Zakheus diantara Yesus dan orang Farisi

0
455

Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
“Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

Yesus, Zakheus, Farisi

“Semakin mendalami agama, orang semakin fanatik.. mereka berubah menjadi orang yang merasa diri paling benar dan merasa berhak menghakimi orang lain yang berbeda pandangan atau kepercayaan dengan mereka.” kata seorang teman yang gerah melihat sekelompok orang yang ekstrim dan kerap melakukan teror di negeri ini. Ada banyak orang yang keliru dalam menyikapi pertumbuhan imannya. Itupun terjadi di kalangan kita. Kita berusaha untuk semakin baik dari hari ke hari. Menjauhi dosa, hidup kudus, mendalami Alkitab, semua itu tentu sangat baik. Tetapi apabila kita tidak hati-hati, maka kita bisa dirasuki kesombongan. Kita bisa terjebak untuk mulai menghakimi orang lain dan merasa diri kita lebih baik dari mereka. Kita bisa dengan mudah menunjuk orang lain berdosa, mencaci dan menjauhi mereka. Ini adalah pandangan keliru. Ini bukanlah sesuatu yang diharapkan dari sebuah pertobatan dan upaya menumbuhkan iman. Bukannya menjadi garam dan terang dunia, tetapi kita malah bisa terperangkap menjadi batu sandungan. Orang bukannya melihat contoh yang baik dari kita tetapi malah menjadi anti pati terhadap kehadiran kita.

Kisah Zakheus menunjukkan hal ini. Gambaran visual Zakheus yang berbadan pendek namun sibuk memanjat pohon agar bisa melihat Yesus, dan kemudian kisah pertobatannya tentu sudah sangat kita kenal dan sudah akrab bagi kita sejak kita masih anak-anak. Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya raya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Cap antek-antek Romawi, sampah masyarakat, pendosa, para pemungut cukai pun digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok. Dan itu bisa terlihat dari sebuah doa orang Farisi seperti yang tertulis di dalam Lukas 18:11. Para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina. Dan Zakheus ada dalam kelompok ini. Begitu cepatnya mereka menghakimi sehingga tidak ada satupun orang yang mengetahui bahwa sesungguhnya Zakheus tidak merasa damai meski hartanya berlimpah dan punya kerinduan besar untuk bertemu dengan Yesus. Kesempatan itu pun datang pada suatu hari. Sayang badannya pendek, sehingga sulit baginya untuk bisa melewati orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Tapi kerinduannya yang sangat besar membuatnya tidak putus asa. Ia pun berusaha sedemikian rupa dengan memanjat pohon ara. (Lukas 19:4). Usahanya yang gigih pun kemudian membawa hasil. “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Yesus melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (ay 5). Wah, tidak saja melihat dirinya, tapi Yesus berkenan untuk mendatangi rumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. “Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut. Mereka berkata: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah layak untuk mendatangi rumah orang sehina dia. Apa yang terjadi kemudian sungguh mengharukan. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (ay 10).

Dari kisah ini kita bisa melihat perbedaan nyata antara Yesus dengan para orang Farisi. Kita juga bisa melihat pandangan keliru dari kedalaman keyakinan. Siapa yang ingin kita teladani, Yesus atau para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih baik dan benar dari mereka? Tanpa sadar manusia sering terjerumus untuk membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri kita terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi bagian dari gaya atau sikap hidup kita. Padahal Tuhan selalu membuka kesempatan kepada mereka untuk berbalik kembali ke jalan yang benar, dan itu bisa jadi lewat kita. Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan. Dan kita pun kemudian gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah.

Ada sebuah tugas bagi kita semua yang mengasihi Kristus untuk membawa keselamatan bagi banyak orang. Kita bisa melihat petikan percakapan Yesus dengan Petrus. Ketika Yesus mengulangi pertanyaanNya tiga kali kepada Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” dan ketika Petrus selalu menjawab “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, tiga kali pula Yesus mengakhiri pertanyaanNya dengan “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-19). Inilah yang seharusnya yang kita lakukan setelah kita memasuki fase kehidupan baru yang mengejar kekudusan dan ketaatan. Ada pesan penting bagi kita semua untuk menggembalakan domba-dombaNya, dan itu semua haruslah didasarkan atas kasih kita kepada Kristus, bukan hal lainnya. Selama masih bersikap sombong dan merasa diri lebih benar, niscaya kita tidak akan mampu menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan. Bagaimanapun juga kita diingatkan “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Efesus 4:2), “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (ay 31) dan “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (ay 32). Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pesan untuk menggembalakan domba-dombaNya dan mewartakan kabar gembira telah Dia wariskan. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk selamat! Dan siapa tahu, mungkin lewat diri kita Tuhan mau menjangkau mereka untuk bertobat. Mungkin kita yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka hingga mengenal kebenaran dan lepas dari jebakan iblis. (2 Timotius 2:25-26). Hari ini marilah kita berhenti menghakimi dan mulai belajar mengasihi saudara-saudara kita dan menjadi teladan yang baik, sesuai dengan keteladanan yang telah diberikan Yesus.

Teladani Yesus dalam mengasihi tanpa batas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here