Zona Abu-Abu 2: Tomas

Ayat bacaan: Yohanes 20:26
=======================
“Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

tomas, zona abu-abu, keraguan, skeptis

Skeptis. Itulah saya dahulu. Saya sangat sulit untuk percaya sesuatu sebelum hal itu terbukti secara nyata, atau dalam kasus saya, secara ilmiah. Saya mencoba untuk mencari tahu “pintu” mana yang mengarah kepada jalan yang benar. Saya bahkan telah mencoba salah satunya, tapi saya menemukan begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab bahkan hal-hal yang bagi saya tidak masuk akal. Oleh karena itu saya kembali melepas atribut apapun, stay on zero level, sambil menunggu sesuatu yang akhirnya bisa membukakan mata saya terhadap kebenaran. Puji Tuhan, pada suatu kali melalui sakitnya ibu saya, saya mengalami perjumpaan secara langsung dengan Yesus. Tidak itu saja, ada berbagai hal yang saya alami beruntun, termasuk bagaimana damainya hadirat Allah, waktu itu dalam bentuk sinar terang yang bagaikan memeluk saya. Ketika itulah saya langsung memutuskan untuk bertobat dan sangat lega akhirnya menemukan kebenaran yang saya cari selama ini. Itu terjadi 7 tahun yang lalu, dan hari ini semuanya menjadi semakin jelas. Jika tidak, saya tidak akan duduk menuliskan sebuah renungan yang hadir di ruang baca teman-teman hari ini. Saya senang bahwa ternyata Tuhan begitu peduli dan mau berinisiatif untuk menjawab skeptisme saya. Tapi di sisi lain, saya pun merasa malu karena harus membuat Tuhan repot-repot hadir bagi saya, satu dari milyaran manusia yang sangat tidak ada apa-apanya dibanding Dia.

Tomas mengalami hal yang kurang lebih sama. Mungkin ia merupakan tipe skeptis sama seperti saya, berada di zona abu-abu yang tidak punya kepastian alias berselimutkan ragu. Setelah kebangkitan Yesus, Dia menampakkan diri di hadapan murid-muridNya pada suatu malam. Pada saat itu murid-murid tengah dicekam ketakutan, takut ditangkap dan mengalami perlakuan yang sama dari orang-orang Yahudi seperti apa yang mereka lakukan terhadap Yesus. “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.” (Yohanes 20:19a). Pada waktu itulah Yesus tiba-tiba datang. “Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (ay 19b). Melihat itu, para murid pun bersukacita. (ay 20). Dan pada malam itu juga, mereka menerima Roh Kudus. (ay 22). Tidak ada lagi ketakutan di hati mereka, karena alkitab mencatat selanjutnya bagaimana para murid dengan giat mewartakan firman dan siap menanggung resiko apapun, termasuk menyerahkan nyawa mereka. Hampir semua dari mereka berakhir sebagai martir dengan cara yang mengenaskan, tapi itu tidak membuat mereka takut lagi. Sebab mereka sudah menyaksikan sendiri bagaimana Yesus mampu mengalahkan maut. Mereka tahu apa yang ada di depan mereka lewat kebangkitan Kristus.

Tapi Tomas kebetulan malam itu tidak berada disana. Karena ia tidak menyaksikan sendiri, ia pun skeptis. “Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (ay 25). I won’t believe until I see and prove it myself! Begitu kira-kira katanya. Apa yang terjadi kemudian? Alkitab mencatatnya demikian: “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (ay 26). Yesus hadir lagi, dan kali ini Tomas melihatnya. “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (ay 20). Dan Tomas pun kini percaya. Yesus kemudian berkata “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (ay 29).

Jika kita bandingkan dengan kisah Pilatus kemarin, Tomas pun berada pada zona abu-abu. Dia diliputi keraguan sama seperti Pilatus. Pilatus ragu apakah Yesus adalah Raja, sementara Tomas ragu apakah Yesus benar-benar telah bangkit. Ragunya sama, tapi kejadian selanjutnya berbeda. Kepada Tomas, Yesus berinisiatif menampakkan diri dan berbicara kepadanya. Yesus secara langsung menjumpainya dan membantunya untuk percaya. Tapi kepada Pilatus, Yesus hanya menjawab seperlunya, bahkan tidak seluruh pertanyaan Pilatus Dia jawab. Apa yang membedakan? Mari lihat sekali lagi ayat ini: “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka….” (ay 26a). Lihatlah meskipun ia ragu bahwa Yesus telah bangkit, meski ia belum sepenuhnya percaya terhadap kesaksian teman-temannya, namun ia tetap berada bersama mereka. Artinya, meski hatinya diliputi keraguan, tapi ia masih rindu untuk mencari kebenaran. Ia tetap setia berkumpul bersama-sama murid lainnya dan tidak memilih untuk meninggalkan Yesus. Ini sebuah langkah penting yang membuatnya mengalami perjumpaan secara langsung dengan Kristus yang telah bangkit. Kasus Pilatus berbeda. Ia tidak sungguh-sungguh ingin mengenal Tuhan Yesus. Pertanyaannya mengenai “apakah kebenaran itu” (18:38a) bukanlah ditujukan bahwa ia ingin mengetahui kebenaran, namun lebih kepada kepentingannya agar ia bisa terlepas dari dilema yang tengah menimpanya. Hati nuraninya tahu bahwa Yesus adalah Raja, tidak ada kesalahan apapun yang pantas dihukum, tapi rasa takutnya kehilangan jabatan atau mungkin nyawanya di depan massa Yahudi yang beringas membuatnya ingin segera melemparkan tanggung jawab dan cuci tangan. Ini sebuah perbedaan yang nyata di antara keduanya. Dan itu pun terlihat dari reaksi Tuhan. Kepada Pilatus Yesus tidak bereaksi, namun kepada Tomas, Yesus berinisiatif membantunya agar percaya.

Jika Tuhan Yesus tidak berinisiatif untuk hadir di depan Tomas dan membiarkan Tomas membuktikan bahwa itu benar diriNya, mungkin Tomas akan tetap menjadi sosok yang tidak percaya Tuhan dan terus mencari-cari kebenaran sepanjang hidupnya. Kita tahu apa yang akan terjadi jika Tuhan membiarkan itu. Tapi puji Tuhan, Dia adalah Allah yang tidak keberatan untuk repot demi kita semua. Dia adalah Tuhan yang selalu berinisiatif untuk menolong kita, dan selalu setia melakukannya. Itulah anugerah luar biasa yang Dia berikan kepada kita. Hal yang penting adalah sebentuk hati yang kita miliki. Apakah kita rindu untuk mengetahui dan mengenal Kristus lebih lagi, rindu untuk tahu jalan keselamatan yang sesungguhnya, atau kita hanya butuh itu untuk kepentingan-kepentingan duniawi seperti memuaskan ego, membuktikan asumsi atau bahkan hanya ingin melihat sebuah tontonan saja. Tontonan? Ya, karena pada kenyataannya di akhir jaman akan ada banyak orang yang belum juga mau percaya meski mereka telah melihatnya secara langsung. “Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” (Yohanes 6:36). Tidak heran jika “orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.” (2 Timotius 3:13). Bahkan setelah sangkakala ke 6 dibunyikan dan serentetan penghukuman sudah berlangsung, malapetaka besar silih berganti menimpa manusia, masih saja “mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian” (Wahyu 9:21). Tuhan kita adalah Allah yang sangat peduli dan ingin kita semua selamat. Tapi apakah kita sudah memiliki hati yang rindu untuk mengetahui itu semua, rindu untuk mendapatkan kebenaran dan diselamatkan, atau kita masih saja terus menuntut tanpa mau berubah? Sesungguhnya ada perbedaan nyata ketika kita memiliki hati yang tulus. Tuhan senantiasa akan membantu kita untuk percaya, karena Dia begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa.

Ada begitu banyak kesaksian dari masa ke masa, lebih dari itu firman Tuhan pun berbicara pada kita sepanjang isi alkitab. Hati nurani kita terus mengingatkan kita bahkan lewat kejadian-kejadian atau orang lain pun Tuhan kerap mengingatkan kita. Itu adalah sifat Tuhan yang penuh inisiatif. Sayang sekali jika semua itu kita lewatkan dan pada akhirnya kita tidak termasuk dalam tuaian besar di akhir jaman. Semua itu hendaknya cukup untuk membuka mata kita untuk bisa percaya tanpa diliputi keraguan lagi. Tidak perlu mengikuti jejak saya yang harus membuktikan dahulu sebelum percaya, walaupun anugerah Tuhan tetap sanggup memberi tetes-tetes air untuk memuaskan dahaga akan kebenaran. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29). Jangan tunggu lebih lama lagi, dengarkanlah suara Tuhan segera. Seperti kemarin, marilah kita ingat pesan Tuhan ini. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7), karena “dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:10)

Tuhan selalu punya inisiatif untuk menolong kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: