Zakheus Diantara Yesus dan Orang Yahudi

Ayat bacaan: Lukas 19:7====================”Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”Terus memperdalam pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan tentu sangat baik. Semakin banyak firman yang…

Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
“Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

Terus memperdalam pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan tentu sangat baik. Semakin banyak firman yang kita ketahui dan resapi, semakin baik pula seharusnya cara hidup kita. Tuntunan, panduan, peringatan dan teguran, berbagai solusi atas permasalahan hidup dan langkah-langkah menuju keselamatan semuanya sudah disampaikan secara jelas di dalam Alkitab. Sayangnya banyak orang yang terjerumus pada dosa kesombongan. Semakin banyak tahu, mereka semakin sombong, merasa paling suci sehingga merasa berhak menghakimi orang lain. Ini sangat sering terjadi di kalangan orang percaya, bahkan gereja yang seharusnya lebih giat menjangkau jiwa ketimbang menghakimi jiwa. Bukan baru satu dua kali saya mendengar gereja yang tega menyingkirkan jemaat atau orang yang melayani karena mereka merasa sudah paling suci sehingga tidak mau gerejanya ‘dicemari’ oleh orang yang dinilai berdosa. Sikap seperti ini jelas-jelas tidak mencerminkan sikap Kristus, karena Dia bahkan berkata “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17). Jadi kalau Yesus saja menjangkau jiwa-jiwa berdosa untuk diselamatkan, bagaimana dengan orang percaya atau lembaga yang justru berani menghakimi? Bukannya menjangkau tapi malah membuang. Bukannya menerima tapi malah menolak. Sadar atau tidak, bukannya mencontoh pribadi Yesus, menjadi semakin serupa dengan Dia, tetapi justru kita semakin jauh dari Yesus dan mencerminkan perilaku para ahli Taurat.

Sebuah contoh menarik akan hal ini bisa kita lihat dari kisah Zakheus. Gambaran visual Zakheus yang berbadan pendek namun sibuk memanjat pohon agar bisa melihat Yesus, dan kemudian kisah pertobatannya sudah tidak asing lagi bagi kita. Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Cap sampah masyarakat, pendosa, digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok (Lukas 18:11) diberikan kepada mereka. Para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina. Zakheus ada dalam kelompok ini. Tapi ternyata Zakheus punya kerinduan yang sangat besar untuk dapat bertemu Yesus. Sayang badannya pendek, sehingga pandangannya tertutup orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Zakheus tidak menyerah dan memutar otaknya. Alkitab mencatat usahanya kerasnya untuk bisa melihat Yesus dengan cara memanjat pohon ara. (Lukas 19:4).

Usahanya gigihnya berhasil. Bukan cuma berhasil melihat Yesus, tapi Yesus pun melihatnya. “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (ay 5). Tidak saja melihat dirinya, tapi Yesus berkenan untuk datang menumpang di rumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. “Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah layak untuk mendatangi rumah orang seperti Zakheus. Mereka meghakimi, bukannya bersukacita melihat seorang pemungut cukai bakal bertobat dan dilayakkan untuk menerima keselamatan. Dan itulah yang terjadi lewat kunjungan Yesus ke rumahnya. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (ay 10).

Siapa yang ingin kita teladani, Yesus atau para ahli Taurat yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih suci dari mereka? Tanpa sadar manusia sering membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri mereka terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi hak kita, apalagi kalau berani-beraninya menghujat keputusan Tuhan dalam menyelamatkan umat manusia. Tuhan mengampuni, kita tidak. Tuhan menjangkau, kita mengabaikan. Tuhan membuka kesempatan, kita menutupnya. Tuhan menerima, kita menolak. Tuhan memanggil, kita mengusir. Kita merasa lebih berhak menghakimi bahkan berani mempertanyakan keputusan Tuhan.

Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan. Kita gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah. Lihatlah saat Yesus mengulangi pertanyaanNya tiga kali kepada Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Tiga kali Petrus menjawab “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, tiga kali pula Yesus mengakhiri pertanyaanNya dengan “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-19). Inilah yang seharusnya kita lakukan setelah kita memasuki fase kehidupan baru yang mengejar kekudusan dan ketaatan. Ada pesan penting bagi kita semua untuk menggembalakan domba-dombaNya, dan itu semua haruslah didasarkan atas kasih kita kepada Kristus, bukan hal lainnya. Selama masih bersikap sombong dan merasa diri lebih benar, kita tidak akan pernah bisa menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan.

Bagaimanapun juga kita diingatkan “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2), “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (ay 31) dan “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (ay 32). Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pesan untuk menggembalakan domba-dombaNya dan mewartakan kabar gembira telah Dia wariskan. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk diselamatkan. Dan siapa tahu, lewat diri kita Tuhan mau menjangkau mereka untuk bertobat. Mungkin kita yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka hingga mengenal kebenaran dan lepas dari jerat iblis. (2 Timotius 2:25-26).

Menghakimi orang lain akan menjauhkan mereka dari keselamatan dan itu bukanlah hal yang diinginkan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply