16 Feb – Kej 8:6-11.20-22; Mrk 8:22-26

"Sudahkah kaulihat sesuatu?"

(Kej 8:6-11.20-22; Mrk 8:22-26)

 

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?" Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!" (Mrk 8:22-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Dapat melihat segala sesuatu dengan jelas” kiranya menjadi dambaan atau kerinduan semuanya orang dan tentu saja tidak hanya secara phisik tetapi juga spiritual. Agar kita dapat melihat dengan baik dan jelas kiranya butuh bantuan atau pertolongan orang lain dalam aneka kesempatan dan kemungkinan. Dalam kenyataan kita semua telah menerima bantuan orang lain, misalnya orangtua kita masing-masing, para guru, pastor/pendeta, dst.. yang mendidik dan mendampingi perjalanan hidup kita masing-masing. Dengan kata lain agar kita dapat melihat dengan jelas dan baik hemat saya perlu memiliki semangat belajar terus menerus atau membuka diri terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan atau sentuhan dan sapaan orang lain sebagai kepanjangan sentuhan Tuhan. Ketika kita dapat melihat segala sesuatu dengan jelas kemudian kita dipanggil untuk ‘pulang ke rumah kita masing-masing’, artinya melaksanakan tugas pengutusan maupun menghayati panggilan seoptimal dan sebaik mungkin dengan pembekalan yang telah kita terima. Dalam cara hidup dan kerja kita diharapkan kita melihat dan mengimani karya Roh Kudus alias apa-apa yang baik, mulia, luhur dan indah dalam lingkungan hidup kita masing-masing. Jika masing-masing dari kita setia melaksanakan tugas pengutusan  atau menghayati panggilan kiranya kebersamaan hidup kita sungguh enak, mempesona dan menarik bagi orang lain. Kami berharap kepada para pelajar atau mahasiswa sungguh belajar dengan baik sehingga kelak kemudian hari dapat melihat segala sesuatu dengan jelas dan baik. Perdalam dan kuatkan semangat belajar anda: belajar dari apa yang diajarkan di sekolah/perguruan tinggi, belajar dari buku-buku yang baik, belajar dari aneka pengalaman pergaulan dst..

·   "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kej 8:21-22), demikian firman Tuhan setelah menyaksikan kesetiaan iman Nuh dan keluarganya, setelah pemusnahan bumi dengan air  bah yang menenggelamkan seluruh muka bumi. Kita semua kiranya masih dapat menikmati apa yang disabdakan Tuhan tersebut, seperti  mengalami atau menikmati “menabur dan  menuai, dingin dan  panas, kemarau dan hujan, siang dan malam”. Marilah kita nikmati semuanya itu, karena semuanya adalah anugerah Tuhan. Sebagai contoh: marilah kita nikmati kemarau dengan sinar mataharinya dan hujan dengan airnya yang segar. Menikmati air hujan antara lain membiarkan air hujan  meresap di tanah, sejak di pegunungan sampai dataran rendah, sehingga tidak terjadi banjir bandang di sana-sini. Maka baiklah di rumah atau tempat tinggal kita masing-masing diusahakan adanya resapan air hujan, sebagaimana pernah dilakukan dengan ‘bio pori‘. Sinar matahari hendaknya juga dinikmati dengan baik, antara lain membiarkan sinar matahari menerangi seluruh ciptaan di  bumi, entah manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Kami berharap kita tidak menjadi manja seperti panas sedikit saja lalu pakai payung, demikian juga gerimis sedikit saja pakai payung. Orang yang dengan mudah melindungi diri dengan ‘payung’ ini hemat saya akan mudah jatuh sakit. Nikmatilah air hujan dan sinar matahari jika anda mendambakan hidup sehat dan segar bugar baik secara phisik maupun spiritual.  Mudah menolak sinar matahari maupun air hujan berarti dengan mudah juga menolak sentuhan kasih Tuhan melalui saudara-saudari atau lingkungan hidup kita.

 

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya

(Mzm 116:12-15).

                     

Jakarta, 16 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: