Yuk Nyepi di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Ruteng

rr waelengkas 2TEMPATNYA sejuk, sepi dan hening. Memang pas untuk kegiatan rohani seperti retret, rekoleksi atau menyendiri. Nama tempat ini Rumah Retret Bunda Karmel. Letaknya di Wae Lengkas, Kelurahan Golodukal, Manggarai, Flores, NTT. Di kaki Gunung Ranaka, rumah retret ini berdiri dan diberkati pertama kali oleh Sang Uskup, Mgr. Eduardus pada 11 Februari 2004. Selain sejuk dan sepi, pemandangan alam yang indah dan suasana yang begitu tenang karena tempat ini sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat hati tenang bagi siapa saja yang tinggal di tempat ini. Ini adalah surga bagi para pertapa atau penyendiri. Untuk sampai di tempat ini butuh waktu kurang lebih 30 menit dari pusat Kota Ruteng. Melewati jalanan berbatu, berkelok, naik turun, memberi tantangan tersendiri bagi para pengunjung. Kota Ruteng merupakan rumah cabang pertama yang dibuka oleh Putri Karmel. Pada tanggal 19 Maret 1992, Putri Karmel memulai komunitas di Ruteng di daerah Cewonikit. “Awal mula Putri Karmel dimulai di daerah Cewonikit, tahun 1992. Saat itu kami masih menyewa,”tutur Sr. Stefani. Namun karena kasih dan Penyelenggaraan Ilahi, proses pembukaan rumah cabang di Ruteng ini berjalan sukses melalui Bapak Uskup Mgr. Eduardus yang terbuka untuk menerima Putri Karmel di Keuskupannya.   “Lalu pada tahun 2003 kami membeli tanah di kelurahan Golodukal -We Lengkas lalu mendirikan rumah retret ini.” lanjut Sr Stefani. Sejak didirikan pada tahun 2003, Rumah Retret Bunda Karmel ini mulai dipakai untuk bermacam kegiatan rohani seperti retret, rekoleksi, dan pelatihan-pelatihan, baik yang diadakan oleh para suster, romo, atau kelompok-kelompok mahasiswa dan umat. Rumah retret beratap merah ini diberkati Bapak Uskup Mgr. Eduardus pada 11 Februari 2004 dan diberi nama“Rumah Retret Maria Bunda Karmel.” “Puji Tuhan sejak diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Eduardus, Rumah Retret ini menjadi rumah retret yang cukup produktif. Di sini sering dipakai untuk kegiatan rohani. Sebelum acara pelatihan menulis dan public speaking yang diadakan Komsos KWI, Romo Frans juga pernah mengadakan pelatihan kepemimpinan di tempat ini”, lanjut Sr. Stefani yg hampir 9 tahun tinggal di rumah retret ini.   3 Unit Bangunan Rumah retret ini memiliki 6 unit bangunan yang berdiri secara terpisah. 3 unit bangunan untuk penginapan yang terdiri kamar-kamar dengan total kamar lebih dari 50 kamar. 1 unit bangunan kapel, 1 unit aula sebagai pusat kegiatan, dan 1 unit bangunan tempat tinggal Suster Putri Karmel yang mengelola rumah retret ini. Meski belum dilengkapi listrik dari PLN, rumah retret ini memiliki genset, sehingga tamu yang menginap tidak perlu kawatir dengan penerangan. Genset mulai dinyalakan pada pukul 5.00- 8.00 pagi, dan 17.00- 21.00. “Kami sudah pernah meminta kepada PLN, tapi karena lokasi kami yang terpencil dan jauh dari pusat kota, kami diminta untuk membeli tiang dan kabel sendiri oleh PLN. Biayanya milyaran. Kami tidak sanggup”, cerita Sr. Stefani. Karena dekat dengan pusat Kota Ruteng, jaringan internet pun tidak perlu dikhawatirkan. Sinyal ponsel dan internet dengan penyedia jasanya telkomsel tak diragukan lagi. Kencang dan nggak pakai lama. Anda yang ingin mencoba merasakan damainya tempat ini, silakan datang dan rasakan sendiri.  

rr waelengkas 2

TEMPATNYA sejuk, sepi dan hening. Memang pas untuk kegiatan rohani seperti retret, rekoleksi atau menyendiri. Nama tempat ini Rumah Retret Bunda Karmel. Letaknya di Wae Lengkas, Kelurahan Golodukal, Manggarai, Flores, NTT. Di kaki Gunung Ranaka, rumah retret ini berdiri dan diberkati pertama kali oleh Sang Uskup, Mgr. Eduardus pada 11 Februari 2004.

Selain sejuk dan sepi, pemandangan alam yang indah dan suasana yang begitu tenang karena tempat ini sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat hati tenang bagi siapa saja yang tinggal di tempat ini. Ini adalah surga bagi para pertapa atau penyendiri.

Untuk sampai di tempat ini butuh waktu kurang lebih 30 menit dari pusat Kota Ruteng. Melewati jalanan berbatu, berkelok, naik turun, memberi tantangan tersendiri bagi para pengunjung. Kota Ruteng merupakan rumah cabang pertama yang dibuka oleh Putri Karmel. Pada tanggal 19 Maret 1992, Putri Karmel memulai komunitas di Ruteng di daerah Cewonikit.

“Awal mula Putri Karmel dimulai di daerah Cewonikit, tahun 1992. Saat itu kami masih menyewa,”tutur Sr. Stefani. Namun karena kasih dan Penyelenggaraan Ilahi, proses pembukaan rumah cabang di Ruteng ini berjalan sukses melalui Bapak Uskup Mgr. Eduardus yang terbuka untuk menerima Putri Karmel di Keuskupannya.

 

“Lalu pada tahun 2003 kami membeli tanah di kelurahan Golodukal -We Lengkas lalu mendirikan rumah retret ini.” lanjut Sr Stefani.

Sejak didirikan pada tahun 2003, Rumah Retret Bunda Karmel ini mulai dipakai untuk bermacam kegiatan rohani seperti retret, rekoleksi, dan pelatihan-pelatihan, baik yang diadakan oleh para suster, romo, atau kelompok-kelompok mahasiswa dan umat.

Rumah retret beratap merah ini diberkati Bapak Uskup Mgr. Eduardus pada 11 Februari 2004 dan diberi nama“Rumah Retret Maria Bunda Karmel.”

“Puji Tuhan sejak diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Eduardus, Rumah Retret ini menjadi rumah retret yang cukup produktif. Di sini sering dipakai untuk kegiatan rohani. Sebelum acara pelatihan menulis dan public speaking yang diadakan Komsos KWI, Romo Frans juga pernah mengadakan pelatihan kepemimpinan di tempat ini”, lanjut Sr. Stefani yg hampir 9 tahun tinggal di rumah retret ini.

Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Ruteng, Flores, NTT. Foto-foto : Retno Wulandari
rr 2
RR waelengkas

 

3 Unit Bangunan
Rumah retret ini memiliki 6 unit bangunan yang berdiri secara terpisah. 3 unit bangunan untuk penginapan yang terdiri kamar-kamar dengan total kamar lebih dari 50 kamar. 1 unit bangunan kapel, 1 unit aula sebagai pusat kegiatan, dan 1 unit bangunan tempat tinggal Suster Putri Karmel yang mengelola rumah retret ini.

Meski belum dilengkapi listrik dari PLN, rumah retret ini memiliki genset, sehingga tamu yang menginap tidak perlu kawatir dengan penerangan. Genset mulai dinyalakan pada pukul 5.00- 8.00 pagi, dan 17.00- 21.00. “Kami sudah pernah meminta kepada PLN, tapi karena lokasi kami yang terpencil dan jauh dari pusat kota, kami diminta untuk membeli tiang dan kabel sendiri oleh PLN. Biayanya milyaran. Kami tidak sanggup”, cerita Sr. Stefani.

Karena dekat dengan pusat Kota Ruteng, jaringan internet pun tidak perlu dikhawatirkan. Sinyal ponsel dan internet dengan penyedia jasanya telkomsel tak diragukan lagi. Kencang dan nggak pakai lama. Anda yang ingin mencoba merasakan damainya tempat ini, silakan datang dan rasakan sendiri.

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply