13 mei

“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu”
(Kis 19:1-8; Yoh 16:29-33)
” Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang
berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu,
bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya
kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari
Allah."Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang? Lihat,
saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan
masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang
diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya
itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku.
Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku
telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Setia dalam hidup beriman di dunia masa kini memang tak akan pernah
terlepas dari aneka penderitaan, tantangan dan masalah, mengingat dan
memperhatikan kemerosotan moral masih terjadi di hampir seluruh bidang
kehidupan bersama. Hidup seenaknya hanya mengutamakan kepentingan dan
keperluan pribadi marak di sana-sana sehingga melakukan tindakan
korupsi enak saja tidak, merasa bersalah. Maka dengan ini kami
berharap kepada segenap umat beriman untuk tetap setia dalam
penghayatan iman, teguh hati meskipun harus mengalami penderitaan,
dengan kata lain hendaknya penderitaan mendorong dan memotivasi kita
semakin teguh dan tegar dalam penghayatan iman. Marilah kita meneladan
Yesus, Guru dan Tuhan kita, meskipun harus menderita sengsara,
memanggul salib, disiksa dan disalibkan, tetap setia dan teguh
melaksanakan panggilan sebagai Penyelamat Dunia. Pada masa kini
korupsi memang masih merupakan tantangan berat yang harus kita hadapi
dan berantas. Memberantas korupsi antara lain dapat dimulai di
sekolah-sekolah dengan memberlakukan ‘dilarang menyontek’ bagi para
peserta didik baik dalam ulangan maupun ujian. Membiarkan atau memberi
kemungkinan menyontek dalam ulangan dan ujian sekolah berarti
mempersiapkan koruptor-koruptor masa depan. Tentu saja kami juga
mendambakan para orangtua untuk sedini mungkin mendidik dan
membiasakan anak-anaknya hidup dan bertindak jujur dalam hidup di
dalam keluarga. Ciptakan budaya malu jika tidak jujur. Usaha
mencerai-beraikan orang-orang yang sungguh beriman dengan aneka cara
pasti akan kita hadapi, dan jangan terkejut jika hal itu terjadi;
tetaplah teguh dalam penghayatan iman. Kami berharap siapapun yang
berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, ketabahan dan keteguhan
dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan karena
bertindak jujur.
•       “Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah
daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya
beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima
Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” (Kis 19:1-2), demikian
pertanyaan Paulus kepada umat di Efesus. Pertanyaan ini kiranya juga
terarah kepada kita semua, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus
dan telah menerima Sakramen Inisiasi (Baptis, Krisma/Penguatan dan
Komuni/ Ekaristi Kudus). Secara liturgis atau formal kiranya telah
menerima anugerah Roh Kudus, namun secara konkret kiranya boleh
dipertanyakan: apakah kita telah hidup dan bertindak sesuai dengan
bisikan dan dorongan Roh Kudus, melaksanakan sabda Yesus serta
meneladan cara hidup dan  cara bertindakNya dimana pun dan kapan pun,
dalam situasi dan kondisi apapun. Sebagai gembala umat kami harapkan
meneladan Paulus bertanya kepada umat Allah apakah telah hidup dan
bertindak sesuai dengan dorongan dan kehendak Roh Kudus. Jika belum
hendaknya umat dibimbing dengan rendah hati untuk hidup dan bertindak
sesuai dengan dorongan dan kehendak Roh Kudus. Para gembala umat kami
harapkan meneladan Paus kita, Fransiskus, hidup dan bertindak
sederhana dalam melayani umat serta memperhatikan mereka yang miskin
dan berkekurangan. Dari mereka yang miskin dan berkekurangan kiranya
kita juga dapat belajar aneka keutamaan dan nilai kehidupan, sebagai
buah Roh Kudus, misalnya ketabahan dan keteguhan hati dalam
penderitaan, kekurangan dan kemiskinan. Jauhka aneka cara hidup dan
cara bertindak yang memberi kesan bermewah-mewah dan berfoya-foya
dalam kehidupan.
“Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang
membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.Seperti asap hilang
tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang
fasik binasa di hadapan Allah.Tetapi orang-orang benar bersukacita,
mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan
bersukacita.Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya”
 (Mzm 68:2-5a)
Ign 13 Mei 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.