Yustina Rostiawati, Ketua Baru WKRI Masa Bakti 2013-1018

< ![endif]-->

NAMA panggilannya cukup singkat Yustin. Namun, perempuan kelahiran Pekalongan di Jawa Tengah ini punya nama lengkap Yustina Rostiawati. Profesi ahlinya adalah dosen mata kuliah psikologi di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta. Namun, beberapa tahun terakhir ini bangku-bangku kuliah dia tinggalkan karena tugas dan kewajibannya sebagai anggota Komisioner Komnas Perempuan.

Nah, kali ini tugas baru menyongsong datang menjumpai Yustin.

Dalam Konggres Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) ke-19 yang baru saja berlangsung 28-31 Oktober 2013 lalu ini, Yustin didapuk badan tertinggi dalam perkumpulan para perempuan katolik Indonesia ini menjadi Ketua Umum WKRI yang baru untuk masa bakti kepemimpinan kurun lima tahun ke depan (2013-2018).

Kongres WKRI yang baru laluitu  dihadiri tak kurang dari 492 peserta yang datang dari seluruh kawasan Indonesia. Termasuk tentu saja para utusan resmi mewakili 32 DPD yang berjumlah 217 utusan. Konggres menjadi lebih semarak dengan hadirnya 233 orang peninjau, 28 penasehat rohani dan 24 orang mewakili YDI.

Sedangkan tema besar yang dirembug dalam Konggres WKRI ke-19 ini adalah Kualitas   Hidup    dan   Kehidupan  Demi  Mencapai  Ketahanan Masyarakat Menuju Indonesia Sejahtera yang Berkeadilan. “Gagasan besar ini sebenarnya melanjutkan tema besar dua konggres sebelumnya serta ingin melihat  perkembangan kondisi sekarang yang ternyata malah menurun atau mundur dalam hal karakter bangsa,” ujarnya dalam sebuah perbincangan dengan Sesawi.Net belum lama ini.

Sesuai dengan risalah hasil Konggres, demikian lanjut Yustin, yang dimaksudkan dengan ketahanan masyarakat itu mencakup sendi-sendi fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Justina Rostiawati ceramah Ehem ok

Taruhlah itu seperti kemandirian  bangsa  dalam  rangka  berkedaulatan  di  bidang  keamanan. Juga  rasa aman untuk dapat berpartisipasi dalam mengaktualisasikan diri dan dalam proses pembangunan   berkesinambungan   (human   security),   pangan,   membangun   karakter   bangsa   yang dapat menopang segala sendi (kualitas) kehidupan bangsa. Tak lupa juga, keinginan bersama  untuk senantiasa mewujudkan Indonesia yang  sejahtera berkeadilan.

Pada kesempatan Konggres ke-19 WKRI itu, juga tampil sejumlah nara sumber penting baik dari lingkungan pemerintahan pusat dan daerah (DKI Jakarta) serta Mgr. Ignatius Suharyo Pr, mewakili KWI. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu ikut tampil memberikan pandangan dan wawasan.

“Sementara Bapak Uskup Agung Diosis Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo menyatakan terimakasihnya karena WKRI telah menampilkan ‘wajah’ Allah dan mewartakan Kabar Gembira di antara masyarakat, terutama di kalangan kaum perempuan. Itu berarti WKRI mampu menjadikan dirinya sebagai karya Agung Allah dan menjadi berkat untuk semua,” tutur Yustin mengutip risalah hasil Konggres.

Gerakan advokasi perlindungan anak

Sesuai amanat Konggres, lanjutnya, Yustin menuturkan bahwa WKRI harus bergerak aktif dalam advokasi mengenai pemberdayaan   perempuan       dan  perlindungan     anak     (KPPPA). Langkah ini penting, lanjutnya, karena sejalan dengan visi ke depan untuk mengkampanyekan program ‘Kota Layak Anak’ dimana perlindungan terhadap anak-anak mendapat tempat.

Dalam paparan wawasan, Dr. Elisabeth Jane Soekadi menyuguhkan data berkaitan dengan     kesehatan     dan    terlihat    semakin     memburuknya        kondisi    kehidupan     manusia     Indonesia khususnya   kondisi   ibu   dan     anak.   Untuk   keluar   dari   kondisi     ini,  perlu   mengupayakan pendidikan   ibu   dan   anak,   dan   dalam   hal   ini   KemenKes  mengajak   kerja   sama   Wanita   Katolik   RI.

wkri_banner copy“Kabinet” WKRI dengan komando Yustin ini yang duduk sebagai anggota DPD sebagai berikut:

·        Ketua Presidium: Yustina Rostiawati

·        Anggota Presidium I: Hildegard Della Puspita

·        Anggota Presidium II: Anastasia Irawatie

Perkenalan Sesawi.Net dengan Yustin dalam beberapa tahun terakhir ini memberi kesan, perempuan mungil ini sangat aktif berkiprah di Komnas Perempuan. Karena posisinya sebagai komisioner Komnas Perempuan, Yustin selalu sibuk kesana-kemari untuk tugas advokasi hak-hak perempuan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Sekali waktu, Justin baru saja datang dari New York di pagi hari namun petang hari sudah harus terbang lagi ke daerah lain di Indonesia untuk tugas melakukan advokasi publik.

Gerakan anti korupsi di lembaga dan hirarki Gereja

Sebagai warga Gereja Paroki St. Yakobus Kelapa Gading di Jakarta Utara, kiprah  Yustin sebagai orang katolik lebih banyak dilakukan di forum lain yang sifatnya non parokial namun kategorial. Bersama Romo Y. Edy Purwanto Pr (Direktur Kantor KWI/Pro-Sekretaris KWI), FX Adisusanto SJ dari Pusdok KWI, Wiwiek D. Santoso  (Grup Astra International), dr. Prastowo (profesional), Wisnu Rosariastoko (profesional), Al Murbandono (coaching trainer), Wiwiek (counselor), Dr. Toto Subagya (ahli spiritualitas) dan Royani “Ping” Lim (Direktur Eksekutif Yayasan Bhumiksara), Yustin selalu aktif berkiprah dalam sebuah tim kecil training for trainers untuk gerakan advokasi anti korupsi di kalangan lembaga gerejani dan hirarki.

Gerakan advokasi anti korupsi di lembaga dan hirarki gerejani yang diikuti Justin ini diprakarasai oleh Yayasan Bhumiksara yang berkedudukan di Jakarta.

Mengambil makna sebagai ‘garam dunia’, Yayasan Bhumiksara adalah sebuah lembaga nirlaba bentukan alm. Romo Kuylaars Kadarman SJ bersama para pendiri Universitas Atmajaya Jakarta. Mengadopsi gagasan gerakan anti korupsi Ehem! di Filipina hasil besutan pastur Jesuit Fr. Albert Alejo SJ, gerakan anti korupsi model Ehem! yang digagas Yayasan Bhumiksara ini sudah berjalan dua tahun.

Di situ pula, Yustina Rostiawati ikut berkiprah menyebarkan virus anti korupsi di kalangan para personil lembaga gereja dan hirarki bersama tim Ehem! Yayasan Bhumiksara. Setelah menggelar workshop di Keuskupan Bogor, Padang, Purwokerto, Palangkaraya, dan Jakarta, gerakan anti korupsi model Ehem! yang dimotori Yayasan Bhumiksara bersama Yustin Rostiawati dan kawan-kawan dalam waktu dekat akan berlangsung di Keuskupan Manado dan Keuskupan Sintang (Kalimantan Barat).

Situs resmi WKRI adalah http://www.wkri.org/

 

Photo credit: Yustina Rostiawati tampil dalam sebuah lokakarya gerakan anti korupsi di kalangan para profesional di KAJ yang disponsori Yayasan Bhumiksara di Jakarta (Mathias Hariyadi)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: