13 Agt

Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka”

(Yeh 1:2-5.24-2:1a; Mat 17:22-27)
“Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup sebagai warganegara memang terikat oleh aneka tata tertib dan aturan serta harus melaksanakan-nya sebaik dan seoptimal mungkin. Salah satu tata tertib atau aturan yang secara umum berlaku di seluruh dunia adalah ‘kewajiban membayar pajak’. Salah satu yang menjadi dukungan kemajuan dan perkembangan hidup warganegara adalah ketertiban dan kedisiplinan pembayaran dan pengelolaan pajak. Mayoritas pemasukan anggaran pendapatan suatu Negara berasal dari pembayaran pajak, dan jumlah dana pajak yang masuk difungsikan untuk aneka pelayanan bagi warganegara. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus bersama para rasul setia membayar pajak agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Maka kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk setia membayar pajak, dan tentu saja para pengurus dan pengelola pajak juga melaksanakan tugas dan fungsinya sebaik dan sejujur mungkin, tidak melakukan korupsi sedikitpun. Maklum jika dicermati para pengurus dan pengelola pajak di negeri kita tercinta ini tidak jujur dan dampaknya para wajib pajak pun juga mangkir untuk membayar pajak atau kong-kalingkong dengan petugas pajak. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam kewajiban membayar pajak, dan para petugas, pegawai dan pengurus jujur dalam menjalankan tugasnya. Ingatlah dan sadari bahwa tindakan korupsi para petugas dan pengelola pajak telah menjadi batu sandungan banyak warganegara untuk membayar pajak seenaknya. Para pegawai negeri atau pemerintahan kami harapkan juga dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, karana imbal jasa atau gaji bagi anda sekalian berasal dari rakyat, dan hendaknya sungguh berusaha untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Pajak berasal dari rakyat dan harus kembali kepada rakyat dalam aneka bentuk pelayanan bagi rakyat.
·   “Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman” (Yeh 1:28). “Busir pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan” memang begitu indah, mempesona dan menarik. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak bagaikan ‘busur pelangi’ tersebut, dengan kata lain dimanapun dan kapanpun cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa indah, mempesona, menarik dan memikat orang lain serta tidak pernah menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan. Para gadis atau perempuan, terutama yang belum menikah dan berusaha mencari jodoh atau pasangan hidup, pada umumnya berusaha menghadirkan sedemikian  rupa sehingga menarik, mempesona dan memikat laki-laki yang didambakan menjadi jodoh atau pasangan hidupnya. Semoga hal itu tidak menjadi batu sandungan bagi rekan-rekan laki-laki untuk berpikiran serta melakukan yang jahat atau berdosa. Kami berharap apa yang menjadi daya pesona, daya tarik dan daya pikat buka hanya penampilan hal duniawi atau fisik belaka, tetapi terutama dan pertama-tama adalah yang terkait dengan hal rohani atau spiritual, dengan kata lain tunjukkan bahwa anda adalah pribadi yang baik, suci dan berbudi pekerti luhur, sehingga orang yang terpesona, tertarik dan terpikat pada diri anda menjadi semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan alias semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Biarlah apa yang mempesona, menarik dan memikat dalam diri kita adalah sesuatu yang menunjukkan kemuliaan Tuhan.
Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!”(Mzm 148:1-2)
Ign 13 Agustus 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: