Yesus, Harta yang Membahagiakan Kita Semata

bahagia memiliki Yesus by Dave PettengillSenin, 18 Agustus 2014. Hari Biasa Pekan XX Yehezkiel 24:15-24; MT Ul 32:18-19.20.21; Matius 19:16-22 “Kata Yesus kepadanya: Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang- orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21). Sabda Yesus ini disampaikan kepada seorang […]

bahagia memiliki Yesus by Dave Pettengill

Senin, 18 Agustus 2014. Hari Biasa Pekan XX
Yehezkiel 24:15-24; MT Ul 32:18-19.20.21; Matius 19:16-22

“Kata Yesus kepadanya: Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang- orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21).

Sabda Yesus ini disampaikan kepada seorang muda yang datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Matius 19:16).

Ia ingin memperoleh hidup yang kekal, hidup abadi. Tentunya hidup abadi yang bahagia surgawi yang sudah dimulai sejak masih di dunia. Kehidupan bahagia surgawi tak hanya dialami setelah kematian kita. Kehidupan surgawi sudah kita rintis dan nikmati sejak kita masih di dunia.

Maka ada istilah “swarga ndonya” (surga di dunia).

Kalau kita perhatikan, orang yang datang dan bertanya kepada Yesus itu bukan orang jahat atau jelek. Dia orang baik, baik amat saleh dan baik. Bayangkan, saat Yesus menjawab dia dan bersabda, “… jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (Matius 19:17).

Atas jawaban itu, dia berkata penuh percaya diri, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” (Matius 19:20)

Luar biasa baik hidup orang muda itu. Siapa di antara kita yang sudah seperti dia? Siapa di antara kita yang seberani dia memberikan jawaban, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” (Matius 19:20)

Meski demikian, dia belum puas juga dengan harapan masa depan. Dia masih bertanya kepada Yesus apa yang harus dilakukannya agar beroleh hidup kekal?

Ternyata, toh masih ada juga yang masih kurang di mata Yesus. Dia masih diikat oleh kelekatan atas semua hartanya. Orang muda yang terbaik dengan segala upaya rohani dan kesalehan itu masih harus melakukan satu hal saja menurut Yesus, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21).

Persis itulah kelemahan orang muda itu. Maka, mendengar sabda Yesus, dia pergi dengan sedih sebab dia kaya dan banyak harta namun miskin hati dan tak punya belarasa.

Yesus sesungguhnya mengajak pemuda itu untuk mengandalkan Allah, bukan mengandalkan diri sendiri yang hebat dan memenuhi segala hukum. Ada hukum lain yang harus dia lakukan yakni hukum kasih dan belarasa tanpa kelekatan satu pun pada harta dunia.

Dia pergi dengan sedih karena hartanya ada pada kekayaan duniawi bukan harta surgawi yang ditandai sikap lepas bebas dan belarasa kepada sesama yang miskin menderita.

Bila kita mau mengikuti Yesus, tak ada harta lain kecuali Yesus sendiri.  Tuhan Yesus sendirilah harta kekayaan kita. Kebahagiaan kita hanyalah memilki Dia, bukan lainnya.

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan anugerah terindah untuk kian memiliki Yesus dan menjadi milik-Nya. Syukur kepada Allah bila kita bisa melaksanakannya sebagai tanda komitmen kita mau ikut Yesus tanpa dihalangi oleh harta kekayaan dunia. Semoga hanya Yesuslah yang menjadi harta kita yang membahagiakan bukan yang menyedihkan!

Tuhan Yesus, hanya Engkaulah yang menjadi kepuasan kami yang terdalam. Tak ada satu harta pun yang bisa memuaskanku selain Dikau. Bebaskanlah kami dari segala kelekatan akan harta dunia dan egoisme agar kami bahagia bersama-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.

Girli Kebon Dalem

SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman.

 

Kredit foto: Bahagia memiliki Yesu

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply