10 Hari di China: Dimsum Kegemaran Kaisar (38)

< ![endif]-->

ADA yang sangat istimewa di Qianmen Street, ketika kita harus meniti sebuah gang khusus dimana tersaji areal pertokoan dengan pola arsitektur lawas sesuai era pemerintahan monarki Kekaisaran China. Di jalanan khusus ini, semua toko sengaja dipermak dengan pemandangan tempo doeloe, lengkap dengan pernak-pernik khas China yang menghiasi dinding maupun bebatuan gedung/bangunan di situ.

Dari sekian banyak aneka pernak-pernik di kawasan pertokoan di jalur pedestrian ini, sebuah took khusus berjualan dimsum tampil menyolok mata. Di depan toko ini tersaji dua patung manusia yang menggambarkan seorang perempuan berkelas bangsawan dengan seorang koki kerajaan. Keduanya terlihat dalam sebuah ‘perbincangan’ rumahtangga yakni mempercakapkan jenis kuliner khas China yakni dimsum.

Konon, di toko khusus berjualan dimsum inilah para Kaisar China sering ‘turun tahta’ berjalan meninggalkan Kota Terlarang untuk sekedar jalan-jalan sore menikmati keindahan kota Beijing. Jarak  Kota Terlarang menuju Qianmen Street ini tidak terlalu jauh. Kira-kira 700 meter dari gerbang Forbidden City dan kemudian keluar melewati Tiananmen Square dan Zhenyang Gate dan kemudian Qianmen Archade, maka sampailah rombongan siren-siren Kaisar ke toko khusus khusus berjualan dimsum ini.

Dimsum Kaisar 1 email ok

Seharga 20 Yuan

Kata warga Qianmen di sekitar toko itu, harga dimsum di toko khusus kebanggaan Kaisar ini berkisar tak kurang dari 20 RMB (Yuan) untuk satu bijinya. Sementara di luaran gang pertokoan di jalur pedestrian ini, harga dimsum jauh lebih murah tak sampai 2 Yuan.

Meski mahal, namun toko ini sangat laris oleh kedatangan para pembeli. Umumnya datang dari kerumunan turis asing dan baru kemudian turis lokal. Saya tak berminat membeli dimsum khusus kegemaran Kaisar China ini.

Fokus perhatian saya justru pada patung yang berada di bagian selasar depan toko khusus dimsum kegemaran Kaisar itu. Mengapa patung Kaisar tidak muncul di situ?

Bisa jadi, ketokohan seorang Kaisar China pada zaman itu tidak bisa sembarangan dibuatkan ‘prototipe’nya. Mana mungkin pada era monarki Kekaisaran Tiongkok anggota keluarga inti Kaisar boleh dibuatkan ‘duplikat’nya dalam wujud sebuah patung? Dengan kekuasan absolut yang dimiliki seorang Kaisar, mana mungkin orang biasa punya nyali membuat prototype dalam wujud patung?

Bahkan pada zaman sekarang pun, atmosfir feodal itu pun masih terasa. Di seluruh areal Forbidden City, saya tak melihat satu prototipe kaisar dalam bentuk apa pun, selain sebuah foto atau tepatnya lukisan di bilik museum mini Kota Terlarang. Untuk bisa melihat tahta singgasana Kaisar saja tidak bebas dilakukan. Hanya bisa dilihat dari jarak jauh. Itu pun kalau beruntung bisa menjepret tahta singgasana Kaisar itu dengan lensa tele dengan mode manual.

Kawasan pertokoan ramai email ok

Karena itu, saya bisa memahami kalau prototipe keluarga Kaisar yang tampil di sebuah toko khusus dimsum kegemaran keluarga Kaisar China itu pun hanya bisa ‘terhenti’ pada figur permaisuri. Harap maklum, untuk urusan kuliner biasanya kaum remaja putri dan kaum ibu lebih peduli dengan urusan dapur daripada kaum lelaki.

Itulah sebabnya, di toko itu hanya tersaji patung perempuan ningrat dengan seorang koki kerajaan yang tengah menyodorkan dimsum kegemaran Kaisar ke hadapan Sang Permaisuri.

Photo credit: Toko dimsum kegemeran Kaisar dan Permaisuri di kawasan Qianmen Pedestrian Shopping (Mathias Hariyadi)

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.