Yusuf dan Istri Potifar: Ketika Sendirian

Ayat bacaan: Kejadian 39:9
=======================
“..Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

ketika sendirian

Sungguh sulit mencari orang yang benar-benar bisa dipecaya saat ini. Betapa sering kita mendengar keluhan seperti itu. Di rumah kita mungkin mendengarnya dari orang tua kita, di kantor juga demikian. Atau jangan-jangan kita sendiripun sulit dipercaya. Lembaga-lembaga pengawas terus berdiri di mana-mana, tapi lembaga-lembaga seperti ini pun tidak 100% bersih. Ketika diawasi mungkin pencurian atau korupsi bisa ditekan, tetapi seperti tikus, mereka yang sudah kotor pikirannya akan selalu mampu mencari lubang atau celah baru. Begitu menemukan jalan baru, atau ketika tidak diawasi, maka penipuan akan kembali terjadi. Hari-hari ini orang memang lebih takut terhadap manusia ketimbang Tuhan. Mereka lebih takut hukuman di dunia ketimbang hukuman yang kekal kelak menimpa mereka yang berlaku curang. Segala bentuk penipuan atau kejahatan rasanya akan aman apabila tidak ada orang yang melihat. Itulah sebabnya saya menyimpulkan bahwa ujian yang sebenarnya dari siapa diri kita akan tampak ketika kita sedang sendirian.

Yusuf adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang pernah diuji ketika sedang sendirian. Ketika ia dibeli sebagai budak dan dibawa ke Mesir, performance kerjanya ternyata sangat baik karena Tuhan terus menyertai dia (Kejadian 39:2-3). Maka tuannya, Potifar pun kemudian diangkat menjadi pelayan pribadi yang diperbolehkan keluar masuk secara bebas ke dalam rumahnya. Kepada Yusuf diberikan kekuasaan atas rumah dan harta benda miliknya (ay 4). Artinya Yusuf dianggap mampu dipercaya lebih dari para bawahan lainnya. Pada saat itulah ternyata istri Potifar menaruh minat terhadap Yusuf. Apalagi segala kualitas Yusuf itu didukung pula oleh sikap yang manis dan tampan. (ay 6). Inilah yang terjadi selanjutnya. “Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: “Marilah tidur dengan aku.” (ay 7). Ingat pada saat itu Yusuf sedang sendirian bersama istri tuannya di rumah. Tidak ada yang melihat bukan? Tentu akan sangat mudah melakukan itu, apalagi kesempatan sudah terbuka lebar. Tetapi apakah itu dilakukan Yusuf? Tidak. Ia dengan tegas menolak. Bahkan ketika wanita itu berulang kali merayu, Yusuf tidak bergeming dan memilih untuk menjauh darinya. Mengapa bisa demikian? Ada dua alasan. Pertama, Yusuf mau memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan tuannya Potifar terhadap dirinya. Dan kedua, yang paling penting, Yusuf tahu bahwa biar bagaimanapun Tuhan akan melihat segala sesuatu yang dilakukannya. Meski ketika ia sendirian, meski ketika tidak ada satupun manusia yang melihat. Ia berkata: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Ketika kita sedang sendirian seperti Yusuf dan berhadapan dengan godaan yang bagi kedagingan kita mungkin terasa nikmat, apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita perbuat ketika tidak ada satupun yang sedang mengawasi kita? Saat kita bekerja dan tidak ada atasan kita mengawasi, apakah kita akan tetap melakukan yang terbaik seperti halnya ketika sedang diawasi? Godaan akan selalu datang dalam hidup kita. Bahkan intensitasnya biasanya akan meningkat pada saat kita sedang sendirian. Tapi kita harus ingat bahwa biar bagaimanapun Tuhan tetap mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan. Berbagai bentuk penipuan, kejahatan dan dosa-dosa walaupun kita sembunyikan serapi apapun akan selalu terlihat jelas oleh Tuhan. Orang-orang fasik akan berpikir bahwa mereka bisa menyembunyikannya dari Tuhan. Mereka akan sangat sibuk mencari cara dan menyiapkan dalih dengan sejuta alasan untuk menutupinya. Pemazmur menulis: “Ia berkata dalam hatinya: “Allah melupakannya; Ia menyembunyikan wajah-Nya, dan tidak akan melihatnya untuk seterusnya.” (Mazmur 10:11). Tapi benarkah demikian? Tentu tidak. Lihatlah apa kata Tuhan dalam kitab Yesaya. “Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”? (Yesaya 29:15-16).

Tuhan mengetahui segalanya, bahkan yang paling tersembunyi sekalipun. Firman Tuhan berkata “Sebab Aku mengamat-amati segala tingkah langkah mereka; semuanya itu tidak tersembunyi dari pandangan-Ku, dan kesalahan merekapun tidak terlindung di depan mata-Ku. (Yeremia 16:17). Tidak peduli sepintar apapun kita menutupi kejahatan yang kita lakukan, Tuhan akan tetap melihat seluruhnya, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:22). Jika kita berpikir bahwa itu hanyalah masalah bagi orang-orang diluar Kristus saja, itu tidaklah benar. Karena kenyataannya ada banyak pula di antara orang percaya yang terjatuh dalam jerat dosa ketika mereka memiliki kesempatan untuk melakukan kecurangan dan berbagai kejahatan lainnya. Dan hal ini pun sudah terjadi sejak dahulu kala. Pikiran bahwa Tuhan tidak melihat kejahatan manusia pun bisa menimpa tua-tua Israel, orang-orang yang seharusnya menjadi teladan. (Yehezkiel 8:12).

Ada atau tidak yang melihat, ingatlah bahwa Tuhan tetap sanggup melihat semuanya itu secara jelas. Yusuf jelas tahu itu, dan ia tidak terjebak untuk melakukan hal yang mengecewakan Tuhan meski kesempatan untuk itu ada. Kualitas diri kita seringkali bukan diukur ketika kita sedang berada di tengah-tengah orang lain, tetapi justru akan terukur jelas apabila kita sedang sendirian. Sudahkah kita menjadi orang-orang yang bisa dipercaya sepenuhnya, baik oleh sesama kita maupun oleh Tuhan? Mampukah kita menjaga kesetiaan, kejujuran dan kepercayaan, menjaga performance kita dalam bekerja sama baiknya ketika sendirian dengan ketika sedang diperhatikan? Ingatlah apa yang dilakukan Yusuf pada saat anda tengah sendirian. Jangan termakan godaan apapun dan teruslah berpegang teguh pada Tuhan. Mari kita uji karakter dan sikap hidup kita hari ini, apakah kita sudah bisa dipercaya atau belum. Jika belum, segeralah berhenti melakukannya, karena Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita, bahkan yang paling tersembunyi rapi sekalipun.

Berbagai godaan mungkin terlihat menyenangkan, tetapi haruskah kita melakukan kejahatan yang besar dan berbuat dosa terhadap Allah?

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: