15 Sept – 1Kor 12:31-13:15; Luk 2:33-35

Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”

(1Kor 12:31-13:15; Luk 2:33-35)

 

“Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”(Luk 2:33-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta “SP Maria Berdukacita” hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   SP Maria adalah teladan umat beriman, yang mengandung, melahirkan dan mendampingi Penyelamat Dunia, yang datang untuk mempersembahkan Diri bagi keselamatan seluruh dunia dengan menderita dan  wafat di kayu salib. Kemarin kita kenangkan ‘Salib Suci’, dan hari ini kita kenangkan SP Maria Berdukacita, kenangan akan partisipasi SP Maria dalam penderitaan dan wafat Penyelamat Dunia, PuteraNya. SP Maria Berdukacita ini dikenangkan antara lain dengan patung karya Michael Angelo “SP Maria yang sedang memangku Yesus yang telah wafat di kayu salib”. Karena SP Maria adalah teladan umat beriman, maka kita semua umat beriman dipanggil untuk berpartisipasi dalam penderitaan dan wafat Yesus di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. Secara konkret kita dipanggil untuk siap sedia menderita dan berkorban demi keselamatan jiwa diri kita sendiri maupun orang lain atau sesama kita. Kita semua mendambakan hidup mulia, damai sejahtera dan selamat selama di dunia ini dan kelak setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. “Jer basuki mowo beyo” = Untuk hidup mulia dan damai sejahtera, orang harus berjuang dan berkorban, demikian kata pepatah Jawa. Marilah jiwa perjuangan dan pengorbanan ini sedini mungkin kita dididikkan atau biasakan pada anak-anak dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua atau bapak-ibu. Dengan kata lain hendaknya dijauhkan aneka macam bentuk pemanjaan pada anak-anak. Sedini mungkin, sesuai dengan kemampuan dan perkembangannya, libatkan dan fungsikan anak-anak dalam pemenuhan hidup bersama yang damai dan sejahtera., antara lain dengan memfungsikan anak-anak untuk mengerjakan hal-hal sederhana, dan makin lama makin sulit, misalnya menyapu, mematikan lampu/kran air, mengatur tempat tidur, dst…Jauhkan sikap mental atau budaya ‘instant’, seperti cepat-cepat pandai, kaya, dst.., dan ikutilah ‘proses’ yang baik dalam mengerjakan segala sesuatu.

·   Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi” (!Kor 12:31), demikian nasihat Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Karunia yang paling utama tidak lain  adalah.kasih, dan  “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1Kor 13:4-7). Marilah ajaran perihal kasih dari Paulus ini kita hayati dan sebarluaskan di dalam hidup kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Perkenankan saya mengangkat perihal ‘tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain’, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang mudah marah karena alasan-alasan atau hal-hal kecil dan sederhana saja. Marah berarti melecehkan dan merendahkan yang lain, dan dengan demikian melanggar hak-hak asasi manusia. Yang sering menjadi sebab, alasan atau dorongan untuk marah antara lain adalah ‘perbedaan’, entah beda selera, pendapat, pikiran, SARA, dst.. , dimana kita tidak dapat menghormati dan menghargai perbedaan-perbedaan. Ingatlah dan hayatilah bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sama persis, semuanya berbeda satu sama lain, laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, terpikat dan ingin mendekati, bersahabat dan mengasihi satu sama lain. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya tarik, daya pikat, daya pesona dan kekuatan untuk saling bersahabat dan mengasihi. Maka kami harapkan kepada anda semua: marilah kita hayati dan sikapi aneka perbedaan yang ada di antara kita sebagai daya tarik, daya pikat, daya pesona untuk saling mendekat dan bersahabat, itulah salah satu perwujudan kasih, karunia yang paling utama.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN” (Mzm 33:2-5).

Jakarta, 15 September 2010 

        

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: