Pekan IV Paskah: Kis 11:1-18; Mzm 42:2-3; 43:3-4; Yoh 10:11-18
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11)

SUATU hari, beberapa waktu yang lalu di awal tahun 2014 ini, di RS Hermina Jl Pandanaran Semarang, saya berjumpa dengan seorang pemuda yang tanpa ragu memperkenalkan diri sebagai ateis kepada saya. Meski demikian, dari sorot mata dan senyum di wajahnya, saya yakin dia seorang ateis yang baik.

Saya pun menerima perkenalannya dengan ramah . Dia sangat fasih menyebut saya, “Romo” Dia pun bertanya, “Romo bertugas di mana?” Wow!

Perjumpaan itu membuat saya memiliki harapan bahwa suatu saat dia akan kian terbuka menerima saya dan iman saya akan Kristus. Tak lama setelah itu, saya mengunjungi dia di tempat kerjanya. Saat saya baru turun dari mobil, dia sudah membuka pintu tempat kerjanya dan tersenyum lebar, dan berkata “Selamat datang Romo! Ada yang bisa saya bantu…” Wow! Wow!

Saya pun menyampaikan inti persoalan yang saya bawa, terkait dengan perangkat komunikasi saya, Blackberry. Dia melayani dengan sangat ramah. Saat itu di tempat kerjanya masih terdengar lagu Natal sebagai ringtone, padahal masa Natal sudah lewat. Saya komentar, “Kok masih ada yang merayakan Natal ya?” Teman baru saya itu tertawa dan bilang, “Aku ndak ikut-ikut loh…!”

Itu perjumpaan saya yang kedua dengannya.

Perjumpaan ketiga, dia mengantar perangkat saya yang dia reparasi ke Kebon Dalem. Dan saat saya tanya, berapa ongkosnya, dia bilang, “Tanpa ongkos!” Dus, makin jelas bahwa dia seorang ateis yang baik. Saat itu saya pun memberikan album rohani dan buku karya saya “Kusujud dan Berdoa” kepadanya sebagai ucapan terima kasih. “Kalau sempat dengarkan lagu saya dan baca buku saya ini ya… Tapi maaf isinya sangatkKatolik ya.”

Dia menerimanya dan berterima kasih.

Dua Minggu lalu, saya seperti biasa, 30 menit sebelum Misa Minggu, seperti biasa, saya selalu berdiri di depan pintu gereja untuk beri salam kepada umat yang ke gereja lewat pintu utama. Itu kebiasaan saya. Saya kaget saat melihat dia dengan wajah cerah datang ke gereja. Saya sambut dia dengan jabat erat, sambil bilang, “Welcome and thank you for your coming!” Dia jawab, “I keep my promise!”

Katanya. Dia memang berjanji suatu saat akan ke gereja sejak berjumpa dengan saya pertama kalinya itu.

Saya beri dia lembar teks Misa Minggu. Dia duduk, dan… membuat tanda salib… lalu berdoa… Wow! Wow! Wow! Saya pun terheran-heran! Dia belum baptis! Dia mengaku ateis! Dia ke gereja untuk ikut Misa Minggu Sore dan duduk di bangku paling belakang pojok paling kanan dari arah altar.

Itu perjumpaan keempat kalinya.

Dan Minggu Sore, 11 Mei 2014, dia datang lagi ke gereja Kebon Dalem. Kali ini dia datang tak sendirian. Dia ajak teman lain. “Romo saya ajak satu lagi…” Wow! Dia membawa temannya yang juga ateis untuk ke gereja ikut Misa Kudus.

Saya berterima kasih kepadanya. Dia bilang, “Saya yang berterima kasih pada Romo…”

Saya masih belum tahu apa yang akan terjadi nantinya. Yang jelas, perjumpaan itu semakin menegaskan kebenaran bahwa Yesus adalah Gembala yang Baik dan saya mau menjadi gembala yang baik pula untuk semua orang, termasuk bagi dia yang mengaku ateis itu…

Benarlah bahwa salah satu buah dari Adorasi Ekaristi Abadi adalah pertobatan dan iman. Saya mendapat anugerah itu berkat perjumpaan dengannya.

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sang Gembala yang Baik. Gembalakanlah kami, dan semua orang yang berkehendak baik, termasuk teman-temanku yang menyatakan diri ateis, namun mau datang ke gereja. Semoga ini menjadi pintu iman kepada mereka, kini dan sepanjang masa. Amin.

Photo credit: Ilustrasi tentang ateisme (Courtesy of Larry Dixon)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.