Yesus adalah Segalanya

jesus 2Minggu, 31 Agustus 2014. Pekan Biasa XXII Yeremia 20:7-9; Mazmur 63:2-6, 8-9; Roma 12:1-2; Matius 16:21-27 “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25) Injil hari ini penuh dengan paradoks hidup rohani. Yang menyelamatkan diri akan celaka. Yang rela menderita karena-Nya akan bahagia. […]

jesus 2

Minggu, 31 Agustus 2014. Pekan Biasa XXII

Yeremia 20:7-9; Mazmur 63:2-6, 8-9; Roma 12:1-2; Matius 16:21-27

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25)

Injil hari ini penuh dengan paradoks hidup rohani. Yang menyelamatkan diri akan celaka. Yang rela menderita karena-Nya akan bahagia. Yang memperoleh akan kehilangan. Yang kehilangan akan memperoleh.

Apa maksudnya? Tentu, itulah motivasi yang disampaikan Yesus agar kita menjadikan Dia segala-galanya bagi kita. Hanya Dialah yang kita cari dengan segala risiko dan konsekuensinya.

Kita percaya, hanya Yesuslah yang dapat membebaskan kita dari segala kelemahan dan dosa kita. Namun Yesus tidak pernah menjanjikan hal yang mudah. Jika dunia telah menolak Dia, maka dunia pun akan menolak kita.

Maka, kita tak perlu heran bila kita harus menderita dan berjuang dalam mengimani Dia. Kita juga tak usah terkejut bila kita menerima perjalanan dan kesulitan karena iman kita. Itulah bagian dari proses kehilangan nyawa untuk memperoleh kehidupan abadi. Itulah bagian dari salib yang harus kita pikul setiap hari.

Yang penting, tak usah cari jalan pintas. Bila kita berserah kepada-Nya, Yesus akan mencurahkan Roh Kudus sehingga kita tetap lurus dan tangguh dalan menggapai hidup kekal. Memang jalan iman dalam Yesus tidak gampang. Namun kita percaya, begitu besar kasih Allah kepada kita sehingga dalam Yesus Kristus kita bahagia dalam hidup abadi (bdk. Yoh 3:16).

Mungkin kita bisa memperoleh semua dan segalanya yang kita inginkan. Namun dalam sekejap, itu juga bisa sirna! Bukan itu yang kita cari. Yang kita cari adalah keabadian bukan kefanaan. Keabadian tak bisa dibeli dengan uang. Surga tak bisa dibayar dengan harta dunia. Itulah makna rela kehilangan demi memperoleh yang terbaik dalam Yesus Kristus.

Syukur kepada Allah bahwa kita boleh mencicipi kehidupan surgawi itu dalam Kristus. Rahmat-Nya tanpa batas. Hidup abadi yang dijanjikannya penuh sukacita tak akan tergusur oleh dukacita dunia.

Iman kepada-Nya menyelamatkan kita. Kita beroleh sukacita abadi dan hidup kekal. Kita melangkah dari kepahitan menuju kebahagiaan meski harus dengan memanggul salib. Namun salib itu telah membawa kita dari maut ke hidup dari neraka ke surga. Kita hanya perlu setia memikulnya.

Apa itu salib kita? Segala risiko dan konsekuensi iman kita itulah salib. Ia juga berupa kesulitan, tantangan dan perjuangan karena iman. Setiap upaya untuk setia itulah salib kita. Pengorbanan karena iman itulah salib kita.

Adorasi Ekaristi Abadi bisa jadi merupakan salib yang harus kita pikul untuk beroleh hidup abadi. Para martir Ekaristi memberi contoh kesetian memanggul salib dengan setia. Adorasi Abadi juga jadi daya kekuatan agar kita bisa memanggul salib dengan setia.

Tuhan Yesus Kristus, tak mudah ikut Engkau. Setiap hari kami harus berjuang menghadapi kesulitan yang sama. Berilah kami daya dan pengharapan agar tetap setia dalam memanggul salib meski harus kehilangan nyawa agar beroleh hidup abadi. Engkaulah segalanya bagi kami. Kuatkan punggung kami untuk memanggul salibMu. Kami sungguh ingin mengasihiMu. Engkaulah pusat hidup kami, selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem
(rmabudippr)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply