“Wonder Woman”, Sensasi Menembus Perbatasan

Gal Gadot sebagai “Wonder Woman” (Ist)

“WOW, kamu sudah semestinya bangga,” kata Diana (Gal Gadot) kepada penjual es krim di sekitar dermaga.  Penjual es krim yang bersangkutan hanya melongo mendapat ucapan dari Diana.

Itu pertama kali Diana, sang Wonder Woman menikmati lezatnya es krim yang tidak akan ia dapatkan di Themyscira, asal para Amazon tinggal.  Bila dulu ia tidak memutuskan untuk meninggalkan Themyscira dan melewati perbatasan maka ia tidak pernah tahu apa itu es krim dan bagaimana lezatnya makanan ini.

Ini gara-gara Steve (Chris Pine), mata-mata sekutu yang terdampar di Perairan Themyscira.   Ia menceritakan kepada para Amazon tentang peperangan dahsyat yang menghabisi jutaan jiwa orang tak bersalah.  Cerita tentang ganasnya perang mengetuk hati nurani Diana untuk menjalankan misi perdamaian.  Diana terdorong untuk pergi menembus perbatasan.  Atas dukungan para Amazon, khususnya ibundanya Ratu Hippolyta (Connie Nielsen), Diana berlayar menuju London.

Diana, puteri Amazon yang lugu, memasuki dunia yang penuh dengan penderitaan, kematian, perang dan kehancuran.  Dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia yang selama ini ditinggalinya.

Diana memang sebelumnya hanya tahunya tempat tinggalnya yang damai, alamnya indah, berisi kaum hawa, hari-harinya diisi dengan gladi perang, dan dibingkai dengan kisah tentang Zeus dan Ares yang menjadi sebab akibat kehidupan manusia.  Konon Zeus menciptakan kaum Amazon untuk menjaga perdamaian dan melindungi manusia dari kejahatan perang Ares.  Kaum Amazon ditempatkan di Themyscira sampai saatnya tiba ketika Ares keluar dari persembunyiannya.  Diana selalu berharap untuk berhadapan dengan Ares sang dewa perang yang telah dihukum oleh Zeus.

Kepala Diana berisi tentang semua sejarah tersebut.  Tentu bagi orang modern semacam Steve hal itu adalah mitos.

Kisah Diana menembus aneka perbatasan hidup ini pun tidak berhenti di situ.  Saat ia telah memasuki medan peperangan antara sekutu dengan Jerman, ia pun menembus perbatasan: lahan tak bertuan yang mana bila dilintasi oleh pasukan sekutu pasti akan berbuntut pada kematian karena pasukan Jerman akan menghujaninya dengan peluru.  Keberanian Diana melewati perbatasan itu menjadi motivasi bagi teamnya, Steve, Chief, Charlie dan Sameer untuk bergerak maju, mengalahkan rasa takut, dan berani menghadapi maut.

Perlu gebrakan

Wanita cantik, seksi, tetapi perkasa ini menunjukkan pentingnya setiap dari kita menerobos semua perbatasan yang mengungkung perdamaian hidup manusia.  Simbolisasi tokoh Diana yang bergerak menembus aneka perbatasan mengungkap bahwa kenyamanan, rasa takut, pandangan umum dan wilayah merupakan hal yang esensi dalam mewujudkan perdamaian dunia.   Harus ada gebrakan untuk keluar dari kungkungan itu.

Dunia ini jauh dari damai karena banyak orang dikungkung oleh aneka pagar.  Pagar itu bermanifestasi dalam ketakutan, angkara murka, kekuasaan, dan pandangan yang sempit.  Jendral Erich Ludendorff dan dokter Maru adalah contoh mereka yang dikungkung oleh obsesi akan kekuasaan dan ketenaran.  Alhasil mereka dipakai oleh Ares sebagai senjata perang yang mematikan.

Kurang lebih itulah sebagian pesan penting dari Wonder Woman 2017 yang diproduksi oleh Warner Bros. Pictures.  Film ini memang telah ditunggu-tunggu oleh para pecinta layar lebar.  Apalagi ketika Batman V Superman: Dawn of Justice, tokoh ini telah dimunculkan.  Dengan cerdik DC Comics telah memancing rasa penasaran para penonton tentang tokoh wanita yang diamati oleh Wayne Batman.  Akhirnya terjawablah penasaran itu dengan diputarnya film Wonder Woman pada akhir Mei yang lalu.

Imam SCJ; usai studi Ilmu Pastoral di EAPI, Ateneo de Manila, sekarang tugas di Rumah Pembinaan Pondok Kristopel di Jambi.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply