1,5 Th Koma, Fr. Leo Wiyadi Pr Tergolek tak Berdaya di Njali, Sendang Sriningsih (1)

SUDAH sekitar 1,5 tahun terakhir ini, kondisi fisik Frater Leo Wiyadi Pr dalam kondisi memprihatinkan. Punggungnya “berlobang” karena sudah sekian lama tergolek tak berdaya, sementara wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa pun saat diajak berkomunikasi dengan orang.

Ia sudah koma selama 1,5 tahun terakhir ini. Derita sakit tidak sadar diri ini terjadi sejak calom imam diosesan (praja) Keuskupan Tanjung Karang ini mengalami kecelakaan lalu lintas di Pematang Siantar, Medan, Provinsi Sumatra Utara.

Kecelakannya tidak terjadi di Lampung sebagaimana dibicarakan banyak orang di lansiran berita yang kurang akurat itu. “Fr. Leo Wiyadi mengalami kecelakaan di Pematang Siantar, Sumatra Utara,” kata Mgr. Harun menjawab Sesawi.Net.

Kecelakaan dan koma tiga bulan di RS

Kepada Sesawi.Net, Uskup Keuskupan Tanjung Karang Mgr. Yohanes Harun Yuwono menjelaskan sebagai berikut.

Frater Leo Wiyadi mengalami  kecelakan lalu lintas, ketika akan masuk tingkat VI. Itu terjadi ketika belum lama Fr. Leo menyelesaikan ujian tingkat V. Kecelakaan lalu lintas itu membawa dia masuk ke RS dan di situ para dokter yang merawat kemudian memberitahukan bahwa pasien Fr. Leo Wiyadi Pr telah mengalami koma.

Karena pihak rumah sakit sudah angkat tangan dan para dokter menyatakan tidak ada harapan bisa sembuh kembali pulih normal, maka pasien Fr. Leo Wiyadi akhirnya meninggalkan rumah sakit.  “Saya minta Rektor Rumah Residensi Frater-frater Diosesan yang belajar di Seminari Pematang Siantar mengambilnya dari Rumah Sakit,” terang Mgr. Yohanes Harun.

Fr. Leo Wiyadi saat masih sehat dan bugar. (Dok. Keluarga)

Karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan atas permintaan keluarga, demikian penegasan Uskup Keuskupan Tanjung Karang Mgr. Yohanes Harun Yuwono, maka Fr. Leo Wiyadi akhirnya diizinkan pihak Keuskupan untuk dibawa pulang oleh keluarganya. Demikianlah yang terjadi, akhirnya Fr. Leo Wiyadi dibawa pulang  ke rumah asal mereka di Gayamharjo, tak jauh dari Gua Maria Sendang Sriningsih Njali di Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY.

“Jadi, bukan Keuskupan yang memulangkan Fr. Leo, melainkan kami mengadopsi permohonan keluarga yang berkeinginan agar bisa bisa merawat Fr. Leo di tengah anggota keluarganya di Njali,” kata Bapak Uskup Keuskupan Tanjung Karang ini.

Mengapa hal itu diperbolehkan, tanya Sesawi.Net.

Menurut keterangan  RS saat itu, demikian keterangan Mgr. Yohanes Harun Yuwono, para dokter sudah angkat tangan. Mereka juga memberitahukan bahwa kondisi sakit karena efek kecelakaan itu sudah sangat parah. “Singkatnya, kondisi koma itu tidak akan bisa sembuh lagi,” kata Mgr. Yohanes Harun.

“Kami tidak tahu banyak tentang dunia kedokteran dan kesehatan. Kami mengikuti apa yang para dokter sarankan dan katakan apa adanya tentang kondisi pasien kepada kami,” terang Bapak Uskup.

Karena itu, Uskup lalu minta Rektor dan mengajak dokter serta perawat mengantarkan pulang Fr. Leo Wiyadi dari Pematang Siantar menuju ke rumah tempat asal mereka di Gayamharjo, Njali. “Ibu Fr. Leo yang meminta seperti itu, karena RS sudah angkat tangan dan tidak ada harapan bisa sembuh dan kembali bisa normal lagi seperti sedia kala,” kata Mgr. Harun.

“Jadi, ibunya Fr. Leo Wiyadi sendiri yang menghendaki ingin merawat anaknya di rumah asal mereka di Paroki Ndalem Njali, Prambanan,” tandasnya lagi. (Baca juga:  Mari Berdonasi untuk Fr. Leo Wiyadi (2)

Kondisinya memprihatinkan

Fr. Leo Wiyadi Pr –calon imam diosesan (praja) Keuskupan Tanjung Karang—adalah seminaris alumnus Seminari Menengah Stella Maris, Bogor.

Hari Jumat tanggal 4 Maret 2016 malam ini di medsos sudah beredar kabar yang menyebutkan, kondisi hidup Fr. Leo Wiyadi di rumahnya sangat memprihatinkan. Berita ini cepat menyebar di lingkaran sahabat lintas generasi para alumni Seminari Mertoyudan. Utamanya,  setelah Prof. Koerniatmanto Soetoprawiro –guru besar ilmu hukum tata negara Universitas Parahyangan Bandung—merilis kabar sedih tersebut di lingkaran sahabat Seminari Mertoyudan.

Ketika Sesawi.Net mencari konfirmasi kebenaran berita ini, Satrio BP yang pernah berkarya di Dephan dan peduli dengan hal ini langsung membenarkannya. “Informasinya A-1,” demikian katanya menjawab Sesawi.Net.

Fr. Leo Wiyadi lulus dari Seminari Menengah Stella Maris di Bogor tahun 2002 dan kemudian melamar menjadi imam diosesan untuk Keuskupan Tanjung Karang di Lampung.  Seperti yang sudah-sudah, setiap frater praja Keuskupan Tanjung Karang lainnya, Fr. Leo juga diutus belajar filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Santo Petrus di Pematang Siantar, Sumatra Utara.

Dua kali mengunjungi Fr. Leo di Njali

Sudah terlanjur beredar berita kurang valid yang mengesankan Keuskupan Tanjung Karang sepertinya tidak peduli dengan kondisi Fr. Leo Wiyadi di Njali yang tergolek tak berdaya dengan kondisi seadanya di sana. Menanggapi hal ini, Uskup Tanjung Karang Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyatakan kesan itu tidak benar.

Pihak Keuskupan Tanjung Karang tetap memberi perhatian kepada Fr. Leo yang merupakan calon imam diosesan untuk Keuskupan  yang kini dia ampu sebagai Uskup.

“Saya sendiri sudah dua kali datang ke Gayamharjo mengunjungi keluarga Fr. Leo Wiyadi di sana. Dua pekan lalu, saya kembali mengutus Romo Vikjen Keuskupan Tanjung Karang bersama tiga imam diosesan senior untuk misi kemanusiaan mengunjungi dan menengok Fr. Leo Wiyadi di Njali,” terang Bapak Uskup.

Fr Leo Wiyadi ortu by dok kelKedua orangtua kandung Fr. Leo Wiyadi di kampung halaman. (Dok. Keluarga)

Memanglah, kata Bapak Uskup,  kondisi fisik Fr. Leo Wiyadi sungguh memprihatinkan. Sangat kuat muncul  kesan  tidak ada harapan untuk bisa sembuh lagi dan kembali sehat, normal. Maka dari itu, ketika RS melepas pasien pulang karena semua dokter sudah angkat tangan lantaran tidak ada harapan kepastian bisa sembuh, maka Keuskupan merespon positif pihak keluarga untuk boleh merawat “anak” mereka di kampung halaman sendiri.

“Beberapa kali juga, para imam diosesan Keuskupan Tanjung Karang juga selalu menyempatkan diri menengok Fr. Leo Wiyadi dan keluarganya di Njali. Sungguh benar, hingga saat ini,  sudah 1,5 tahun Frater kami itu sudah koma dan tidak sadarkan diri,” kata Mgr. Harun.

Hingga malam ini, kelompok jaringan alumni Seminari Mertoyudan telah berinisiatif mengumpulkan dana kasih untuk bisa diberikan kepada keluarga Fr. Leo Wiyadi untuk membantu kebutuhan sehari-hari.

Ini persis harapan Sdr. Antonius KBY –alumnus Seminari Menengah Stella Maris di Bogor—yang telah merilis pernyataan sebagai berikut:

“Saudara-saudaraku seiman, Kami mewakili para imam dan frater, serta seluruh keluarga besar Alumni Seminari Menengah Stella Maris, Bogor, mohon bantuan doa untuk Frater Leo Wiyadi yang saat dalam keadaan koma selama 1,5 thn sejak kecelakaan di Lampung. (Koreksi Redaksi Sesawi.Net: di Pematang Siantar).”

“Frater Leo Wiyadi adalah lulusan Seminari Menengah Stella Maris angkatan masuk KPP thn 2002, dan merupakan frater Diosesan (praja) Keuskupan Tanjung Karang. Oleh keuskupan Tanjung Karang, frater Leo dikembalikan ke orangtuanya di Klaten, Jawa Tengah, dan dirawat oleh ibunya di rumah dengan segala kesederhanaan.”

(Koreksi Redaksi Sesawi.Net: Yang benar adalah Frater Leo dibawa pulang oleh keluarganya atas permintaan ibu kandungnya kepada Bapak Uskup dan atas pertimbangan kemanusiaan hal itu diberikan izin boleh merawat anaknya yang masih frater di keluarga asal mereka di kampung halamannya di Njali)

“Selain butuh doa untuk frater, Apabila, saudara2 ku hendak berziarah ke Jawa Tengah terutama ke Gua Maria Sendang Sriningsih, alangkah baiknya mampir ke rumah Frater Leo untuk menghibur dan membantu memberikan semangat hidup.”

“Rumah beliau di Dusun Gayamharjo, sangat dekat dengan Gua Maria Sendang Sriningingih di Njali. Para saudara bisa  bertanya ke masyarakat  sekitar sana, pasti mereka tahu. Bilang saja Frater Leo,  anaknya Pak Sudi.

“Kami keluarga besar Seminari Stella Maris telah mencoba membantu, dan kami harapkan kerelaan hati Bapak, Ibu, Saudara untuk juga  membantu, minimal mendoakan Frater Leo Wiyadi dalam Masa Prapaska ini. Semoga kerelaan hati Bapak, Ibu, dan saudara untuk Frater Leo,adik angkatan kami ini, mendapatkan kasih dan mujizat dari Kristus. Terima kasih telah membaca pesan kami ini, dan boleh disebarkan kepada saudara seiman. Berkah Dalem. A/n Seluruh Alumni Seminari Stella Maris Bogor.”

Naskah aslinya kami edit sedikit untuk kepentingan perbaikan ragam bahasa dan tertib berbahasa  Indonesia yang baik dan benar.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.