10 Hari di China: Bird’s Nest di Olympic Green Park (36)

< ![endif]-->

BERUNTUNGLAH China dengan penyelenggarakan Olimpiade tahun 2008 lalu. Berkat pesta olahraga sejagad raya ini, harkat dan martabat China sebagai negara dan bangsa besar di kawasan Asia semakin terkokohkan. Belum lagi, atraksi formasi tari-tarian yang dibawakan sangat mempesona dari hari pembukaan pesta olahraga paling bergengsi di dunia ini.

Pesta olahraga Olimpiade Beijing 2008 telah mengerek China reputasi Negeri Panda ini sebagai tuan rumah yang pintar meng-entertain ratusan atlet, olahragawan, official dan ribuan orang lain dalam event skala internasional ini.

Itu baru pesta pembukaan Olimpiade-nya. Yang lain, tentu saja stadion besar tertutup dengan pola arsitektur yang sangat tidak biasa: the Bird’s Nest.

Terlesenggaranya Olimpiade 2008 dan kehadiran the Bird Nest ikut membawa Beijing dengan satu tambahan pusat wisata baru di Ibukota China ini. “Kalau mau melihat the Bird’s Nest bagus-bagusnya, ya harus datang malam hari persis ketika stadion besar tertutup itu seakan-akan terbungkus oleh kilauan sinar lampu,” tutur Br. Adrian FC.

Olympiade the Bird Nest malam hari

Sayang, ajakan beliau tidak sempat kami realisasikan. Kami mengunjungi Olympic Park dan the Bird’s Nest persis menjelang berakhirnya petang hari. Pada musim panas di awal Agustus 2013, malam hari dengan kegelapannya baru akan ‘turun’ setelah pukul 20.00. Karena sudah gempor kaki usai mendaki Tembok Besar China, niat kami begadangan di Olympic Park sampai the Bird Nest diselimuti cahaya kilauan lampu menemui kegagalan.Olympic Green Park denah email ok

Belum lagi, hari itu tiba-tiba hujan deras.

Kerja raksasa

Resminya, nama stadion besar tertutup ini adalah National Stadium namun karena pola bentuk arsitekturnya menyerupai ‘sangkar burung’, maka stadion olahraga Olimpiade Beijing 2008 ini akhirnya punya julukan populer: the Bird’s Nest. Stadion Sangkar Burung ini berlokasi di areal maha luas yang biasa disebut the Olympic Green Village di District Chaoyang.

Stadion Sangkar Burung ini dikerjakan oleh tiga arsitek yakni Jacques Herzog dan Pierre de Meuron –keduanya berpaspor Swiss—dan Li Xinggang asli dari RRC. Pekerjaan awal menancapkan tiang-tiang konstruksi sudah dimulai sejak 24 Desember 2004; jadi 5 tahun sebelum Olimpiade Beijing mulai. Namun, dalam beberapa waktu lamanya pengerjaan dihentikan karena ada desakan untuk perubahan desain pada tanggal 24 Juli 2004. Beberapa bulan kemudian –tepatnya bulan Desember 2004—projek maha besar ini dimulai lagi dan dinyatakan rampung pada bulan Maret 2008 setelah makan biaya tak kurang  33 juta dolar AS.

Stadion Sangkar Burung ini memuat daya kapasitas tempat duduk 80 ribu kursi plus 11 ribu kursi tambahan.   

Bird Nest 2 keramaian email ok

Sudah barang tentu, proses membangun Stadion Sangkar Burung ini butuh biaya sosial yang sangat besar. Di antaranya adalah gusur-menggusur ribuan hektar permukiman penduduk yang harus pindah lokasi rumah karena kena projek negara skala internasional ini. Kalau di pusat kota Beijing bisa dilakukan sebuah projek mega bangunan dengan areal taman yang maha luas, sudah barang tentu ribuan orang terpaksa hengkang dari situ.

Relokasi penduduk itu sendiri pasti makan biaya tidak sedikit. Ganti rugi tanah butuh dana miliaran Yuan dan itu belum termasuk projek mendirikan the Bird’s Nest itu sendiri. Apalagi, bila harus menambah fasilitas umum berupa taman, stasiun subway yang jaraknya hanya selemparan batu dari the Olympic Green Park.

Taman wisata

Kami bertiga datang ke Olympic Green Park kira-kira pukul 17.30 waktu Beijing. Petang hari saat itu masih terang-benderang karena pas musim panas. Ribuan orang datang menyemut mendekati the Bird’s Nest, setelah melewati pintu-pintu pemeriksaan X-Ray. Tidak ada pungutan apa pun ketika memasuki taman ini menuju the Bird’s Nest.

Olympic Green Park gerbang pintu masuk email ok

Karena haus dan lapar, kami menyempatkan diri duduk-duduk manis sembari makan melon di sebuah warung tenda. Tiba-tiba saja hujan sangat deras hingga memaksa kami bertiga mengeluarkan jas hujan dan payung sembari makan-minum seadanya.

Ribuan orang jadi lari lintang pukang karena ingin menghindari hujan. Sayang juga di kawasan areal taman Olimpiade ini tidak saya temukan ruang-ruang tertutup atau setidak ‘payung raksasa’ berupa bangunan los untuk sekedar berteduh dari terpaan hujan.

Setelah 30 menit hujan deras tidak segera berhenti, kami memutuskan pulang ke penginapan.

Photo credit:

  • The Bird’s Nest of Olympic Green Park, Beijing at night (Courtesy of China Travel Guide)
  • Stadion Olahraga Sangkar Burung di Taman Olimpiade Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.