13 Des – Bil 24:2-7.15-17a; Mat 21:23-27

"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal itu?”

(Bil 24:2-7.15-17a; Mat 21:23-27)

 

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mat 21:23-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Lusia, perawan dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup sebagai perawan alias tidak menikah pada masa kini pada umumnya menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang, demikian juga perihal panggilan hidup imam, bruder dan suster. “Mana mungkin orang hidup tidak menikah di masa orang-orang gila akan kehidupan seks?”, begitulah pertanyaan yang sering muncul dalam hati orang. Senada dengan hal itu adalah senantiasa hidup dalam pengharapan dalam situasi dan kondisi apapun serta dimanapun. Mereka yang terpanggil hidup tidak menikah dapat menjadi tanda pengharapan akan kehidupan mulia masa depan di sorga setelah dipanggil Tuhan, dengan kata lain mengingatkan perihal kehidupan ilahi, yang telah dapat dinikmati masa kini. St.Lusia yang kita kenangkan hari ini adalah gadis cantik yang dilamar oleh seorang pemuda kaya untuk menjadi isterinya, namun menolak karena ia ingin memper-sembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, hidup tetap perawan demi Kerajaan Allah. Kami tidak berkeinginan pada anda sekalian untuk meneladannya secara  konkret, artinya hidup tidak menikah demi Kerajaan Allah, melainkan mengajak anda sekalian untuk menjaga kemurnian diri, lebih-lebih dalam hal kehidupan seksual. Kepada rekan muda-mudi kami ingatkan dan ajak untuk terjebak pada pergaulan seks bebas alias mengadakan hubungan seksual sebelum menikah, sedangkan kepada para suami-isteri kami ajak untuk setia pada pasangan masing-masing alias tidak selingkuh dengan orang lain dan kepada rekan imam, bruder dan suster kami ajak untuk dapat menjadi saksi persembahan diri total kepada Tuhan melalui pelayanan bagi sesamanya.


·   Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.” (Bil 24:17). Kutipan ini adalah ramalan perihal kedatangan Penyelamat Dunia yang kita nantikan bersama. Penyelamat Dunia akan datang untuk menyelamatkan seluruh dunia, maka segala sesuatu yang menghancurkan dunia seisinya akan dihancurkan atau dihabisi, misalnya akar peperangan, permusuhan, kebencian, dst… Penyelamat Dunia adalah pembawa damai sejahtera bagi semua bangsa di dunia, apapun dan siapapun yang mengganggu perdamaian dunia harus dibasmi sampai tuntas. Maka baiklah kita yang sedang mempersiapkan kedatanganNya kami ajak untuk berpartisipasi dalam hal penyelamatan dunia seisinya atau perdamaian dunia. Pertama-tama dan terutama hal itu kiranya harus kita hayati dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing, antar anggota keluarga atau komunitas. Mengapa? Karena jika kita di dalam keluarga atau komunitas memiliki pengalaman dan keterampilan saling mengasihi dalam rangka membangun hidup damai sejahtera, maka dengan mudah kita memperjuangkan atau mengusahakan damai sejahtera dalam kehidupan yang lebih luas, misalnya di masyarakat atau tempat kerja kita masing-masing. Memang damai sejahtera dapat terwujud karena anugerah atau rahmat Tuhan, dengan kata lain dalam mengusahakan damai sejahtera hendaknya kita senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan. Biarlah orang bertanya-tanya: “Dengan kuasa manakah anda mengusahakan damai sejahtera di tengah hidup yang diwarnai egoisme, pertentangan dan kebencian saat ini”. Jika pertanyaan ini jujur keluar dari kedalaman lubuk hatinya berarti mereka sungguh mendambakan damai sejahtera.

 

“Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (Mzm 25:4-8)

Jakarta, 13 Desember 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.