16 Des – Yes 45:6b-8.18.21b-25; Luk 7:19-23

“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?"

(Yes  45:6b-8.18.21b-25; Luk 7:19-23)

 

“Ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata: "Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." (Luk 7:19-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Guru atau orangtua yang baik senantiasa berusaha memberdayakan peserta didik atau anak-anaknya, antara lain mereka diajak bereksplorasi, sebagaimana dilakukan oleh Yohanes Pembaptis kepada para pengikutnya dengan mengutus mereka untuk bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskan kami menantikan seorang lain?”. Ketika Yesus, Guru Utama,  memperoleh pertanyaan juga tidak dengan ‘terang-terangan’ memberi jawaban, melainkan dengan menantang mereka untuk melihat dan mendengarkan apa yang Ia lakukan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para guru/pendidik, orangtua atau pembina dalam melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya berpedoman pada motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yang menurut saya dekat sekali dengan apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis maupun Yesus, yaitu “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” (=keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). Saya mengajak untuk memberi perhatian perihal pemberdayaan, mengingat dan memperhatikan hal ini kurang diperhatikan, tentu saja tanpa meninggalkan keteladanan dan motivasi, yang inklusif ada dalam kegiatan pemberdayaan. Biasakan dan dampingi anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga untuk bereksplorasi, misalnya dengan aneka macam alat permainan mereka atau peristiwa yang dialaminya. Biarkanlah mereka mendengarkan dan melihat sendiri apa yang ada dan terjadi, dan kemudian mawas diri alias bereksplorasi. Sebagai bantuan kepada mereka sering diminta untuk menceriterakan apa yang dilihat dan didengarkannya.

·   “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu” (Yes 45:22-24), demikian peringatan Yesaya kepada bangsanya, kepada kita semua orang beriman. “Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan” , inilah yang sebaiknya kita renungkan atau refleksikan di masa Adven, dalam rangka menyongsong Hari Kelahiran Penyelamat Dunia, Pembawa keadilan dan kekuatan. Sebagai orang beriman kita diingatkan untuk lebih mengandalkan diri pada Tuhan daripada kekuatan sendiri, harta benda atau uang yang kita miliki dan kuasai. Kita dipanggil untuk tidak bersikap mental materialistis, melainkan bermoral baik dan rendah hati. Ingatlah dan hayatilah bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita atau yang kita miliki dan kuasai sampai kini adalah anugerah Tuhan, yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik dengan kita, hidup dan bekerja dengan kita. Maka di masa Adven ini dengan rendah hati kita juga dipanggil untuk mengenangkan kebaikan-kebaikan saudara-saudari atau sesama kita alias memperbaharui, memperdalam dan memperkuat hidup persaudaraan atau persahabatan kita. Kedatangan Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia dan hadir di tengah-tengah kita merupakan anugerah persahabatan Allah kepada manusia. Marilah kita semua ‘berpaling kembali kepada Allah’ serta memperdalam persembahan diri kita kepada Allah. “Biarkanlah dirimu diselamatkan”, artinya persembahkan diri anda secara total kepada Tuhan. Kepada mereka yang terbiasa suka marah kami harapkan bertobat dan tidak marah lagi.

 

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan” (Mzm 85:11-14)

Jakarta, 16 Desember 2009         

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.