Yesus Mengetuk Pintu Tak Bergagang (1)

0
7

Ayat bacaan: Wahyu 3:20
====================
“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

Suatu kali saya datang berkunjung ke rumah seorang teman lama. Lama saya mengetuk pintu rumah, tapi tidak ada yang membukakan. Sepertinya sedang tidak ada orang di rumah. Saya pun mencoba meneleponnya, sesuatu yang mungkin tidak bisa kita lakukan sebelum ada teknologi telepon genggam seperti saat ini. Ternyata ia ada di rumah, tapi sedang berada jauh di taman belakang sehingga tidak mendengar ketukan saya. Satu hal yang pasti, saya tidak bisa masuk ke rumahnya apabila tidak ada yang membukakan pintu, meski saya sudah mengetuknya berulang-ulang. Kalau saya masih bisa masuk tanpa dibukakan pintu, itu maling namanya dan bukan tamu.

Sangatlah menarik apabila kita melihat lukisan yang didasarkan kepada Wahyu 3:20 yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Ada banyak versi lukisan, tetapi menariknya, hampir semua lukisan memiliki keanehan yang sama, yaitu bahwa pintu yang diketuk Yesus tidak punya gagang pintu di luar. Saya yakin itu bukanlah suatu kebetulan dan pasti ada alasannya. Ayat dalam Wahyu tersebut berbunyi: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

Secara jelas Yesus mengatakan bahwa Dia akan berdiri di muka pintu hati setiap orang dan mengetuknya. Dia tidak akan membuka sendiri karena semua itu tergantung kita, apakah kita mendengar suaraNya memanggil lalu tergantung pula apakah kita mau membukakan pintu hati kita supaya Yesus masuk. Yesus tidak akan memaksa, tetapi ketahuilah bahwa karya penebusan yang Dia lakukan itu bukan hanya untuk segelintir orang melainkan ditujukan untuk seluruh manusia. Bukan saja Yesus harus mengalami segala penyiksaan sampai pembunuhan mengerikan demi menebus kita, tetapi Dia pun kemudian mengetuk pintu hati kita masing-masing agar kita masuk ke dalam Perjamuan Nya yang kudus. Bukankah itu suatu bentuk kasih yang luar biasa besarnya bagi kita? Sulit sekali membayangkan ada manusia yang bisa memiliki kasih sebesar itu, tapi seperti itulah hati Allah yang ingin kita semua selamat tanpa terkecuali.

Mengapa kita bisa sepenting itu? Semua manusia di dunia ini berasal dari buah karya “masterpiece” Tuhan sendiri yang sungguh berarti bagiNya. Begitu berarti, sehingga manusia telah dilukiskan pada telapak tangan Tuhan dan tetap berada di ruang mataNya, dalam jarak pandangNya. (Yesaya 49:16). Dosa dan pelanggaran kita boleh saja besar di masa lalu, namun Tuhan tetap membukakan pintu pengampunan lebar-lebar. Dia sudah menyediakan keselamatan dan akan terus mengetuk hati kita agar mau menerima anugerah besar itu. Bukankah aneh dan keterlaluan kalau kita masih menampik dan membiarkan Tuhan lama diluar dan memaksanya beranjak pergi meninggalkan kita?

Ada banyak ayat yang menggambarkan bagaimana sikap Yesus terhadap undangan manusia, termasuk orang-orang yang berdosa. Alkitab mencatat beberapa kejadian yang berhubungan dengan kesediaan Yesus memenuhi undangan orang berdosa tersebut. Salah satunya adalah saat Yesus memenuhi undangan makan di rumah Matius seorang pemungut cukai. (Matius 9:9-13) Pada saat itu bukan saja Matius yang hadir, tapi ada banyak pula pemungut cukai lainnya yang hadir, termasuk orang-orang berdosa. Ayatnya berbunyi demikian: “Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.” (ay 10).

Orang Farisi melihat hal itu dan mulai mempertanyakan sikap Yesus. Sebagai manusia-manusia yang merasa paling suci, mereka tentu merasa najis untuk masuk ke dalam rumah orang yang dicap berdosa, apalagi kalau sampai makan segala bersama mereka. Tapi Yesus menjawab : “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (ay 12). Dan Yesus menutup perkataanNya dengan sebuah ajakan untuk merenung: “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (ay 13).

(bersambung)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here