10 Hari di China: Rickshaw dan Komunisme di China (39)

< ![endif]-->

BERUNTUNGLAH saya sengaja menginap di sebuah lokasi penginapan kelas backpacker di kawasan Dhangzalan Xijie, sedikit di luar Qianmen Street yang termashyur ini. Meski pada musim panas seperti di awal Agustus 2013 kawasan ini terkesan sedikit ‘kumuh’ dan berdebu, namun banyak hal menarik di kawasan permukiman ‘asli’ China di Ibukota Beijing ini menarik diamati.

Yang utama dan terutama tentu saja becak bertenaga manusia khas China: rickshaw.

Selama ini, praktis hanya di layar kaca dan layar lebar saja rickshaw itu bisa terekam oleh pikiran dan benak saya. Saya membayangkan, betapa buruk nian nasib para penarik rickshaw ini karena harus menggeret beban manusia berikut dengan barang-barang bawaannya dengan kekuatan fisik manusia.

Di kawasan Dhangzalan Xijie, saya melihat panorama tentang rickshaw yang sedikit berbeda. Baik penarik becak bertenaga manusia dan penumpangnya terlihat sama-sama hepi.

Prinsip keseimbangan dan humanisme

Filosofi China sangat berkepentingan dengan konsep harmoni dan keseimbangan. Yang lain adalah humanisme dimana relasi antara manusia dengan masyarakatnya juga menjadi fokus utama dalam sejarah filsafat China.

_MG_8848 menarik rigshaw email ok

Manusia menjadi titik fokus perhatian. Paradigma berpikir ini terjadi pada pola pikir orang-orang Tiongkok pada zaman baheula dulu saat berlangsung terjadi perubahan tampuk pimpinan di Tiongkok dari Dinasti Shang (yang berkuasa di China sejak abad 17 hingga abad 11 SM) ke Dinasti Zhou. Sistem kemasyarakatan juga berubah: dari yang semula bersifat ‘tribal’ dengan konsep primus inter pares menjadi feudal. Terjadi perubahan peradaban yang bergerak maju dari Zaman Tembaga ke Zaman Besi.

Perubahan pola pikir masyarakat ini memaksa para filosof pada zaman itu harus mencari terobosan untuk bisa memaknai zamannya. Orang tidak lagi terlalu mendewa-dewakan leluhur seperti dilakukan Dinast Zhang,  melainkan orang beralih pada ‘kekuatan’ manusia. Maka orang tidak lagi sembahyang minta hujan, melainkan harus berpikir bagaimana bisa ‘mengatur’ dan ‘menciptakan’ air. Maka segera lahirlah konnsep irigasi.

Barangkali karena fokusnya sekarang pada kekuatan manusia, maka dari itu sekali waktu mulai terpikirkan untuk menciptakan moda transportasi unggulan pada zaman itu. Ketika mesin uap dan diesel belum ada, tentu saja kekuatan manusia itu sendiri yang menjadi andalannya selain tenaga hewan seperti kuda untuk mengejar kecepatan dan jarak jauh. Mulai terpikirkan juga  melirik sapi atau kerbau sebagai tenaga penarik beban berat.

Nah, bagaimana soal riickshaw?

Temuan Barat di Jepang?

Tidak jelas darimana tradisi ricksshaw ini bermula. Dalam sebuah artikel dengan judul demonstratif yakni The History of the Rickshaw – Exploitation or Tradition?, Emily Green menulis asal-usul becak tarik dengan tenaga manusia ini. Menurut dia, rickshaw sebenarnya bukan asli dari Tiongkok, melainkan dari Jepang. Berasal dari kata bahasa Jepang jinrikisha, maka rickshaw arti aslinya adalah gerobag dengan tenaga dorong/tarik manusia.

Hutong Street rigshaw backlight email OK

Itu pun, kata Green, ide pertama membuat rickshaw juga bukan datang dari Timur melainkan dari orang Barat. Persisnya adalah seorang misionaris Kristen di Jepang yang tiba-tiba merasa berkepentingan harus bisa membawa istrinya yang tidak bisa berjalan karena cacat  fisik di bagian kaki berjalan-jalan dengan moda transportasi cepat, praktis, dan seketika itu juga bisa dibuat.

Sebuah rickshaw lalu dia ciptakan agar istrinya bisa berjalan-jalan berkeliling kota Yokohama. Kisah ini terjadi pada tahun 1869.

Baru pada tahun 1874, rickshaw ini diekspor konsep pemikiran dan desainnya ke Tiongkok. Sayangnya, dalam tradisi monarkhi di China, becak tarikan dengan tenaga manusia ini lantas dipersepsi sebagai moda transportasi khusus untuk para bangsawan, warga ningrat dan kaum kaya di Tiongkok.

Akibatnya tragis. Ketika Partai Komunis China (PKC) mulai berkuasa di Tiongkok dan kemudian berhasil menggusur era kekuasaan monarkial Kekaisaran China, maka dengan sendirinya semua rickshaw lalu diberangus dari jalanan di Beijing. Mulai dari tahun 1949 –ketika Ketua Mao berkuasa—hingga tahun 1950 saat berlangsung Revolusi Kebudayaan di China, rickshaw pun harus hilang dari jalanan di Beijing dan seluruh kota di China. Pendek kata, rickshaw harus segera dilenyapkan.

Simbol kapitalisme

Ketika Partai Komunis China (PKC) mulai berkuasa di Tiongkok dengan Ketua Mao sebagai penentu jalannya sejarah, maka tak ayal lagi rickshaw dianggap sebagai simbol kapitalisme modern dan contoh paling nyata tentang praktik perbudakan manusia secara eksploitatif dan demonstratif. Jadi nyaris mirip-mirip nasib para abang tukang becak di Jakarta yang pada dua dekade lalu juga dikejar-kejar tramtib dan satpol PP karena dianggap ‘sampah’ jalanan.

Ketika becak mulai dibersihkan dari seluruh gang dan jalanan di Jakarta, saat itu bergaung semangat yang tampaknya membela kemanusiaan manusia dengan slogan: “Becak itu tidak manusiawi, karena menyuruh orang menggenjot roda agar menggelindinglah becaknya yang berisi dua sampai tiga penumpang”.

IMG_8851 rigshaw dengan dua penumpangnya email ok

Meski analogi berpikirnya berbeda, namun kisah rickshaw di China dan becak di Jakarta hampir-hampir mirip. Terutama dalam rationale menggunakan filsafat manusia dan ideologi politik demi sebuah tujuan tertentu.

Becak digusur dari Jakarta karena dianggap tidak manusiawi: mengekspolitasi manusia dan tenaganya dan sangat tidak ilok (pantas) dilihat dalam keramaian lalu lintas. Mosok ada orang bermandi keringat, sementara satu-dua-tiga orang duduk manis di atas penderitaan orang lain yang letih dan berkeringat itu. Karena itu, belakangan lalu muncul becak-becak bermotor untuk menghapus kesan ‘tidak manusiawi’ itu.

Ketua Mao menggusur rickshaw dengan filsafat sosial berhaluan komunisme.

Rickshaw adalah lambang penderitaan manusia, terutama kaum kecil dan berpenghasilan minim. Yang naik rickshaw adalah kaum kaya, ningrat, bangsawan dan punya duit. Jadi, dalam kacamata filsafat politiknya Karl Marx –penggagas komunisme dalam teori dan kemudian mewujudkannya dalam praksis pergolakan sosial—rickshaw adalah simbol paling dramatik dalam sejarah manusia modern di China dimana terjadi l’exploitation de l’homme par l’homme.

Penghisapan tenaga manusia oleh sesamanya sendiri. Begitulah dulu orang-orang Indonesia era Orde Lama sering mengistilahkan tentang fenomena sosial  dimana terjadi penindasan kaum buruh oleh kaum kapitalis.

Agar l’exploitation de l’homme par l’homme itu berhenti, maka Ketua Mao dengan tegas melarang orang di China menggunakan rickshaw sebagai alat trasportasi. Di Tiongkok, becak tarik dengan tenaga manusia ini mulai berkurang seiring dengan berkuasanya PKC. Sementara, di India keberadaan rickshaw tetap  eksis namun tak seberapa lama kemudian juga beringsut hilang dari peredaran di jalanan.

Hanya di kawasan Calcutta atau kini Kolkata, rickshaw made in India yang bernama wallah masih terlihat di jalan-jalan sempit di kota yang menjadi terkenal berkat Mother Teresa dari Kalkutai.

Rickshaw pertama kali terlihat di jalanan India terjadi pada tahun 1880 dan baru dua dekade berikutnya mulai muncul di jalanan di Kalkuta. Sekarang ini, rickshaw masih banyak ditemukan di jalanan di Bihar –negara bagian India yang kuno terhitung paling mlarat.

Rickshaw di Beijing

Tak banyak tempat di Ibukota Beijing masih menyisakan pemandangan eksotik tentang moda transportasi era pemerintahan monarki ini. Namun di kawasan Dhangzalan Xijie di pinggiran Qianmen Street, rickshaw masih sering bersliweran wira-wiri di sini. Fungsinya masih tetap sama yakni sebagai moda transportasi manusia.

Seperti saya ungkapkan diatas, filsafat China sangat menghargai konsep harmoni dan keseimbangan.

_MG_8850 rigshaw menarik email ok

Setiap kali saya melihat rickshaw, fokus perhatian saya bukan pada penarik atau penumpangnya. Saya lebih suka melihat konstruksi fisik moda transportasi yang sangat mengandalkan tenaga manusia ini. Saya melihat di situ ada konsep keseimbangan yang sangat sempurna.

Seakan mengikuti hukum fisika dimana beban berat itu harus ‘dibagi’ rata antara bagian belakang, tengah, dan depan, maka rickshaw pun mengikuti hukum fisika ini dengan sempurna. Jok penumpang dibuat dengan kontur agak lebih tinggi agar roda rickshaw juga punya diameter lebar. Tentu saja ini akan membuat berat beban menjadi terasa lebih ‘ringan’ di tangan penarik rickshaw yang hanya mengandalkan kekuatan lengannya untuk menjepit semacam balok kanan-kiri dan kemudian menariknya ke depan.

Sesekali waktu, saya melihat abang-abang penarik rickshaw menarik dua penumpang dengan kontur tubuh subur alias gemuk banget. Ternyata, saya tidak melihat abang itu lalu lemas dan tidak kuat menarik rickshaw-nya. Dengan gagah, dia tetap mampu menarik rickshaw-nya menyusuri gang-gang sempit di permukiman pada penduduk di Dhangzalan Xijie ini.

Kini, rickshaw sudah tidak hanya berfungsi sebagai moda transportasi saja. Ia juga merupakan simbol pariwisata modern dimana orang mendapatkan sukan (fun) karena bisa duduk manis di atas ketinggian sementara si abang penarik rickshaw dengan jantannya menarik mereka berkeliling Beijing terutama di sudut-sudut permukiman di Kawasan Hutong.

Yang terjadi bukan lagi l’exploitation de l’homme par l’homme. Melainkan séjour très amusant à Peking (jalan-jalan menyenangkan di Beijing).

Photo credit: Naik rickshaw di permukiman tradisional di Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.