Yesus Si Roti Hidup (3)

PERNYATAAN Pernyataan Tuhan pada perjumpaan pertama “Son…it’s Me..” benar-benar menginspirasi Dewa untuk menjadi ‘bapa’ bagi generasi muda yang membutuhkan. Dewa ingin membagikan kasih Bapa yang telah ia terima kepada anak-anak terlantar yang kekurangan kasih sayang. Dewa juga punya mimpi ingin membangun sebuah rumah susun untuk menampung orang-orang tidak mampu, pengidap HIV AIDS, kusta dan orang-orang yang terbuang.

Terbuang dari keluarga, tidak berdaya, lapar, miskin, dan terhina, tapi semuanya itu cara Tuhan untuk melatih Dewa berperang sebelum masuk ke dalam panggilan yang sesungguhnya. Dewa adalah orang sangat mengerti akan arti terbuang, dan terpinggirkan. Dan dengan pengertian itu ia membagi kasih Yesus kepada orang-orang yang mengalaminya untuk bangkit dari keterpurukan.

Saat divonis HIV, dokter menyatakan bahwa hidup Dewa hanya tinggal beberapa bulan lagi. Menyadari itu Dewa benar-benar bekerja keras untuk Tuhan,  memanfaatkan waktu yang tersisa. Ternyata sudah hampir 5-6 tahun lamanya sejak dia divonis HIV; dan Dewa masih tetap tegak berdiri menyatakan kasih Tuhan kepada jiwa yang hilang.

Ada satu ayat yang dia kutip: “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. (1 Korintus 15:10). Dewa benar-benar pekerja keras. Bahkan rela menyerahkan hak untuk hidup nyaman  demi bekerja keras bagi jiwa yang hilang. Dan yang lebih mengagumkan seperti Paulus ia berkata, bahwa semuanya itu karena kasih karunia Tuhan yang menyertainya.

Dewa mengalami mukjijad, ia bertemu langsung dengan Allah sendiri. Hidupnya berubah, karena ia berani meninggalkan zona nyaman kehidupannya, karena pertemuan dan penerimaannya akan Tuhan sebagai Penyelamatnya. Dia tumbuh dalam pergulatan hidupnya bersama Tuhan. Zona nyaman adalah wilayah dimana kita mau berbuat sesuatu yang baik, sebagai kebiasaan kita.

Biasanya kita tidak mau keluar dari zona nyaman kita, melakukan hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman, tidak aman dan menyulitkan diri. Dewa dua kali meninggalkan zona nyamannya. Pertama saat memilih menjadi percaya kepada Yesus; ia kehilangan keluarga dan kenyamanan hidupnya. Kedua, ketika sudah mapan bersama saudara seiman, dia memilih tinggal bersama orang-orang yang ingin dilayaninya secara total.

Orang-orang Yahudi di jaman Yesus, mengalami mukjijad, tetapi mereka malah memperkuat zona nyaman mereka, minta Yesus memenuhi kebutuhan mereka: roti tanpa kerja, sensasi melihat tontonan hebat atau menjadi pemimpin yang membebaskan mereka dari penjajahan Roma. Mereka mencari hasil untuk kenyamanan hidup dan tidak ingin berubah karena bertemu dengan Yesus, yang jelas akan memberi lebih dari pada sekedar kebutuhan pemenuhan hidup sehari-hari.

Kita pun pasti sudah pernah menerima berkat, meski mungkin bukan dalam bentuk mukjijad yang heboh. Apakah berkat itu membuat kita lebih sedia dan setia mengikuti Yesus? Atau sekedar puas bahwa Tuhan baik, membantu saya supaya hidup saya lebih nyaman, berkurang kesusahan dan meringankan perjuangan hidup saya?

Yesus bersabda: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Kita yang hadir dalam Perayaan Ekaristi ini menerima roti hidup, yaitu Tuhan Yesus sendiri, yang merupakan tanda nyata kehadiran Allah dalam hidup kita. Semoga kita tidak sibuk mencari berkat, sehingga kita tidak melupakan Dia, tetapi dapat menemukan kehadiranNya pula dalam hidup sehari-hari, yang membuat kita lebih setia dan sedia mengikuti Dia. Amin.

selesai

ARTIKEL  TERKAIT

Yesus Si Roti Hidup (2)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah dari kitab yeremia 31:7-9
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: