10 Apr Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15

"Pergilah ke seluruh dunia beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.

(Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)

 

“Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk bepergian, entah jarak jauh atau jarak dekat, dan bertemu dengan sesama serta ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk ‘memberitakan Injil kepada segala makhluk’ dimanapun kita berada atau kemanapun kita pergi. Injil berarti kabar gembira atau kabar baik, maka memberitakan Injil berarti memberitakan atau menyebarluaskan apa yang baik dan menggembirakan. Tentu saja untuk itu kita sendiri diharapkan senantiasa dalam keadaan baik dan gembira. Mungkin kondisi fisik atau tubuh kita tidak selalu dalam keadaan baik alias sedang menderita sakit, namun demikian kita tetap dipanggil untuk gembira. Dalam memberitakan kabar baik atau kabar gembira kiranya pertama-tama dan terutama kita sampaikan kepada saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita, saling memboroskan waktu dan tenaga, entah di dalam keluarga maupun tempat kerja/tugas. Ketika dengan saudara-saudari kita yang dekat kita dapat saling memberitakan apa yang baik dan menggembirakan, maka kiranya dengan mudah kita memberitakan apa yang baik dan menggembirakan kepada orang lain, yang kita jumpai atau temui dimanapun dan kapanpun. Kita kiranya dapat meneladan Yesus yang menampakkan diri kepada berbagai orang, seperti yang kerasukan setan, berkabung atau menangis, dst..Marilah kita datangi mereka untuk menghibur dan menggembirakan mereka, membebaskan mereka dari aneka derita dan kesusahan.

·   "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kis 4:19-20), demikian kata Petrus dan Yohanes menanggapi larangan para imam besar Yahudi agar mereka tidak memberitakan Yesus yang telah bangkit dari mati. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meneladan Petrus dan Yohanes, yaitu lebih taat kepada Allah daripada manusia. Taat kepada Allah antara lain taat dan setia menghayati kehendak Allah , yang antara lain dapat kita temukan dalam visi, spiritualitas atau pedoman hidup yang terkait dengan panggilan atau tugas pengutusan kita masing-masing,  serta dengan tidak takut dan gentar menyuarakan apa yang benar, baik, suci, luhur dan mulia. Memang untuk itu pada masa kini, sebagaimana juga pada masa Gereja Purba, kita pasti akan menghadapi aneka macam ancaman atau tekanan dari beberapa oknum penguasa atau yang berwenang dalam hidup bersama, yaitu mereka yang gila akan harta benda, pangkat/kedudukan maupun kehormatan duniawi. Dengan ini kami juga berharap kepada para pejuang kebenaran untuk tidak takut dan gentar menghadapi aneka ancaman dan tekanan; sebaliknya kepada para penegak kebenaran, seperti hakim, jaksa, penuntut maupun polisi kami harapkan sungguh menghayati fungsi atau jabatannya dalam rangka menegakkan kebenaran: jauhkan aneka macam bentuk ‘makelar kasus’ atau kebohongan. Kepada para penguasa atau yang berwenang mengatur dan mengendalikan hidup bersama kami berharap tidak membungkam para pejuang kebenaran, yang memang pada umumnya kritis terhadap aneka macam peristiwa dan kebijakan yang dinilai tidak adil atau tidak benar. Kami berharap para pemimpin dan penguasa berpedoman pada kesejahteraan umum atau ‘bonum commune’.

 

“TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" (Mzm 11:14-16)

          

Jakarta, 10 April 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.