12 Feb – 1Raj 11:29-32; 12:9; Mrk 7:31-37

“Terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya”

(1Raj  11:29-32; 12:9; Mrk 7:31-37)

 

“Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:31-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang bisu tuli memang mengalami kekurangan-kekurangan: ia tidak dapat mendengarkan, padahal mendengarkan merupakan salah satu indera dan keutamaan yang penting demi pertumbuhan dan perkembangan kita, sedangkan bisu berarti tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas.  Dengan kata lain orang bisu tuli mengalami kekurangan dalam hal menerima dan memberi. Mungkin kita tidak bisu tuli secara phisik, melainkan bisu tuli secara spiritual karena kedegilan, ketertutupan hati dan budi kita, karena kedamblegan atau egoisme kita, sehingga kita kurang memberikan diri bagi yang lain alias kurang sosial dan juga kurang kaya akan berbagai informasi dan keutamaan-keutamaan, yang mendewasakan dan mencerdaskan. Marilah kita sadari kebisuan dan ketulian kita dan kemudian dengan rendah hati siap sedia untuk dibawa orang lain untuk dididik dan dibina. Kita buka hati, budi dan jiwa kita; untuk itu memang kita harus siap sedia untuk berubah. Ingatlah bahwa segala sesuatu di dunia ini terus berubah dan masing-masing dari kita pun terus berubah setiap saat, jam dan hari. Kami harapkan tidak hanya berubah tubuhnya, anggota tubuhnya saja, tetapi juga hati, jiwa dan akal budi. Dengan kata lain hendaknya jangan hanya bangga atas kecantikan atau kegantengan secara phisik melulu!. Hendaknya kita semua siap sedia untuk dididik dan dibina terus menerus, maka dengan kata lain hendaknya kita saling mendidik dan membina, saling asah dan saling asuh.  Kepada mereka yang merasa sehat dan segar bugar kami harapkan tetap rendah hati dan siap sedia untuk terus bertumbuh dan berkembang.

·   "Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku” (1Raj 11:31), demikian kata nabi Ahia kepada Yerobeam  Karena kebisuan dan ketulian hati dan jiwa Salomo, maka terjadilah perpecahan kerajaan. Memang begitulah juga yang terjadi dengan mereka yang tuli secara phisik, yaitu pada umumnya berjalan mengikuti kemauan dan keinginan sendiri, karena tidak dapat mendengarkan yang lain. Tuli secara phisik saja ketika sedang berjalan dapat membahayakan orang lain atau yang bersangkutan dalam keadaan bahaya, apalagi tuli secara spiritual, yang sering ingin berjalan atau melangkah sendiri alias menurut selera pribadi, ‘sak penake wudhele dewe’(Jawa). Mereka yang hanya mengikuti kemauan dan selera pribadi pasti akan terbawa ke perpecahan, entah itu suami-isteri, perusahaan, organisasi, paguyuban dst.. Dengan ini kami berharap dan mendambakan agar anak-anak sedini mungkin dibina dan dididik dalam hal solidaritas, sosial dan kebersamaan hidup dengan yang lain, di dalam keluarga maupun di tempat belajar/sekolah. Hendaknya anak-anak dididik dalam hal ‘bertenggang rasa’, yaitu “sikap dan perilaku yang mampu mengekang keinginan-keinginan dan kepentingan diri sendiri dalam keseimbangan dengan memperhatikan kepentingan orang lain” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman  Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 14).  Kebersamaan hidup di dalam keluarga yang penuh kasih dan pengorbanan hemat saya merupakan modal dan kekuatan untuk membangun kebersamaan hidup yang lebih luas, maka kami berharap keluarga-keluarga atau suami-isteri dapat menjadi contoh dalam hal kebersamaan dan kesatuan.

 

Umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.  Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri! Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku” (Mzm 81:12-15)

 

Jakarta, 12 Februari 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.