Zona Abu-Abu 1: Pilatus

Ayat bacaan: Yohanes 18:38a-38b
=========================
“Kata Pilatus kepada-Nya: “Apakah kebenaran itu?” Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.”

pilatus, zona abu-abu, cuci tangan, lepas tanggung jawab

Warna abu-abu merupakan campuran antara warna hitam dan putih. Karenanya warna ini sering diasosiasikan sebagai warna tengah, yang berada di antara sesuatu yang dianggap putih dan hitam. Abu-abu dipakai pula sebagai kiasan mengenai sesuatu yang tidak jelas posisinya. Tidak di hitam, tidak juga di putih. Tidak baik, tidak jahat. Percaya tidak, tidak percaya juga bukan. Banyak orang yang mengira bahwa berada di zona abu-abu ini adalah win-win solution, solusi paling aman. Ini pilihan yang paling tepat ketika seseorang takut kehilangan sesuatu sementara ia masih diliputi keraguan. Dan rasa ragu-ragu ini berasal dari hati. Dalam dua hari ini saya ingin mengangkat dua tokoh yang mengalami keragu-raguan, sempat berada di zona abu-abu tapi berbeda hasil, yaitu Pilatus dan Tomas.

Hari ini mari kita melihat Pilatus terlebih dahulu. Pada masa Yesus, Pilatus adalah sosok yang menjabat gubernur Roma. Ketika tuduhan-tuduhan terhadap Yesus semakin besar hingga ditangkap, Yesus dihadapkan ke depan Pilatus. Pilatus diliputi keragu-raguan, apakah benar Yesus seorang Raja atau tidak. Ia tidak berani memutuskannya sendirian. Alkitab mencatat serangkaian keputusan yang didasarkan atas keraguannya. Pertama ia mengirim Yesus kepada Herodes, dengan alasan bahwa Yesus berasal dari Yerusalem yang tidak lain merupakan wilayah kekuasaan Herodes. “Dan ketika ia tahu, bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, ia mengirim Dia menghadap Herodes, yang pada waktu itu ada juga di Yerusalem.” (Lukas 23:7). “Dari pada saya yang harus bertanggungjawab, mending Herodes saja.” begitu pikirnya. Pilatus berusaha mati-matian untuk lepas dari tanggung jawab. Ia tetap mengirim Yesus kepada Herodes meski pada saat itu Pilatus dan Herodes sedang bermusuhan. (ay 12). Herodes sendiri tidak berani mengambil keputusan apa-apa. Padahal sikap berbeda ia tunjukkan dengan memenggal kepala Yohanes Pembaptis. (baca Matius 14:1-12). Maka kembalilah Yesus ke hadapan Pilatus.

Saling melempar tanggung jawab pun kemudian bisa kita saksikan bak berbalas pantun. Pilatus mencoba mengembalikan Yesus kepada orang-orang Yahudi, terutama imam-imam besarnya yang menangkap Yesus. “Kalian yang menangkap, kalian dong yang mengadili sesuai hukum tauratmu..” kata Pilatus. Apa jawaban mereka? ” Kata orang-orang Yahudi itu: “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.” (Yohanes 18:31b). Setelah itu kita melihat bagaimana pergulatan hati Pilatus. “Kata Pilatus kepada-Nya: “Apakah kebenaran itu?” Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.” (Yohanes 18:38a-38b). Pilatus menanyakan arti kebenaran, sementara hatinya sebenarnya sedang diketuk berkali-kali lewat kebenaran itu. Karena itulah ia lalu keluar dan berkata bahwa Yesus tidak bersalah apa-apa. Tapi para imam besar Farisi dan orang-orang Yahudi yang ada di luar gedung pengadilan masih bersikeras agar hukuman dijatuhkan, bukan oleh mereka tapi atas keputusan Pilatus. Pilatus pun mendapat ide lain. Ia membawa seorang penjahat besar bernama Barabas dan meminta mereka untuk memilih antara Yesus atau Barabas, sambil berharap bahwa Barabaslah yang akan dipilih dan ia pun terbebas dari penghakiman hati nuraninya sendiri lewat bebasnya Yesus. Tapi tetap saja hasilnya sama. Setelah itu Yesus mengalami penyiksaan yang mengerikan. Kembali Yesus dibawa keluar, dan berharap ada belas kasih melihat siksaan itu yang akan membuat Yesus dilepaskan. Tapi mereka malah bertambah beringas dan berteriak “Salibkan Dia, salibkan Dia!” (19:6). Pilatus pun menyerah. “Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” (Matius 27:24). Ia lebih mementingkan kedudukannya, takut kehilangan posisi, harta dan kenyamanan hidup, dan mengira bahwa ia bisa lepas dari tanggung jawab, terutama digambarkan dengan perbuatannya mencuci tangan di hadapan orang banyak. Lihat bagaimana Pilatus menjadi semakin jauh terperosok akibat ditekan rasa takutnya. Ia merasa kehidupan Yesus tergantung kepadanya dan bukan sebaliknya. “Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?” (Yohanes 19:10). Tekanan membuatnya takut, massa yang beringas membuatnya khawatir, dan ia semakin jauh meninggalkan hati nuraninya. Maka Yesus disalib pun lahir dari keputusannya.

Kita bisa belajar dari kisah Pilatus bahwa kita harus bisa menjaga hati kita. Jauh sebelum kejadian itu Amsal Salomo berkata: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Ini sesungguhnya benar, karena dari hatilah kita bisa percaya, tidak percaya dan ragu-ragu, dan itu sangat menentukan seperti apa kehidupan kita. Lebih lanjut firman Tuhan berkata “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (27:19) Dan lewat hati itulah keluar apa yang kita perbuat di dunia ini. “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:35).

Adalah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita. Pilatus mungkin mengira bahwa ia bisa membersihkan dirinya dengan membasuh tangannya, tapi hatinya tidak murni. Ia tidak bisa mendengar hati nuraninya sendiri yang sejak awal tahu bahwa Yesus tidaklah bersalah dan patut dihukum. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu bahwa Yesus adalah Raja, namun hatinya terkontaminasi dengan segala keduniawian, harta, tahta, termasuk ketakutan yang memenuhinya. Ia tidak berani membayar harga atas kebenaran. Tangan yang bersih saja tidaklah cukup, hati yang murni pun harus pula menjadi syarat utama agar bisa mendapat keselamatan dan berkat dari Allah. “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5). Kita mungkin mengira bahwa kita bisa melempar tanggung jawab dalam pengambilan keputusan yang salah, namun firman Tuhan berkata: “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13).

Belajar dari Pilatus dan keputusannya yang salah, hendaklah kita semua mampu menjaga hati kita. Berhati-hatilah dalam membuat setiap keputusan dalam hidup kita, hendaklah semua itu berasal dari hati yang benar. Dengarkan baik-baik hati nurani karena Tuhan kerap berbicara disana. Terimalah firman Tuhan dengan hati yang lembut agar firman itu bisa tumbuh subur dan membuat hati kita terjaga setiap saat untuk dapat membedakan mana yang benar dan salah. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7), karena “dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:10)

Jagalah hati senantiasa karena dari sanalah keputusan-keputusan berasal

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: