1 Agustus

“Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat”

(Bil 11:4b-15; Mat 14:13-21)

” Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak” (Mat 14:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Alfonsus Marie de Liguori , Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil menjadi uskup maupun imam sebagai pembantu uskup memiliki panggilan untuk menyampaikan berkat Tuhan kepada umat Allah maupun sesama manusia, sehingga umat yang menerima berkat sungguh merasa bahagia, damai dan tenteram. Itulah kiranya yang terjadi dalam Diri Yesus, Sang Imam Agung, di hadapan ribuan orang yang menderita kelaparan maupun sakit. Maka pertama-tama perkenankan saya mengajak rekan-rekan imam agar dalam sepak terjang dan kehadirannya dimanapun dan kapanpun senantiasa menjadi berkat bagi sesamanya; untuk itu cara hidup dan cara bertindak kita sebagai imam hendaknya meneladan Yesus, yang “hatiNya tergerak oleh belas kasihan”. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa Kerajaan Allah maupun hidup beriman dan beragama adalah masalah/kerajaan hati, bukan otak atau harta benda. Maka hendaknya kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada senantiasa memberi perhatian kepada orang lain, terutama mereka yang kelaparan atau sakit. Sebagai orang beriman juga memiliki panggilan imamat umum, maka kami mengajak segenap umat beriman untuk saling memperhatikan satu sama lain tanpa pandang agama atau keyakinan; marilah kita saling meneruskan rahmat atau anugerah Tuhan. Hendaknya dijauhkan sikap mental egoistis, yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

·   "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini” (Bil 11:11), demikian kutipan kata-kata keluh kesah Musa kepada Tuhan. Menjadi pemimpin dalam kehidupan bersama dalam tingkat apapun dan dimanapun memang memiliki tanggungjawab atas seluruh kelompok atau komunitas yang dipimpinnya; tanggungjawab yang berat dan mulia. Menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan, harus menghayati kepemimpinannya dengan semangat pelayanan. Di dalam perjalanan penghayatan panggilan maupun pelaksanaan tugas ada kemungkinan merasa berat, lelah dan putus asa seperti Musa. Jika demikian halnya baiklah kita juga meneladan Musa dengan menyampaikan keluh kesah dan kelelahan kita kepada Tuhan, dengan kata lain pengalaman berat dan melelahkan tersebut kita jadikan bahan doa kita. Memang jika kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri pada suatu saat akan merasa lelah dan putus asa, sebaliknya jika dengan rendah hati kita bersedia untuk didampingi dan dituntun oleh Tuhan maka seberat apapun tugas pekerjaan akan menjadi ringan adanya. Sebagai orang yang beriman kepada  Yesus ketika merasa lelah dan tak berdaya, marilah kita menatap Dia yang tergantung di kayu salib, pasti akan dikuatkan dan diteguhkan sehingga berdaya dan bergairah kembali dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. Marilah kita awali pelaksanaan aneka tugas atau kewajiban dengan berdoa, mohon rahmat dan kekuatan Tuhan untuk menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Mungkin sebagai orang katolik kita hanya membuat tanda salib, sebagai doa kita, sambil mengucapkan “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin”. Hayati tanda salib bersama dengan kata-katanya, yang berarti hidup dan bertindak bersama dan bersatu dengan Tuhan; bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan sukses, gembira dan ceria meskipun yang harus kita kerjakan cukup berat dan sarat dengan tantangan serta masalah.

“Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (Mzm 81:14-17)

Ign 1 Agustus 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.