gejala dalam tubuhnya, misalnya saat-saat akan menstruasi, maka kami harapkan juga lebih peka terhadap tanda-tanda zaman dan kehidupan. Tanda Yunus sebagaimana diwartakan hari ini anda berbicara perihal wafat dan kebangkitan Yesus dari mati. Baiklah masing-masing dari kita berusaha untuk peka akan tanda-tanda kehidupan dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita, di dalam keluarga atau tempat kerja/ tugas. Marilah kita lihat dan cermati tanda-tanda kehadiran dan karya Tuhan baik dalam diri kita sendiri maupun sesama kita, antara lain berupa kehendak atau dambaan suci/baik, maupun penghayatan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, seperti iman, harapan dan cintakasih. Kami berharap para orangtua dapat menjadi teladan dalam hal kepekaan ini bagi anak-anaknya, para guru/pendidik bagi para peserta didik.

·   "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” (Yun 3:7-9), demikian firman Tuhan yang diharapkan untuk disampaikan oleh Yunus kepada orang-orang Ninive.  Haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya”, inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati. Marilah kita mawas diri: apakah bentuk kejahatan atau kekerasan yang telah kita lakukan?  Jika cara hidup atau cara bertindak kita membuat orang lain menjadi marah, menggerutu atau tidak senang, ada kemungkinan apa yang kita lakukan adalah jahat atau keras, sehingga menyakiti mereka. Bertobat dari kejahatan atau kekerasan berarti kemudian  bersikap hormat. “Sikap hormat adalah sikap dan perilaku yang menghargai orang lain, siapa pun di tanpa memandang kedudukan, kekayaan dan kekuasaannya” (Prof Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 25). Dengan kata lain sikap hormat terhadap sesama  berarti tidak pernah melecehkan atau merendahkan siapapun dan dalam bentuk apapun. Ada kekerasan yang lembut dalam kehidupan bersama kita, yaitu ‘ngrumpi atau ngrasani’, yang pada umumnya membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, yang tidak ada di hadapan mereka. Kami berharap kepada kita semua untuk tidak dengan mudah membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, dan ingatlah seta hayati bahwa diri kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa, yang dipanggil Tuhan. Baik suami atau isteri kami harapkan juga tidak berlaku keras terhadap pasangannya, baik dalam kata maupun perilaku.

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku

(Mzm 51:3-4)

 

Jakarta, 16 Maret 2011

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.