Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Mg Biasa VI: Sir 15:15-20; 1Kor 2:6-10; Mat 5:17-37


Pada awal tahun ini atau bulan Januari 2011 yang lalu ada sesuatu yang menarik perhatian kita, antara lain perihal ‘Aneka kebohongan’ yang diangkat oleh para tokoh agama serta instruksi presiden untuk mengusut tuntas kasus ‘Gayus’ ( korupsi dan pajak). Apa yang diangkat oleh para tokoh agama membangkitkan semangat para pejuang kebenaran dan keadilan, yang nampak dalam aneka pertemuan para tokoh atau pemuka masyarakat serta ‘posko kebohongan’. Sementara itu kasus ‘Gayus’ menimbulkan gejolak kuat di antara para politisi dan pejabat pemerintahan disamping keraguan sementara orang perihal kesuksesan instruksi presiden tersebut. Dari semuanya itu muncul rumor: menyelesaikan satu masalah dengan menimbulkan masalah-masalah baru, sehingga masalah semakin bertumpuk dan tak tertangani. Semuanya itu terjadi, hemat kami karena ‘hidup keagamaan mereka tidak benar’: mereka terampil dalam omongan namun lemah dan rapuh dalam perilaku. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan sabda-sabda Yesus hari ini

 

“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:22).

 

“Marah” hemat saya merupakan ‘bahasa di tingkat menengah’, sedangkan yang paling lembut adalah mengeluh dan yang paling kasar adalah membunuh. Maka kiranya cukup banyak di antara kita yang mudah mengeluh jika ada sesuai yang tidak berkenan di hati kita atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Mereka yang marah atau mengeluh hemat kami tidak perlu dihukum sudah terhukum dengan sendirinya, antara lain yang bersangkutan akan dijauhi oleh teman-temannya, ia telah memboroskan waktu dan tenaga yang tidak ada gunanya. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang mudah marah atau mengeluh untuk segera bertobat atau memperbaiki diri secepat mungkin.

 

Orang yang mudah marah atau mengeluh hemat saya berpedoman pada ‘like and dislike’ = suka atau tidak suka, bukan sehat atau tidak sehat. Hendaknya berpedoman bahwa apa yang sehat dinikmati saja, meskipun tidak enak atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Kebiasaan berpedoman pada apa yang sehat ini hendaknya sedini mungkin ditanamkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua atau bapak-ibu. Hal yang biasa dan mungkin sulit adalah makanan atau minuman;jika orang mengalami kesulitan dalam hal makan artinya hanya menikmati apa yang sesuai dengan selera pribadi pada umumnya akan mudah marah atau mengeluh. Ingat dan hayati enak dan tidak enak dalam hal makanan atau minuman itu hitungannya hanya detik, yaitu di lidah. Maka jika makanan atau minuman dirasa tidak nikmat atau enak di lidah namun sehat, hendaknya langsung telan saja, karena Tuhan telah menganugerahkan mesin pengolah yang canggih dalam usus kita.

 

Kami juga mengingatkan perihal pergaulan dengan sesama manusia. Marilah kita renungkan sapaan atau ajakan Paulus ini, yaitu: “yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (1Kor 2:7). Yang sering membuat kita marah dalam pergaulan antara lain apa yang diomongkan atau dibicarakan, yang mungkin terasa keras dan pedas. Marilah kita lihat apa yang di balik omongan atau pembicaraan tersebut, yaitu kehendak baik. Dengan kata lain marilah kita lihat dan imani kehendak baik dari saudara-saudari kita agar kita tidak mudah marah atau mengeluh. Kehendak baik merupakan kehendak Tuhan yang menggema melalui omongan atau pembicaraan.   

 

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”(Mat 5:2-28)

Memandang perempuan dan menginginkannya”  pada umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki hidung belang alias mereka ingin menjadikan sang perempuan sebagai obyek nafsu seksualnya. Setiap manusia diciptakan oleh Allah sebagai gambar atau citra Allah dan manusia merupakan ciptaan terluhur atau termulia di dunia ini, maka kita dipanggil untuk saling menghormati, meluhurkan dan memuliakannya tanpa pandang bulu, jenis kelamin atau SARA.

 

Pertama-tama saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan perempuan, entah masih gadis atau sudah menjadi ibu/isteri, untuk tidak menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga merangsang kaum laki-laki tergerak untuk berbuat dosa atau jahat. Hendaknya berpakaian pantas dan sederhana, pendek kata cara berpakaian jangan sampai merangsang gairah seksual kaum laki-laki, yang bukan suaminya atau pasangan hidupnya. Yang merangsang pada umumnya tidak kelihatan dan mungkin hanya terlihat samar-samar saja. Kepada rekan-rekan laki-laki kami berharap: ketika melihat rekan perempuan yann cantik, mempesona dan menarik hendaknya tergerak untuk bersyukur kepada dan memuji Allah, karena karya ciptaanNya yang indah, luhur dan mulia itu.  

 

 

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat ” (Mat 5:37).

Sabda ini mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak jujur. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 17). Kami angkat lagi kutipan perihal jujur ini mengingat dan memperhatikan kebohongan semakin menjadi-jadi dalam kasus penanganan kasus Bank Century maupun “Gayus”.  Para elite politik atau pejabat pada umumnya sekali berbohong akan terus berbohong dan kebohongannya semakin kentara.

 

Kejujuran hendaknya sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan diperdalam serta diperkembangkan di sekolah-sekolah. “Kejujuran terhadap orang lain, terhadap lembaga, terhadap masyarakat, terhadap diri sendiri” (Linda & Richard Eyre: Mengajarkan Nilai-Nilai kepada Anak, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 1997, hal 3),itulah aneka bentuk kejujuran yang hendaknya dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak. Mungkin pertama-tama adalah ‘jujur terhadap diri sendiri’, karena ketika orang dapat jujur dengan diri sendirinya dengan mudah ia akan jujur terhadap yang lain. Hendaknya orangtua dan guru dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran terhadap diri sendiri bagi anak-anak dan peserta didik.

 

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!”

 (Mzm 119:1-2.4-5)

 

Jakarta, 13 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.