13 Juli – es 7:1-9; Mat 11:20-24

“Tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

(Yes 7:1-9; Mat 11:20-24)

 

“Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu." (Mat 11:20-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pertumbuhan dan perkembangan kota-kota pada umumnya diwarnai atau ditandai juga oleh aneka masalah sosial serta munculnya berbagai jenis kejahatan. Demikian juga dengan Negara, jika warganya kurang bermoral maka ketika Negara makin makmur dan sejahtera secara ekonomis berbagai bentuk kejahatan juga makin marak, misalnya judi, pelacuran, korupsi, dst.. Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Semarang, Surabaya, Denpasar dst.. semakin menghadapi banyak masalah sosial dan moral. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak seluruh warga kota-kota besar untuk mawas diri: apakah sebagai warga kota kita semakin beriman, berbakti kepada Tuhan, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia atau sebaliknya, semakin tak beriman, tak bermoral, bermusuhan, egois, dst..??  Di kota-kota besar apa-apa ada, yang baik dan yang jahat, yang mulia dan yang remeh, yang suci dan berdosa, yang kaya dan miskin, yang pandai dan bodoh, dst.. Sebagai warga kota kita semua diharapkan semakin bermoral, baik, dan berbudi pekerti luhur jika kita semua mendambakan hidup selamat, damai sejahtera, aman sentosa lahir maupun  batin, jasmani maupun rohani. Kota-kota yang dikutuk oleh Yesus memang menjadi kenyataan: pada masa itu adalah kota besar dan saat ini tinggal puing-puing bangunan berserakan. Kota-kota dimana kita tinggal pada saat ini pada suatu saat juga tinggal puing-puing bangunan jika kita tidak bertobat, memperbaharui diri terus menerus sehingga semakin beriman, dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Marilah kita tinggalkan warisan kepada anak-cucu kita sesuatu yang indah, baik, luhur dan mulia.

·   Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya” (Yes 7:: 4), demikian firman Tuhan kepada raja Ahas melalui nabi Yesaya.  Keteguhan dan ketenangan hati memang dibutuhkan dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Kutipan di atas kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi bagi para pemimpin atau kepala dalam bidang pelayanan atau pekerjaan apapun: apakah anda memiliki hati yang teguh dan tenang? Keteguhan hati dibutuhkan dalam rangka mempertahankan apa yang baik, luhur, mulia dan indah, sedangkan ketenangan hati dibutuhkan dalam menghadapi aneka tantangan, bambatan, ancaman maupun masalah. Orang yang berhati teguh dan tenang pada umumnya akan bersikap mendengarkan dan kemudian berreaksi atas apa yang didengarkan sesuai dengan kehendak Tuhan, dengan kata lain reaksinya berbuah kebaikan-kebaikan. Memang tidak hanya mendengarkan saja, tetapi ketika berreaksi mengambil keputusan atau kebijakan sungguh tegas dan meyakinkan. Untuk mengusahakan hati teguh dan tenang antara lain orang harus setia pada imannya yang berarti tidak melupakan hidup doa, berrelasi dengan Tuhan. Ketika orang terbiasa berdoa atau berrelasi dengan Tuhan dengan baik dan benar maka yang bersangkutan senantiasa merasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, dan dengan demikian memiliki keyakinan bahwa ia selalu mampu mengatasi aneka macam tantangan, hambatan dan masalah. “Tuhan memanggil, Tuhan mengutus, Tuhan membekali” itulah keyakinan iman orang yang senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan atau memiliki hati yang teguh dan tenang.  Kami berharap para orangtua dapat menjadi contoh atau teladan dalam hal keteguhan dan ketenangan hati bagi anak-anaknya.

 

“Besarlah TUHAN dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar. Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng. Sebab lihat, raja-raja datang berkumpul, mereka bersama-sama berjalan maju; demi mereka melihatnya, mereka tercengang-cengang, terkejut, lalu lari kebingungan.” (Mzm 48:2-6)

       

Jakarta, 13 Juli 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.