Thursday, 30 October 2014

Yesus Sang Entrepreneur: Mengubah Mindset (4)

DALAM hidup, kita menggunakan pemikiran dan perasaan. Dalam proses tersebut orang mengalami interaksi eksternal maupun internal. Dari interaksi tersebut akan terbentuk yang namanya persepsi. Jika semuanya itu kemudian memengaruhi atau malah menentukan perilaku seseorang, itulah yang disebut mindset

Mindset bisa jadi  keliru dan karenanya perlu direvisi. 

Contoh mindset : Setiap orangtua pada awalnya mindset-nya adalah ‘Aku (orangtua) yang mendidik anak ‘. Realita kehidupan ternyata kebalikannya : anak yang mendidik orangtua untuk bersabar, mengampuni diri dan orang lain, dll. Kalau mindset orangtua tak diubah, anaklah yang akan jadi kurban. 

Contoh lain : « polisi tidur atau polisi hamil ». Awalnya dibuat untuk memaksakan kehendak/kuasa : di depan rumah/tangsi penguasa orang yang lewat harus hormat, memperlambat kendaraan. Untuk itu dipaksa dengan polisi tidur. Karena hal itu berlangsung bertahun-tahun, maka mindset masyarakat  terbentuk demikian. Dan itu dianggap benar. 

Sekarang banyak orang yang punya mindset demikian. Jalan rusak diperbaiki bahkan di hotmix,  tetapi setelah jadi justru dibuat ‘polisi tidur’ lagi. Sebab mindset-nya : orang lewat harus diatur. Halusnya dipaksa dengan ‘polisi hamil’.  

Mindset kita sudah salah. Di Jerman, tanpa polisi tidur pun orang justru berkendaran dengan lebih baik. 

Bagaimana dengan mindset entrepreneur ? 

Mindset entrepreneur wujudnya adalah keberanian. Berani beda, berani ambil risiko, berani mengubah mindset. Meskipun zaman industri sudah lama lewat, namun banyak orang masih bermindset di zaman industri: Cita-cita hidupnya adalah mendapat gaji. 

Gaji adalah upah buruh. Kalau mindsetnya masih mindset pegawai, alias mindset miskin, maka watak entrepreneur tak akan terbentuk.  Seorang entrepreneur setidaknya harus bermindset kaya.  Untuk itu ia akan berani ambil risiko. Bagi dia, tak ada halangan. Yang ada hanya tantangan. Tak ada kata mundur, hanya karena kata orang. Ia justru beda, karena itu ia akan maju terus. Termasuk kalau risikonya kehilangan harta yang paling berharga. 

Mindset Yesus

Yesus persis melakukan demikian. Ia tampil beda. Ia minta dibabtis oleh Yohanes. Ia juru selamat yang beda; bukan pemenang, malah mati secara hina. Ia mengubah mindset orang tentang keselamatan. Keselamatan itu bukan soal nanti setelah mati. Keselamatan itu nyata, kini dan di sini: yang lapar dikenyangkan, yang buta dimelekkan, yang sakit disembuhkan, yang mati dihidupkan, dll. 

Yesus mengubah mindset orang tentang kekayaan dan kemiskinan: persembahan janda miskin. Ia juga jelas berani ambil risiko: ditolak, dibunuh bahkan secara hina. Ia berani menghadapai tantangan. Ia tak peduli kata, bahkan ancaman orang. Ia rela disebut bodoh, gagal, asal tujuannya tercapai: keselamatan manusia yang dicintaNya. 

Orang yang demikian, tak lain adalah orang yang berjiwa entrepreneur

Demikian jelaslah bahwa orang Kristen Katolik,  mestinya adalah seorang entrepreneur di zamannya. Yesus Sang entrepreneur adalah Yesus yang punya mimpi besar, punya keyakinan kuat, dan memiliki mindset sukses. Untuk itu ia harus cerdas finansial selain cerdas intelektual dan spiritual. 

Itulah tantangan kita. Berani? Yakin?

Yesus, Sang Entrepreneur, tambahkan iman dan perbuatan kami. (Selesai)

Photo credit: Berani Jalani Risiko (Mathias Hariyadi)

Artikel terkait:

 

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Yesus Sang Entrepreneur: Mengubah Mindset (4)"

Response on "Yesus Sang Entrepreneur: Mengubah Mindset (4)"