Yes, I Do

Ayat bacaan: Maleakhi 2:14
====================
“Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.”

pernikahan, keluarga Ilahi, materai Tuhan, selingkuh, cerai

Bulan lalu saya bertemu dengan seorang artis senior yang sudah menjalani karir di dunia entertainment selama 58 tahun. Sebuah rentang masa yang sungguh panjang dalam berkarir, yang ternyata diikuti pula dengan catatan rekor luar biasa dalam hubungan suami istri. Beliau sudah menjalani 42 tahun pernikahan, dan hingga sekarang masih sangat harmonis. Saya bertanya apa rahasianya, karena kita sudah begitu terbiasa mendengar kisah artis kawin-cerai dengan didasari berbagai alasan. Ia menjawab: “intinya adalah, ketika kita mengatakan “yes i do”, it’s the end of a love seeking journey. Kita mengucapkan “Yes I do” bukan berbicara kepada penghulu, pastur, pendeta, pemuka agama, orang tua dan sebagainya, tetapi kepada Tuhan sendiri.” Ia melanjutkan: “Pernikahan itu bukan kontrak, tapi komitmen. Dan komitmen itu tidak main-main karena kita bicara sama Tuhan”. Ketika dunia selebritis seolah mempermainkan ikatan suami-istri seenaknya, apa yang dikatakan oleh artis senior ini sungguh mencengangkan. Istrinya ada disana, dan terlihat betapa hubungan mereka begitu mesra. Dan kita sedang berbicara mengenai sepasang suami istri yang mengucapkan ikrarnya 42 tahun yang lalu.

Gaya hidup modern penuh dengan kawin-cerai. Celakanya tidak hanya terjadi di antara mereka yang kurang menghayati pentingnya sebuah komitmen saja, tapi malah dituliskan pula menjadi lirik-lirik lagu yang sedikit banyak bisa mempengaruhi pola pikir seluruh lapisan masyarakat. Ada begitu banyak lagu yang seolah melegalkan kawin-cerai dan perselingkuhan. Sephia, Kekasih Gelap, Aku Cinta Kau dan Dia, Lelaki Cadangan, Jadikan Aku Yang Kedua, dan banyak lagi, menjadikan perasaan dan excuse-excuse lainnya sebagai legalitas berselingkuh dan bercerai. Tuhan tidak menyukai hal itu. Dia membenci hal itu. Mari kita baca Maleakhi 2. “Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” (Maleakhi 2:14-16). Tuhan membenci perceraian, Tuhan membenci orang yang berkhianat. Dan ketika ini terjadi, jangan heran jika hidup tidak lagi memiliki sukacita dan damai, karena Tuhan tidak lagi berkenan menerima persembahan apapun dari tangan mereka.

Sebuah pernikahan kudus adanya, dimateraikan bukan lagi dua melainkan menjadi satu langsung oleh Tuhan. Kita berbicara mengenai materai Tuhan, dimana Tuhan sendiri menjadi saksi sebuah pernikahan, bukan materai seharga Rp 6000 yang kita beli di kantor pos. Jika orang sudah takut melanggar sebuah perjanjian yang dimateraikan dengan keping kertas seharga Rp 6000, apalagi jika materai tersebut menyangkut Tuhan di dalamnya. Sebuah pernikahan di mata Tuhan adalah sebuah perjanjian Ilahi yang harus diisi dengan menghayati sebuah kesatuan. “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:5-6). Lebih lanjut, sebuah pernikahan, seperti yang dikatakan oleh sang artis senior, berarti sebuah komitmen untuk mengemban tanggung jawab. Mari kita lihat kitab Efesus. “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:33). Suami dan istri memiliki peran masing-masing yang haruslah saling isi, karena mereka bukan lagi dua melainkan satu.

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Lihatlah konsekuensi serius jika seorang tidak menghormati konstitusi pernikahan. Jika dalam Maleakhi di atas kita membaca Allah tidak berkenan menerima apapun dari tangan mereka lagi, dalam 1 Petrus 3:7 kita membaca bahwa doa-doa kita akan terhalang jika kita bisa menghormati pasangan hidup kita. Masalah akan selalu ada, baik dalam keluarga yang paling harmonis di dunia sekalipun. Yang membedakan adalah bagaimana menyikapinya. Semua masalah bisa diselesaikan dengan keterbukaan dan kejujuran, dan hendaklah diselesaikan dengan cepat, jangan ditunda-tunda hingga menumpuk dan menjadi rumit. Mencari pelarian di luar bukanlah sebuah penyelesaian, malah seringkali membuka permasalahan demi permasalahan baru yang akan mempersulit segalanya. Lebih dari itu, hal tersebut pun dibenci Tuhan. Walaupun ada teman-teman pembaca yang saat ini belum menikah, suatu saat nanti akan tiba saatnya bagi anda untuk memasuki jenjang pernikahan ini. Baik teman-teman yang sudah menikah maupun yang belum, mari kita bangun sebuah hubungan pernikahan yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan, sehingga rumah tangga kita bisa menjadi sebuah kesaksian yang indah bagi keluarga-keluarga lainnya. Ketika dunia penuh dengan kawin-cerai, ini saatnya kita memperkenalkan keindahan keluarga ilahi yang dimateraikan langsung oleh Tuhan.

Setia, saling mengasihi dan hidup sesuai firman, itulah ciri keluarga Ilahi yang diberkati Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply