14 Spt

“Setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal”
(Fil 2:6-11; Yoh 3:13-17)

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia
yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa
meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus
ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup
yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga
Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi
dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:13-17),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrfleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Salib
Suci hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
•       Tanda salib telah berkali-kali kita buat, dan kiranya tak seorangpun
yang dapat menghitung telah berapa kali membuat tanda salib sambil
berkata “Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus” seraya menepuk dahi,
dada dan bahu. Dahi menunjuk otak yang berfungsi untuk berpikir, dada
menunjuk pada hati dan jantung sebagai sumber utama kehidupan,
sedangkan bahu menunjuk pada kekuatan atau tenaga. Kita membuat tanda
salib dalam rangka berdoa entah untuk mengawali dan mengakhiri
pertemuan, pekerjaan, makan atau tidur dst.., yang berarti kita akan
mengerjakan semuanya itu dalam Nama Yesus, Yang Tersalib. Maka baiklah
saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri sejauh mana cara hidup
dan cara bertindak kita dijiwai oleh Yang Tersalib, sehingga semakin
lama, semakin tambah usia dan pengalaman kita juga semakin suci. Suci
berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui aneka
macam kesibukan, pelayanan dan pekerjaan, sehingga semakin dikasihi
oleh Tuhan dan sesama manusia. Cara hidup dan cara bertindak orang
suci senantiasa menarik, mempesona dan menawan bagi orang lain;
siapapun yang melihat, bergaul dengan atau bersama dengan orang suci
akan tergerak untuk berbakti kepada Tuhan sepenuhnya demi keselamatan
jiwanya. Saya sendiri sangat terkesan dengan seorang sopir bis malam
ketika mau menghidupkan mesin bus dan memberangkatkan lebih dahulu
membuat tanda salib dan berdoa; kiranya sang sopir mohon keselamatan
dalam perjalanan sehingga semua penumpang selamat sampai tujuan.
Sedikit banyak kita bagaikan sopir yang sedang menjalankan bus ketika
sedang belajar atau bekerja, maka baiklah kita tandai diri kita dengan
tanda salib sebelum belajar atau bekerja agar sukses dan selamat dalam
belajar dan bekerja.
•       ‘Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa
Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang
harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Fil 2:5-8), demikian
nasihat atua saran Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua
yang beriman kepada Yesus Kristus, Yang Tersalib. Percaya kepada Yang
tersalib memang harus hidup dan bertindak dengan rendah hati. “Rendah
hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan
menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain.
Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan
diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal
24). Secara pasif (namun secara implisit juga aktif) rendah hati
kiranya dapat diartikan sebagai sikap yang senantiasa siap sedia dan
rela untuk di….(=dinasihati, dibimbing, dituntun, ditegor, dikasihi,
diejek, dst..), namun demikian tak akan pernah mengeluh atau
menggerutu sedikitpun. Dengan kata lain keutamaan rendah hati pada
masa kini kiranya dapat kita hayati dengan tidak pernah mengeluh atau
menggerutu meskipun harus melaksanakan tugas atau kewajiban berat yang
sarat dengan tantangan, masalah maupun hambatan. Orang menyikapi dan
menghadapi tantangan, masalah dan hambatan sebagai wahana pendewasaan
atau penggemblengan diri menuju ke kedewasaan hidup yang cerdas
beriman. Kami berharap kepada siapapun yang beriman kepada Yesus Yang
Tersalib ketika merasa berat dan lelah dalam melaksanakan tugas atau
kewajiban, maka pandanglah sejenak Dia yang tergantung di kayu salib
untuk mohon kekuatan dan pendampingan dalam melaksanakan tugas atau
kewajiban.
“Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik
dan mengingini Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu
mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka. Tetapi
mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka
membohongi Dia. Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak
setia pada perjanjian-Nya”

( Mzm 78:34-37) Ign 14 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: