13 Jan – Ibr 3:7-14; Mrk 1:40-45

“Kalau Engkau mau Engkau dapat mentahirkan aku”

(Ibr 3:7-14; Mrk 1:40-45)

 

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru”(Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mereka yang sedang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh pasti mendambakan agar segera sembuh dari penyakitnya. Penyembuhan dari sakit tergantung dari tiga factor atau unsur, yaitu : kemauan/kehendak si penderita sakit, penyembuh/dokter bersama dengan obat atau nasihatnya serta lingkungan hidup si pasien alias sikap para perawat maupun saudara-saudarinya. Salah satu kekuatan utama agar cepat sembuh adalah kehendak atau kemauan si pasien atau yang sedang menderita sakit: menyadari diri sedang sakit dan bergairah untuk sembuh. Bagi yang menderita sakit tubuh mungkin hal itu lebih mudah, namun bagi mereka yang sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi kiranya sungguh sulit, karena mereka sulit atau tidak sedia menyadari diri sedang sakit, apalagi dambaan untuk sembuh. Maka dengan ini kami berharap kepada siapapun yang sedang menderita sakit agar tetap bergairah dalam penderitaan atau sakitnya; dan kepada kita semua yang merasa sakit, baiklah kita sadari bahwa ada kemungkinan sedang menderita sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi, maka kami harapkan dengan rendah hati mendengarkan aneka saran, nasihat atau petuah dari orang lain yang melihat dan prihatin bahwa kita sedang sakit. Lingkungan hidup atau perawatan hendaknya dijiwai oleh kelemah-lembutan agar mereka yang menderita sakit cepat sembuh, sedangkan kepada para penyembuh/dokter kami harapkan dengan sepenuh hati membantu penyembuhan bagi mereka yang datang untuk minta disembuhkan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua adalah orang berdosa dan dengan rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan mohon kasih pengampunan atau penyembuhan.  


·   Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa” (Ibr 3:12-13) Kutipan ini kiranya baik menjadi pedoman atau pegangan hidup kita masing-masing sebagai orang beriman. “Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari”, inilah kiranya yang baik kita renungkan dan hayati, yang berarti kita dipanggil untuk saling menasihati dengan rendah hati dan lemah lembut. Ketika sedang menasihati hendaknya dengan lemah lembut dan rendah hati, demikian pula ketika sedang dinasihati. Dengan kata lain marilah kita hayati dan perdalam keutamaan ‘mendengarkan dengan rendah hati’. Kita dengan aneka macam saran, nasihat, petuah, peringatan, kritik, ejekan, pujian dst.. dari orang lain dan kita sikapi sebagai kasih mereka kepada kita yang lemah dan rapuh. Jauhkan aneka bentuk kesombongan dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun. Semoga tidak ada seorangpun di antara kita yang memiliki hati jahat alias senantiasa berpikir dan bersikap jelek atau jahat kepada orang lain, senantiasa mencari kesalahan dan kekurangan orang lain. Kita imani bahwa Allah hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga masing-masing dari kita dipanggil untuk saling mengimani karya Allah dalam diri kita alias senantiasa  melihat apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri saudara-saudari kita. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa berpikiran positif terhadap saudara-saudari kita, agar tidak ada seorang pun di antara kita jatuh sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi mapun sakit tubuh.

 

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku

Mzm 95:6-9)

 

Jakarta, 13 Januari 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.