14 jan – 1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45

Posted on

“Orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru”

(1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45)

 

“Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru” (Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena belas kasihanNya terhadap mereka yang menderita sakit serta dengan cepat mampu menyembuhkan mereka yang sakit, maka banyak tergerak datang kepadaNya untuk mohon penyembuhan. Pengalaman ini kiranya baik menjadi refleksi atau bahan mawas diri bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan kesehatan, entah secara pribadi maupun organisatoris. Secara pribadi misalnya dokter yang praktek pelayanan di rumah, para dukun, sedangkan secara organisatoris adalah rumah sakit, poliklinik dst.. Pertanyaan yang baik kami angkat adalah “Apakah banyak orang datang minta pelayanan untuk disembuhkan?”. Pelayanan anda akan menarik dan menggerakkan banyak orang untuk datang berobat atau mohon penyembuhan melalui pelayanan anda, jika mereka menerima pelayanan baik serta cepat sembuh dari penyakitnya. Untuk itu memang perlu diperhatikan sikap mental mereka yang terlibat dalam proses penyembuhan, misalnya para dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya serta lingkungan hidup tempat pelayanan, entah rumah atau rumah sakit. Para dokter hendaknya dengan cermat mendiagnose penyakit pasien, sehingga proses penyembuhan, entah dengan memberi obat dll. dapat terlaksana dengan cepat dan tepat. Para pembantu dokter, entah perawat atau tenaga medis lainnya hendaknya dengan lembah lembut dan ramah dalam melayani pasien, sedangkan lingkungan rumah sakit atau tempat pasien dirawat hendaknya bersih, nyaman dan enak, sehingga pasien dan keluarganya merasa puas dan gembira. Ketepatan, keramahan dan lingkungan hidup yang baik rasanya akan memberi dukungan penyembuhan lebih cepat bagi pasien, dan dengan demikian banyak orang akan datang minta diobati atau disembuhkan dari penyakit mereka.

·   Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar” (1 Sam  4:5). Bersama dengan Tuhan orang Israel dapat mengalahkan orang-orang Filistin. Baiklah pengalaman ini kita refleksikan, tentu bukan dalam perang dengan saudara-saudari kita atau orang lain, melainkan perang melawan kejahatan dan aneka macam godaan setan maupun aneka macam jenis penyakit yang marak di sana-sini, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh. Segala macam bentuk kejahatan maupun penyakit bersumber dari setan atau roh jahat, maka mereka yang berbuat jahat maupun menderita sakit hemat saya kurang atau tidak bersama dan bersatu dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Jika dalam hidup sehari-hari kita bersama dan bersatu dengan Tuhan, maka kita akan senantiasa dalam keadaan sehat dan segar bugar serta mampu mengalahkan aneka kejahatan dan penyakit. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa berbuat baik atau berbudi pekerti luhur, dan secara konkret berarti taat dan melaksanakan melaksanakan atau menghayati janji yang pernah diikrarkan serta aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan janji tersebut. Sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya setia pada janji baptis, sebagai suami-isteri hendaknya setia pada janji perkawinan, sebagai biarawan-biarawati hendaknya setia pada trikaul, dst.. Orang baik, berbudi pekerti luhur dan setia pada janji yang pernah diikrarkan pasti akan menggetarkan lingkungan, artinya mengingatkan sesama akan Tuhan yang telah menciptakan dan mendampingi mereka dalam perjalanan hidup maupun pelaksanaan aneka tugas pengutusan atau penghayatan panggilan. Kami ingatkan juga bagi kita semua hendaknya tidak melupakan hidup doa dalam kegiatan, kesibukan dan pelayanan kita sehar-hari.

 

“Engkau membuat kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala…Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami” (Mzm 44:14-15.24-25)

Jakarta, 14 Januari 2010  

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.