12 Spt

“Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai”
(1Tim 2:1-8; Luk 7:1-10)

” Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia
ke Kapernaum.Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba,
yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang
tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan
menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat
mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,
sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan
rumah ibadat kami." Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka.
Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh
sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah
bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang
kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan
sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula
prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!,
maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang,
ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil
berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku
berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun
di antara orang Israel!" Dan setelah orang-orang yang disuruh itu
kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.” (Luk
7:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Sehat dan sakit serta sembuh dari penyakit memang erat kaitannya
dengan beriman atau tidak beriman. Orang yang sungguh beriman pada
umumnya senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat serta jarang sakit,
dan sekiranya harus menderita sakit maka yang bersangkutan juga dengan
cepat akan segera sembuh dari penyakitnya. Mungkin tidak ada seorang
pun di antara kita yang senantiasa dalam keadaan sehat secara utuh,
artinya secara jasmani dan rohani, phisik dan spiritual, dengan kata
lain kita semua sedang menderita sakit, meskipun tidak parah.  Maka
marilah kita mawas diri apakah kita memiliki iman sebagaimana dimiliki
oleh seorang perwira yang dengan rendah hati menghadap Yesus untuk
mohon penyembuhan bagi hambanya yang sedang menderita sakit.  Beriman
berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan
demikian mau tak mau harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak
Tuhan, setia pada aneka macam janji yang telah diikrarkan. Karena
imannya yang begitu besar maka sabda Yesus dapat menyembuhkan hambanya
yang sedang menderita sakit keras. Sabda Yesus memang mahakuasa dan
mahakuat, maka siapapun yang percaya kepada sabda-sabdaNya artinya
kemudian langsung menghayatinya di dalam hidup sehari-hari maka yang
bersangkutan pasti akan sehat wa’afiat lahir dan batin serta sekiranya
sedang menderita sakit akan segera sembuh. Kepada kita yang sedang
menderita sakit marilah kita hayati sabda Tuhan yang menjadi nyata
dalam aneka saran, nasihat atau ajakan dalam rangka penyembuhan
penyakit kita. Konkretnya sekiranya anda sedang menderita sakit dan
berbaring di rumah sakit, hendaknya mentaati dan melaksanakan aneka
saran, nasihat dan ajakan dokter maupun perawat.  Ketaatan pada
perintah, nasihat dan saran dokter maupun perawat di rumah sakit bagi
yang sedang menderita sakit juga merupakan salah satu bentuk
kerasulan. Maka selain mentaati dan melaksanakan perintah, nasihat dan
saran tersebut, hendaknya selama menderita sakit senantiasa berdoa,
sesuai dengan dambaan dan kerrinduannya agar segera sembuh dari
penyakit.
•       “Karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa
dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa
perselisihan.” (1Tim 2:8), demikian peringatan Paulus kepada orang
laki-laki melalui Timotius. Mengapa peringatan ini diarahkan secara
khusus kepada orang laki-laki? Pengamatan saya orang laki-laki pada
umumnya malas berdoa, dan lebih rajin rekan-rekan perempuan. Maka
benarlah kata-kata dalam sebuah lagu “Kasih ibu kepada beta tak
terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang
surya menyinari dunia”. Kami percaya ibu/simbok kita, entah masih
hidup atau sudah meninggal dunia senantiasa berdoa bagi kita semua
anak-anaknya dengan dengan rendah hati. Hendaknya rekan-rekan
laki-laki atau bapak dengan rendah hati belajar berdoa kepada
rekan-rekan perempuan/ibu. Paulus mengingatkan kita agar berdoa dengan
menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.
Memang aneh jika orang sedang berdoa sambil marah-marah kepada
saudara-saudarinya. Berdoa berarti dengan rendah hati mengarahkan
diri seutuhnya kepada Tuhan, seraya mendengarkan sabda-sabdaNya atau
bisikan-bisikanNya, yang antara lain menggema dalam hati. Untuk itu
juga butuh ketenangan dan keheningan selama berdoa. Mungkin di dalam
keluarga anda sulit menemukan saat dan tempat hening sendirian, tetapi
hemat saya ada, yaitu toilet/kamar mandi, dimana anda sendirian dan
tak akan diganggu orang lain, maka manfaatkan kesempatan tersebut
sambil buang air besar/kecil serentak mawas diri dan berdoa.
” TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya.
Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku
bersyukur kepada-Nya. TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng
keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu
dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah
mereka untuk selama-lamanya.” (Mzm 28:7-9)

Ign. 12 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.