"HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini"
(Kej 3:9-24; Mrk 8:1-10)

"Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta." (Mrk 8:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini." (Mrk 8:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Hati adalah pusat seluruh kepribadian manusia, maka orang sakit hati pada umumnya yang bersangkutan rapuh kepribadiannya, sebaliknya hati yang terbuka bagi sesamanya membahagiakan dan menyelamatkan, sebagai Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang kelaparan. Kiranya di lingkungan hidup kita masih ada yang kelaparan, entah secara phisik maupun spiritual, maka baiklah kita buka hati kita bagi mereka yang sedang kelaparan. Dengan kata lain marilah kita hayati, perdalam dan sebarluaskan `kepedulian kita kepada orang lain, terutama bagi mereka yang miskin, menderita atau kelaparan'. Marilah `to be man or woman with/for others'. Pertama-tama dan terutama marilah kita sadari dan hayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui orang lain, mereka yang telah berbuat baik kepada kita, membantu kita atau hidup dan bekerja bersama dengan kita. Sendirian saja kita tak dapat berbuat apa-apa. Allah menghendaki agar harta benda atau aneka kekayaan yang kita miliki dihayati dan digunakan dengan semangat sosial, dengan kata lain harta benda atau aneka kekayaan pada dasarnya berfungsi sosial. Kami berharap semakin kaya akan harta benda, semakin pandai/cerdas, semakin berkedudukan berarti juga semakin sosial. Sebagai warga Negara Indonesia marilah kita hayati dan usahakan bersama sila kelima dari Pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh bangsa".
•    "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"(Kej 3:11), demikian firman Allah kepada Adam, manusia pertama. Mendengar pertanyaan tersebut Adam menuduh Hawa, isterinya, dan ketika isterinya ditanyai oleh Allah ia menuduh ular yang mempedayakannya. Saling melempar tanggungjawab dan akhirnya dilempar ke binatang yang tidak dapat menjawab itulah yang terjadi. Dalam kehidupan kita bersama hal itu juga sering terjadi, misalnya orang marah terhadap orang tertentu tidak berani langsung memarahi, melainkan merusak atau menghancurkan harta benda miliknya atau kesayagannya, atau ada orang marah kemudian membanting pintu atau menutup pintu keras-keras, menendang binatang piaraannya yang tidak bersalah, dst… Saling menyalahkan dan menuduh yang demikian itu juga terjadi di dalam pengadilan dalam rangka mengusahakan kebenaran. Jika kita perhatikan proses pengadilan sungguh mahal, gara-gara orang tidak pernah berani berterus terang mengakui kesalahan atau kelemahannya. Maka baiklah dengan ini kami mengajak kita semua untuk dengan rendah hati dan jujur berani mengakui kesalahan atau kekurangan kita masing-masing, tanpa menutupi atau mengalihkan perhatian, dst..  Secara khusus kami berharap kepada para penegak atau pejuang kebenaran untuk setia pada tugas pengutusannya, tidak melempar tanggunjawab kepada orang lain. Tanggungjawab ini hemat saya sedini mungkin perlu dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga, antara lain dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu. Orangtua atau bapak-ibu hendaknya tidak malu mengakui kesalahan dan kelemahannya dihadapan anak-anaknya. Jika kita sungguh bertanggungjawab, maka meskipun kita `telanjang' tak akan malu sedikitpun.

"Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu"
(Mzm 90:2-6).

Jakarta, 12 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.