World Interfaith Harmony Week 2015: Merajut Kebhinekaan, Mewujudkan Keadilan dan Perdamaian

katedral dan mesjid istiqlal by indonesia travel“Bersama dalam Perbedaan, Berbeda dalam Kebersamaan” BERBICARA Indonesia sesungguhnya berbicara sebuah negara besar; terdiri dari beragam etnis, suku, ras, bahasa, agama dan budaya bahkan sumber daya alamnya. Spesifikasi dan keunikan Indonesia tersebut merupakan kekayaan bangsa yang patut dibanggakan dan disyukuri, serta harus dijaga sekuat-kuatnya. Oleh sebab itu setiap warga negara–bangsa Indonesia wajib mengelola dan menjaga kemajemukan serta Sumber Daya Alamnya tersebut agar mendatangkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, harmonis dan sejahtera–berkeadilan. Sebab, esensi negara-bangsa yang besar adalah karena kekuatan dan persatuan bangsanya yang ditunjang SDAnya yang kaya dan melimpah-ruah. Namun dalam konstelasi/percaturan ekonomi dan politik dunia/global, sebuah bangsa dan negara untuk sebagian memandang dirinya dari persepsi bangsa-bangsa atau negara-negara lain terhadapnya. Oleh karena itu, pembangunan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang tengah kita jalani untuk sebagian akan tergantung pula dari cara kita mengelola hubungan kita dengan bangsa-bangsa atau negara-negara dan budaya-budaya lain di dunia pada umumnya. Dalam perkembangan percaturan peta ekonomi dan politik dunia (global) kekinian, tidak jarang bangsa-bangsa atau negara-negara dalam pola hubungan internasional mengalami krisis hubungan. Dan, krisis yang terjadi di dunia internasional acap kali langsung mengimbas Indonesia. Fenomena gerakan radikalis-fundamentalis seperti Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS)/Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang mengdepankan tindakan kekerasan dan brutalisme adalah salah-satu buktinya! Jika ada penganut keagamaan berani bunuh diri (juga membunuh penganut kepercayaan/paham lain) dan meledakkan bom maka tesis “Atas Nama Iman, Atas Nama Teks” dan “Berperang Demi Tuhan, Berperang Demi Agama sedang mengalami faktualisasinya! Inilah potret mutakhir hari-hari kita menyaksikan bom dan ancaman terorisme tak berkesudahan di Indonesia. Sebuah zaman yang menandakan lahirnya kekuatan fundamentalisme agama guna melawan neo-kapitalisme yang digerakan oleh Amerika dan sekutunya. Tentu saja fundamentalisme-terorisme agama dan hegemoni kapitalisme AS merupakan dua kutub antagonis yang berseberangan. Sebab, fundamentalisme-terorisme agama harus dikecam (ditinggalkan), fundamentalisme-terorisme demokrasi—yang didesain sehingga melahirkan perlawanan dan kekejaman yang sama—juga harus dikutuk ramai-ramai. Oleh karenanya hidup dalam suatu bangsa yang besar dengan keragaman bahasa, budaya, suku, ras, adat-istiadat dan agama kita harus memahami betul kehidupan politik kebangsaan dalam kerangka “Ke-Bhineka Tunggal Eka-an.” Tetapi, secara jujur, kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa bahkan yang masih satu agama. Meskipun, Indonesia dihuni oleh banyak orang Islam sehingga layak disebut nation-muslim, dan sebagian mereka setuju dengan ide penegakan syariat Islam oleh konstitusi negara, namun tidak berarti mereka benar-benar mau melaksanakannya. Dengan memperhatikan perubahan sosiologis dan pengalaman politis bangsa ini, keinginan itu tampaknya memang hanya didukung oleh kelompok-kelompok tertentu dalam fundamentalisme-Islam. Tetapi, kelompok-kelompok ini seperti angin. Sekelebat, hampir kuat, hampir nyata, dan ditakdirkan untuk diingat oleh siapa saja. Sayangnya, ia hadir untuk dipeluk dan ditinggalkan kembali; untuk dibuang dan dipungut ulang; untuk diimani dan dibongkar balik agar warna kehidupan laksa pelangi. Karena itu membuat kedamaian dalam kelompok-kelompok fundamentalisme seperti memburu angin dalam kelebatnya malam. Bisa dirasa tetapi maha sulit direalisasikan. Dari fenomena tersebut pertanyaannya adalah, efektifkah perlawanan atas nama Tuhan dan atas nama agama? Manusiawikah memberangus fundamentalisme-terorisme berbasis agama dengan fundamentalisme-terorisme berbasis demokrasi? Dalam aspek tertentu, krisis kerukunan beragama di Indonesia cukup diselesaikan di tingkat atau level pemerintah atau negara. Akan tetapi, pengalaman sering menunjukkan bahwa cara tersebut hanyalah selesai di tingkatan elit, alias lip sercive, tetapi tidak di tingkat masyarakat akar rumput. Inilah krisis yang terus berkepanjangan dan berlarut-larut serta timbul-tenggelam yang membuat krisis kerukunan beragama yang bahkan berujung pada disintegrasi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sudah barang tentu jalan lain WAJIB dipertimbangkan. Yaitu, dengan jalan dialog antarmasyarakat agama yang langsung melibatkan rakyat/masyarakat akar rumput di Indonesia yang memiliki kecintaan sangat dalam terhadap bangsanya. Dan, sudah barang-tentu dialog kebangsaan yang lebih mengedepankan sisi budaya atau kebudayaan. Atas dasar itu, kami INTER RELIGIOUS COUNCIL INDONESIA dengan ini menyatakan: Bahwa, pola inter-relasi antarmasyarakat agama tidak lagi cukup dijalankan dengan pola elite to elite antar pimpinan agama lagi, melainkan perlu membangun landscape baru hubungan kerukunan beragama dan kebangsaan yang lebih mengedepankan aspek people to people alias masyarakat akar rumput dengan jalan dialog antaragama antarmasyarakat. Bahwa, sudah saatnya pemerintah Republik Indonesia memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat akar rumput untuk ikut berperan-serta dalam rangka membangun dan menjalin keharmonisan serta perdamaian bangsa dalam skala aspek berbangsa dan bernegara, baik secara formal maupun informal. Bahwa, INTER RELIGIOUS COUNCIL INDONESIA (IRC) sebagai suatu lembaga atau majelis tinggi agama-agama di Indonesia yang terdepan bergerak dan bicara mengenai kebangsaan, siap menjadi mitra pemerintah Indonesia dalam rangka menjalin hubungan yang harmonis keagamaan bahkan antarbangsa. Demikian pernyataan ini dibuat. Semoga dialog agama dan kebangsaan ini menjadi awal yang baik dari hubungan antaragama dan antarsesama anak bangsa, dan semoga Allah SWT selalu meridloi perjuang kita semua, aamiin![] Jakarta, 3 Februari 2015 Gedung CDCC Jl. Kemiri No. 24 Menteng, Jakarta Pusat. Mengetahui, Presidium Inter Religious Council (IRC) Indonesia Ir. Hm. Iqbal Sullam (Ketua Presidium IRC Indonesia – Ketua PBNU) Rm. Yr. Edy Purwanto Pr (Ketua Presidium IRC Indonesia – Sekretaris Eksekutif KWI) Slamet Effendy Yusuf (Presidium IRC Indonesia – Ketua MUI) Pdt. Dr. Hendriette Lebang (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum PGI) Ir. Arief Harsono, MM (Presidium IRC – Ketua Umum WALUBI) Mayjen (Purn) SN Suwisma (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum PHDI) Drs. Uung Sendana Linggaraja (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum MATAKIN) Prof. Dr. Din Syamsuddin (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum PP Muhammadiyah)

katedral dan mesjid istiqlal by indonesia travel

“Bersama dalam Perbedaan, Berbeda dalam Kebersamaan”

BERBICARA Indonesia sesungguhnya berbicara sebuah negara besar; terdiri dari beragam etnis, suku, ras, bahasa, agama dan budaya bahkan sumber daya alamnya. Spesifikasi dan keunikan Indonesia tersebut merupakan kekayaan bangsa yang patut dibanggakan dan disyukuri, serta harus dijaga sekuat-kuatnya. Oleh sebab itu setiap warga negara–bangsa Indonesia wajib mengelola dan menjaga kemajemukan serta Sumber Daya Alamnya tersebut agar mendatangkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, harmonis dan sejahtera–berkeadilan. Sebab, esensi negara-bangsa yang besar adalah karena kekuatan dan persatuan bangsanya yang ditunjang SDAnya yang kaya dan melimpah-ruah.

Namun dalam konstelasi/percaturan ekonomi dan politik dunia/global, sebuah bangsa dan negara untuk sebagian memandang dirinya dari persepsi bangsa-bangsa atau negara-negara lain terhadapnya. Oleh karena itu, pembangunan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang tengah kita jalani untuk sebagian akan tergantung pula dari cara kita mengelola hubungan kita dengan bangsa-bangsa atau negara-negara dan budaya-budaya lain di dunia pada umumnya.

Dalam perkembangan percaturan peta ekonomi dan politik dunia (global) kekinian, tidak jarang bangsa-bangsa atau negara-negara dalam pola hubungan internasional mengalami krisis hubungan. Dan, krisis yang terjadi di dunia internasional acap kali langsung mengimbas Indonesia. Fenomena gerakan radikalis-fundamentalis seperti Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS)/Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang mengdepankan tindakan kekerasan dan brutalisme adalah salah-satu buktinya!

Jika ada penganut keagamaan berani bunuh diri (juga membunuh penganut kepercayaan/paham lain) dan meledakkan bom maka tesis “Atas Nama Iman, Atas Nama Teks” dan “Berperang Demi Tuhan, Berperang Demi Agama sedang mengalami faktualisasinya! Inilah potret mutakhir hari-hari kita menyaksikan bom dan ancaman terorisme tak berkesudahan di Indonesia.

Sebuah zaman yang menandakan lahirnya kekuatan fundamentalisme agama guna melawan neo-kapitalisme yang digerakan oleh Amerika dan sekutunya. Tentu saja fundamentalisme-terorisme agama dan hegemoni kapitalisme AS merupakan dua kutub antagonis yang berseberangan. Sebab, fundamentalisme-terorisme agama harus dikecam (ditinggalkan), fundamentalisme-terorisme demokrasi—yang didesain sehingga melahirkan perlawanan dan kekejaman yang sama—juga harus dikutuk ramai-ramai.

Oleh karenanya hidup dalam suatu bangsa yang besar dengan keragaman bahasa, budaya, suku, ras, adat-istiadat dan agama kita harus memahami betul kehidupan politik kebangsaan dalam kerangka “Ke-Bhineka Tunggal Eka-an.” Tetapi, secara jujur, kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa bahkan yang masih satu agama.

Meskipun, Indonesia dihuni oleh banyak orang Islam sehingga layak disebut nation-muslim, dan sebagian mereka setuju dengan ide penegakan syariat Islam oleh konstitusi negara, namun tidak berarti mereka benar-benar mau melaksanakannya. Dengan memperhatikan perubahan sosiologis dan pengalaman politis bangsa ini, keinginan itu tampaknya memang hanya didukung oleh kelompok-kelompok tertentu dalam fundamentalisme-Islam.

Tetapi, kelompok-kelompok ini seperti angin. Sekelebat, hampir kuat, hampir nyata, dan ditakdirkan untuk diingat oleh siapa saja. Sayangnya, ia hadir untuk dipeluk dan ditinggalkan kembali; untuk dibuang dan dipungut ulang; untuk diimani dan dibongkar balik agar warna kehidupan laksa pelangi. Karena itu membuat kedamaian dalam kelompok-kelompok fundamentalisme seperti memburu angin dalam kelebatnya malam. Bisa dirasa tetapi maha sulit direalisasikan.

Dari fenomena tersebut pertanyaannya adalah, efektifkah perlawanan atas nama Tuhan dan atas nama agama? Manusiawikah memberangus fundamentalisme-terorisme berbasis agama dengan fundamentalisme-terorisme berbasis demokrasi?

Dalam aspek tertentu, krisis kerukunan beragama di Indonesia cukup diselesaikan di tingkat atau level pemerintah atau negara. Akan tetapi, pengalaman sering menunjukkan bahwa cara tersebut hanyalah selesai di tingkatan elit, alias lip sercive, tetapi tidak di tingkat masyarakat akar rumput. Inilah krisis yang terus berkepanjangan dan berlarut-larut serta timbul-tenggelam yang membuat krisis kerukunan beragama yang bahkan berujung pada disintegrasi bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, sudah barang tentu jalan lain WAJIB dipertimbangkan. Yaitu, dengan jalan dialog antarmasyarakat agama yang langsung melibatkan rakyat/masyarakat akar rumput di Indonesia yang memiliki kecintaan sangat dalam terhadap bangsanya. Dan, sudah barang-tentu dialog kebangsaan yang lebih mengedepankan sisi budaya atau kebudayaan.

Atas dasar itu, kami INTER RELIGIOUS COUNCIL INDONESIA dengan ini menyatakan:

  • Bahwa, pola inter-relasi antarmasyarakat agama tidak lagi cukup dijalankan dengan pola elite to elite antar pimpinan agama lagi, melainkan perlu membangun landscape baru hubungan kerukunan beragama dan kebangsaan yang lebih mengedepankan aspek people to people alias masyarakat akar rumput dengan jalan dialog antaragama antarmasyarakat.
  • Bahwa, sudah saatnya pemerintah Republik Indonesia memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat akar rumput untuk ikut berperan-serta dalam rangka membangun dan menjalin keharmonisan serta perdamaian bangsa dalam skala aspek berbangsa dan bernegara, baik secara formal maupun informal.
  • Bahwa, INTER RELIGIOUS COUNCIL INDONESIA (IRC) sebagai suatu lembaga atau majelis tinggi agama-agama di Indonesia yang terdepan bergerak dan bicara mengenai kebangsaan, siap menjadi mitra pemerintah Indonesia dalam rangka menjalin hubungan yang harmonis keagamaan bahkan antarbangsa.

Demikian pernyataan ini dibuat. Semoga dialog agama dan kebangsaan ini menjadi awal yang baik dari hubungan antaragama dan antarsesama anak bangsa, dan semoga Allah SWT selalu meridloi perjuang kita semua, aamiin![]

Jakarta, 3 Februari 2015
Gedung CDCC
Jl. Kemiri No. 24
Menteng, Jakarta Pusat.

Mengetahui,

Presidium Inter Religious Council (IRC) Indonesia

  • Ir. Hm. Iqbal Sullam (Ketua Presidium IRC Indonesia – Ketua PBNU)
  • Rm. Yr. Edy Purwanto Pr (Ketua Presidium IRC Indonesia – Sekretaris Eksekutif KWI)
  • Slamet Effendy Yusuf (Presidium IRC Indonesia – Ketua MUI)
    Pdt. Dr. Hendriette Lebang (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum PGI)
  • Ir. Arief Harsono, MM (Presidium IRC – Ketua Umum WALUBI)
  • Mayjen (Purn) SN Suwisma (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum PHDI)
  • Drs. Uung Sendana Linggaraja (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum MATAKIN)
  • Prof. Dr. Din Syamsuddin (Presidium IRC Indonesia – Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply