Yesus dan Matius

Ayat bacaan: Matius 9:9
===================
“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”

matius

Saya selalu merasa kagum melihat hamba-hamba Tuhan yang bersedia melayani jemaat secara pribadi. Ditengah kesibukan mereka baik dalam pekerjaan, mengurus keluarga maupun melayani, mereka masih sanggup meluangkan waktu untuk counseling membantu orang, pasangan atau keluarga yang tengah menghadapi masalah. Tidak semua hamba Tuhan mau seperti ini, dan kita pun melihat ada banyak gereja hari ini yang lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas. Mereka akan setengah hati melayani apabila jemaatnya sedikit, tapi akan bersemangat jika ramai. Melayani satu persatu secara pribadi tentu menyita waktu dan tenaga. Tidak jarang pula mereka butuh dibimbing secara perlahan, yang artinya tidak akan cukup dalam satu sesi saja. Salah seorang pendeta pernah saya tanya dan menjawab, “selain itu memang tugas saya, bagaimana saya bisa berpangku tangan melihat jiwa yang lelah dan butuh bantuan? Biar satu orang, tapi kalau ia bisa merasakan jamahan Tuhan akan membuat saya sangat bersukacita.” katanya sambil tersenyum.  Apa yang dilakukan oleh para hamba Tuhan yang mau melayani sedikit atau bahkan satu orang saja ini memang luar biasa, terlebih jika mengingat banyak diantara mereka yang tidak mau mengeluarkan kemampuan terbaik ketika yang dilayani hanya satu orang. Mereka berpikir bahwa hanya buang-buang waktu saja rasanya melayani hanya satu orang. Ada pula yang berpikir bahwa sia-sia saja jika harus meladeni orang itu begitu berdosa, begitu hina dan dalam penilaiannya tidak ada lagi yang bisa diharapkan karena dosanya sudah terlalu besar. Tuhan tidak pernah mengajarkan demikian. Mari kita lihat keteladanan yang ditunjukkan oleh Yesus.

Yesus tidak pernah membeda-bedakan jumlah dalam pelayananNya di muka bumi ini. Yesus memberi pelayanan yang sama baiknya, baik di depan ribuan orang, maupun hanya satu orang. Kita bisa melihat bagaimana Yesus peduli meski terhadap satu orang lewat kisah perjumpaanNya dengan Matius. Matius tadinya bukanlah orang yang baik di mata masyarakat karena berprofesi sebagai pemungut cukai. Itu tandanya ia bekerja untuk kepentingan Roma, bangsa penjajah. Pemungut cukai digolongkan ke dalam orang berdosa pada masa itu dan dikucilkan masyarakat karena dianggap penghianat dan musuh. Pada suatu hari Yesus bertemu dengan Matius.”Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.” (Matius 9:9). Ayat ini terlihat singkat saja, tetapi mari kita lihat makna dibalik ayat ini. Yesus berbicara kepada Matius, itu artinya Yesus tidak melewatkan Matius begitu saja. Matius saat itu duduk seorang diri disana, dan ia adalah orang berdosa. Tapi perhatikan Yesus tidak melewatinya begitu saja tapi malah menghampiri Matius dan mengajaknya ikut. Selanjutnya tergantung keputusan Matius, dan ternyata Matius memilih untuk berdiri dan mengikut Yesus. Itu sebuah pilihan yang sangat tepat. Dari sana, Yesus lalu berkunjung dan makan di rumah Matius. Ternyata kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Matius didengar oleh pemungut cukai dan orang-orang lainnya yang dimata masyarakat dicap sebagai pendosa. Mereka pun berbondong-bondong datang. Dari satu kemudian berkembang menjadi banyak. Orang Farisi pun kaget melihat itu dan segera bertanya kepada para murid, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (ay 11). Lantas “Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (ay 12-13). Betapa tepatnya Yesus mengambil permisalan. Dokter tugasnya memang menyembuhkan orang sakit. Walau hanya satu orang, kalau sakit tentu diobati dan ditangani dengan sebaik-baiknya bukan? Demikian pula kata Yesus, bahwa tugasNya ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Meski hanya satu jiwa saja, itupun berharga bagiNya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Matius bertobat dan menjadi murid Yesus. Tidak hanya murid biasa, tapi ia pun termasuk dalam satu dari empat penulis Injil yang bisa kita baca hingga hari ini. Semua itu berawal dari keputusan Yesus untuk tidak memandang jumlah dan berkenan untuk mengurusi satu orang saja.

Ada dua perumpamaan diberikan Yesus mengenai hal ini. Pertama dalam perumpamaan tentang domba yang hilang. “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4). Jika satu domba hilang, tidakkah si gembala mau kembali ke padang gurun untuk mencari dombanya? Mungkin tersesat, mungkin celaka, dan mereka pasti rela kembali mencari untuk menyelamatkan dombanya. Demikian pula Yesus. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (ay 7). Meski hanya satu orang bertobat, sukacita di surga pun akan terjadi. Lalu selanjutnya ada perumpamaan tentang dirham yang hilang. “Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.” (ay 8-9). Satu keping uang perak hilang tentu akan dicari walaupun masih ada 9 uang perak lagi yang tidak hilang. Dan Yesus kemudian menyimpulkan, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (ay 10). Satu orang bertobat, seluruh malaikat pun akan bersorak sorai. Tidak harus seratus, seribu, sejuta, tapi satu saja sudah membuat seisi surga bersorak dengan penuh sukacita.

Satu jiwa itu sangat berharga di mata Allah. Tidakkah keterlaluan jika kita malah memandang kuantitas lebih dari kualitas? Sudahkah kita rela untuk meluangkan waktu dan kesibukan kita untuk melayani satu orang saja? Itu bukan hanya tugas dari para hamba Tuhan, tapi kita semua orang percaya pun punya kewajiban seperti itu. Menjadi terang dan garam bagi dunia tentu menjadi impian semua anak-anak Tuhan, tapi menjadi terang dan garam bagi satu orang, itupun tidak kurang pentingnya. Jika kita bisa mempertanggungjawabkan satu orang, Tuhan pasti akan melipatgandakannya kelak. Tapi berapapun jumlahnya, yang penting adalah kerinduan hati kita untuk melihat jiwa yang selamat. Mari kita lihat disekeliling kita, berbuatlah sesuatu bagi mereka meski hanya seorang saja. Bukan lewat kekerasan, paksaan atau intimidasi, tetapi Alkitab mengajarkan kita untuk melayani dengan sabar dan lemah lembut dengan didasari oleh kasih. Jangan berpangku tangan ketika melihat orang-orang yang putus pengharapan dan merasa terabaikan, sebab satu orang sekalipun sangatlah berharga bagi Tuhan.

Satu orang bertobat, seisi surga bersukacita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: