11 Sept – 1Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49

“Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya”.

(1Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49)

 

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.""Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Luk 6:43-49), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Barat/Eropah  adalah ‘pemakan’ daging, maka cerdas-cerdas, sedangkan orang-orang Indoneisa adalah ‘pemakan’ rumput, maka ‘bodo koyo kebo’/bodoh seperti kerbau”, demikian rumor atau sindiran yang disampaikan seorang penceramah dalam lokakarya pendidikan. Memang di suhu yang panas ini makan sayur-sayuran lebih nikmat, sedangkan di suhu yang dingin mengkonsumsi daging sungguh penting. Maksud rumor atau sindiran tersebut antara lain adalah soal opsi dalam program pemerintahan, dimana Negara-negara Barat/Eropah pada umumnya opsi program untuk pendidikan cukup besar, sedangkan di Indonesia pendidikan kurang memperoleh perhatian, hal ini nampak dari ‘buah atau hasil’ pendidikan atau sekolah-sekolah. “Setiap pohon dikenal pada buahnya”, demikian sabda Yesus. Para alumni atau konsumen adalah buah-buah pelayanan, maka kwalitas pelayan dapat diketahui pada kwalitas alumni atau pengalaman konsumen. “Pohon’ yang perlu memperoleh perhatian yang baik dan memadai pada hemat saya adalah ‘karya pelayanan pendidikan’ , entah formal maupun informal, di dalam kelurga maupun di sekolah-sekolah atau tempat-tempat kursus. Jika kita mencita-citakan atau mendambakan anak-anak atau generasi muda ketika mereka menjadi dewasa sungguh baik dan cerdas spiritual, maka tidak ada jalan lain selain memperhatikan pendidikan. Kepada para penyelenggara maupun pengelola dan pelaksana pendidikan di sekolah-sekolah kami harapkan sungguh mendidik anak-anak atau peserta dididik yang diserahkan oleh orangtua mereka untuk dididik dan dibina, sehingga selesai belajar mereka menjadi pribadi dewasa yang handal, cerdas beriman dan tidak dapat digoyahkan oleh aneka macam godaan setan atau untuk berbuat jahat.

·   Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan” (1Kor 10:14-15), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Berhala-berhala pada masa kini antara lain menggejala dalam bentuk ‘harta benda/uang, jabatan/kedudukan/pangkat, kehormatan duniawi’, dan rasanya yang paling banyak adalah dalam bentuk ‘harta benda/uang’, sebagaimana sering dikatakan dalam sindiran “UUD” (=Ujung-Ujungnya Duit/uang). Uang memang dapat menjadi jalan ke neraka atau ke sorga; uang akan menjadi jalan ke neraka ketika kita dikuasai oleh uang, dimana kita sudah menjadi orang yang ‘mata duiten, kaki duiten, mulut duiten, dst..’, artinya mau bertindak ketika dibayar atau ada uang. “Menjauhi penyembahan berhala uang” berarti memfungsikan uang sebagai jalan ke sorga, demi keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan jiwa manusia. Maka marilah kita fungsikan uang sesuai dengan ‘maksud pemberi’ (intentio dantis), misalnya uang sekolah difungsikan untuk memajukan, mengembangkan sekolah; uang jalan untuk membeayai perjalanan dst.. , pajak adalah berasal dari rakyat maka uang pajak harus difungsikan demi kesejahteraan rakyat.  Marilah kita fungsikan atau gunakan harta benda atau uang dengan jujur dan disiplin. Kami percaya jika dalam hal yang kelihatan itu dapat jujur dan disiplin, maka akan terjadi kemudahan untuk jujur dan disiplin dalam bidang-bidang yang lain.

 

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya”

 (Mzm 116:12-13.17-18)

 

Jakarta, 11 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.