Yesus adalah Putra Allah, Mari Menjadi Pelaku dan Bukan Pelupa Sabda-Nya

son-of-God-imgJumat, 27 Maret 2015 Pekan Prapaskah V Yer 20:10-13; Mzm 18:2-7; Yoh 10:31-42 Yesus bersabda, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah kamu percaya kepada-Ku. … Bapa ada dalam Aku dan Aku di dalam Bapa…” … INJIL  hari ini mencatat bahwa para pemimpin Yahudi marah kepada Yesus dan mereka berniat membunuh Yesus. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah dan dengan demikian menyatakan diri-Nya setara dengan Allah. Itu alasan mereka dan itu merupakan suatu penghujatan! Menurut Kitab Musa, penghujatan kepada Allah itu suatu kejahatan yang harus direspon dengan hukuman mati. Tertulis dalam Kitab Imamat, “Barangsiapa menghujat nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan dilempari dengan batu oleh seluruh jemaat itu. … Bila ia menghujat nama Tuhan, haruslah ia dihukum mati”(Imamat 24:16). Namun Yesus membela hak-Nya menyebut diri-Nya sebagai Putra Allah dan bahwa itu bukan suatu penghujatan. Secara khusus, Yesus mengutip Kitab Mazmur, yang tentu saja tak bisa dibantah dan dibatalkan apa yang telah tertulis dalam Kitab Suci, “Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian’….” (Mzm 82:6). Maka Yesus menegaskan, kalau Kitab Suci saja mengatakan demikian, mengapa diri-Nya tidak boleh menyebut Anak Allah? Yesus lalu menerangkan bahwa Bapalah yang telah mengutus dan menguduskan-Nya untuk tugas perutusan khusus. Ia diutus ke dalam dunia untuk menjalankan tugas itu. Yesus bersabda, “Masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yoh 10:36). Semua pekerjaan baik yang dikerjakan Yesus: misalnya, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi makan yang lapar, menyatakan bahwa daya dan karya-Nya datang dari Allah. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus dengan penuh cinta, Yesus yang membawa misi keselamatan bagi kita dan menjadikan diri-Nya sebagai tebusan bagi dosa kita. Ia meretas hukuman dan penghambaan kita terhadap dosa. Di sana Ia menunjukkan kepada kita jalan menuju kebenaran dan kesucian. Tuhan Yesus Kristus, urapilah kami dengan daya-Mu untuk menghayati Injil dengan sukacita dan menjadi saksi-Mu di dunia. Buatlah kami pelaku sabda-Mu, dan bukan pelupa sabda-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin. Kredit foto: Ist  

son-of-God-img

Jumat, 27 Maret 2015
Pekan Prapaskah V
Yer 20:10-13; Mzm 18:2-7; Yoh 10:31-42

Yesus bersabda, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah kamu percaya kepada-Ku. … Bapa ada dalam Aku dan Aku di dalam Bapa…” …

INJIL  hari ini mencatat bahwa para pemimpin Yahudi marah kepada Yesus dan mereka berniat membunuh Yesus. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah dan dengan demikian menyatakan diri-Nya setara dengan Allah. Itu alasan mereka dan itu merupakan suatu penghujatan!

Menurut Kitab Musa, penghujatan kepada Allah itu suatu kejahatan yang harus direspon dengan hukuman mati. Tertulis dalam Kitab Imamat, “Barangsiapa menghujat nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan dilempari dengan batu oleh seluruh jemaat itu. … Bila ia menghujat nama Tuhan, haruslah ia dihukum mati”(Imamat 24:16).

Namun Yesus membela hak-Nya menyebut diri-Nya sebagai Putra Allah dan bahwa itu bukan suatu penghujatan. Secara khusus, Yesus mengutip Kitab Mazmur, yang tentu saja tak bisa dibantah dan dibatalkan apa yang telah tertulis dalam Kitab Suci, “Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian’….” (Mzm 82:6). Maka Yesus menegaskan, kalau Kitab Suci saja mengatakan demikian, mengapa diri-Nya tidak boleh menyebut Anak Allah?

Yesus lalu menerangkan bahwa Bapalah yang telah mengutus dan menguduskan-Nya untuk tugas perutusan khusus. Ia diutus ke dalam dunia untuk menjalankan tugas itu.

Yesus bersabda, “Masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yoh 10:36). Semua pekerjaan baik yang dikerjakan Yesus: misalnya, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi makan yang lapar, menyatakan bahwa daya dan karya-Nya datang dari Allah.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus dengan penuh cinta, Yesus yang membawa misi keselamatan bagi kita dan menjadikan diri-Nya sebagai tebusan bagi dosa kita. Ia meretas hukuman dan penghambaan kita terhadap dosa. Di sana Ia menunjukkan kepada kita jalan menuju kebenaran dan kesucian.

Tuhan Yesus Kristus, urapilah kami dengan daya-Mu untuk menghayati Injil dengan sukacita dan menjadi saksi-Mu di dunia. Buatlah kami pelaku sabda-Mu, dan bukan pelupa sabda-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.

Kredit foto: Ist

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply