10 Hari di China: Sejarah Masa Silam Tiongkok di Forbidden City (33)

< ![endif]-->

MEMASUKI areal maha luas Forbidden City (Kota Terlarang) di Beijing, saya merasa hadir di sebuah wahana raksasa –katakanlah semacam museum—yang menyimpan peta politik, konstruksi sosial-budaya masyarakat China pada zaman dulu. Karena itu, sejak awal saya juga ingin memposisikan batin dan kesadaran saya tidak saja sebagai turis biasa, melainkan warga umat manusia dari belahan bumi yang lain (baca: Indonesia) yang ingin tahu bagaimana sebuah bangsa besar bernama Tiongkok pada zaman dulu mempraktikkan sistem kekuasaan politiknya.

Dengan begitu, fokus perhatian saya tidak saja mencermati indahnya aneka bangunan dengan segala pernak-perniknya di halaman luar kompleks bangunan Forbidden City. Lebih dari itu, saya juga tertarik menelisik kilas balik sejarah China masa silam di balik konstruksi fisik berupa gedung, bangunan, arca, ukiran, batu giok, hiasan di atap, warna pintu, dan masih banyak lagi.

Karena itu, saya dan dua teman lainnya yang punya keinginan sama lalu menyempatkan diri mampir di sebuah ruangan –lebih tepat disebut ‘bilik budaya’—dimana dipamerkan sejumlah benda-benda memorabilia peninggalan sejumlah Kaisar China yang terdapat di Forbidden City. Bolehlah dikatakan, ini semacam ‘museum mini’ di tengah hamparan museum mahabesar tentang sejarah China masa silam bernama Forbidden City.

Tahta Kaisar 1 email OK

Memorabilia

Di sebuah ‘bilik budaya’ saya melihat sejumlah pernak-pernik benda purbakala peninggalan zaman dulu, ketika Kaisar China dari Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok. Selain sebuah gambar foto diri Kaisar dalam busana resmi kekaisaran yang digambar oleh seniman Barat, di situ juga tersaji beberapa pernak-pernik benda kuno berkaitan dengan sistem astronomi China yang termashyur.

Juga, beberapa peninggalan kekaisaran China dalam sejarah relasi luar negeri dengan beberapa negara Barat seperti Italia dan Perancis. Sayang sekali, pada beberapa benda penting itu hanya tersaji keterangan dalam bahasa dan huruf ‘kanji’ Mandarin.

Yang menarik tentu saja, kursi singgasana Kaisar Tiongkok di gedung lain.

Benda purbakala di Museum Forbidden City email OK

Tahta kekuasaan Kaisar China muncul dalam bentuk kursi singgasana. Kami tidak bisa melihatnya dari dekat. Belum lagi ada kerumunan orang di pintu masuk, hingga hanya  untuk bisa ‘melongok’ sejenak pun tidak bisa kami lakukan.

Untunglah, saya bawa lensa 80-300mm sehingga saya bisa membidik kursi singgasana itu dengan metode acak: asal jepret dengan sistem manual. Dapat ya syukur, tidak kena objek bidikan ya sudah karena di dalam ruangan itu sangat gelap. Saya tidak tahu posisi singgasana itu persisnya di mana. Yang penting klak-klik saja dan ternyata satu-dua frame jepretan saya kena.

Bisa sedikit membayangkan betapa anggunnya seorang Kaisar China duduk manis di kursi singgasana itu dan mempraktikkan kekuasaannya ke seluruh penjuru Tiongkok. Di atas kursi kayu dengan sedikit alas dari bahan empuk itulah, tangan dan perkataan Kaisar bergaung membahana dan tak seorang pun berani melawan dan apalagi membantahnya.

Museum Forbidden City adalah museum dalam arti sebenarnya.

Bukan memindahkan barang-barang berharga dari sebuah lokasi ekskavasi tertentu ke gedung bangunan baru yang disebut ‘museum’. Melainkan ya di Forbidden City inilah, museum tentang sejarah masa silam China dalam berbagai aspeknya itu terjadi, tersimpan, dan kini tersaji untuk khalayak publik.

Forbidden City plakat museum email ok

Perspektif inilah yang membuat saya menikmati Forbidden City.

Kursi kayu itu tidak saya ‘persepsi’ sebagai benda mati. Ia adalah simbol kekuasaan tanpa batas dan penanda hidup-matinya khalayak di Tiongkok pada zaman itu hanya di satu tangan saja: one-man-show figure yakni Kaisar!

Atap Forbidden City berhiaskan naga email OK

Ukiran pada papan kayu di Forbidden City

Photo credit: Forbidden City/Kota Terlarang di Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.