Why…?

Ayat bacaan: Yesaya 55:8
=====================
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”

iri hati, merasa kurang dari orang lain

Sama-sama chihuahua, tapi beda sifat, beda ketaatan. Itulah yang nyata terlihat di antara kedua anjing kami. Salah satunya adalah mengenai masalah  ketaatan. Yang jantan sangat patuh sehingga selalu dibawa untuk buang air ke luar rumah. Saya tidak perlu khawatir dia akan lari karena dengan panggilan kecil saja dia akan menghampiri. Pintu pagar yang terbuka sekalipun tidak akan membuatnya melarikan diri. Dia tidak akan mengejar orang yang sedang lewat. Jangankan orang, ayam pun tidak diganggunya. Sedangkan yang betina, bandelnya bukan main. Sedikit saja lengah, secepat kilat dia akan lari keluar pagar dan sulit untuk dipanggil. Karena itu kami tidak pernah mau membawanya untuk keluar rumah, kecuali dengan bantuan seutas tali dan beserta kami. Karena perbedaan “ketaatan” yang menyolok inilah, pemandangan yang lucu terlihat setiap kali saya membawa si jantan keluar rumah. Setiap kali si jantan ada di luar, maka si betina akan duduk menatap keluar dari jendela. Biasanya disertai tangisan kecil, tapi dengan gerakan minimal. Dari luar, saya melihatnya seperti patung di balik jendela. Mungkin dalam hatinya ia merasa dianaktirikan, mungkin dia merasa dia diperlakukan tidak adil, berbeda dari si jantan. Namun dia tidak tahu bahwa sebenarnya semua itu untuk kebaikan bersama. Kami menyayangi keduanya sudah seperti anak sendiri, dan tidak mau kehilangan satupun diantara mereka. Jika si betina di bawa keluar, maka hal tersebut bisa mendatangkan banyak resiko. Dia bisa tersesat, bisa hilang, bisa dicuri orang, atau tertabrak kendaraan yang lewat. Itu dari kacamata kami, tapi bukan dari kacamatanya. Dari kacamatanya mungkin dia hanya bisa melihat perbedaan perlakuan, seolah-olah tidak adil, namun dari kacamata kami, itulah yang terbaik buat dia.

Malam ini ketika saya membawa si jantan keluar seperti biasa untuk buang air, saya mendapatkan sebuah suara dalam hati saya. “begitulah juga manusia..” Ya, ada banyak di antara kita yang cenderung merasa kurang di bandingkan orang lain. “mengapa dia bisa begitu kaya sedangkan saya begini-begini terus?” Mengapa tetangga kita makmur sedang kita tidak? Mengapa rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita? Malah kadang lebih ekstrim, “mengapa ia diberkati sedang saya tidak?” Benarkah Tuhan pilih kasih, memberkati sebagian dan membiarkan sebagian lainnya sengsara? Apakah jika kita sedang mengalami masa-masa sulit, itu artinya Tuhan sedang memalingkan mukaNya dari kita? Tunggu dulu. Saya percaya bahwa Tuhan mengasihi kita semua. Hanya saja, Tuhan punya alasan-alasan tersendiri bagi setiap kita, Dia punya rancangan-rancangan yang berbeda dipersiapkan bagi setiap kita. Namun yang pasti, apapun rancanganNya, semua itu bertujuan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Dia menyediakan segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Caranya mungkin berbeda, bentuk berkat yang diturunkan bisa berbeda, tapi semuanya adalah untuk kebaikan kita juga. Mungkin kita tidak atau belum bisa melihatnya saat ini, tapi satu saat nanti kita akan mengerti. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8). Lalu dilanjutkan: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (ay 9).

Seringkali kita sulit melihat apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita, dan hanya mampu melihat sebatas logika dan kemampuan manusia semata. Akibatnya kita mudah merasa diperlakukan tidak adil atau tidak dipedulikan Tuhan. Padahal apa yang dirancang Tuhan pada kita adalah hal-hal yang baik adanya. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Mungkin mudah bagi kita untuk melihat kelebihan orang lain dan kekurangan kita, namun apabila kita mengenal pribadi Allah sebenarnya, kita tahu bahwa segala yang Dia sediakan bagi kita adalah untuk kebaikan kita menerima hari depan yang penuh harapan. Segala pergumulan kita dalam hidup dapat dipakaiNya untuk sebuah tujuan yang baik dan mulia. Jika Yesus Kristus saja Dia anugrahkan bagi kita agar kita selamat, itu artinya Dia sangat mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita menderita, apalagi binasa. Mungkin saat ini kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan, apa yang menurut kita baik buat kita. Padahal apa yang kita anggap baik buat kita belum tentu terbaik menurut Tuhan. Tuhan sebenarnya sanggup memberikan segala yang kita inginkan. Sangat sanggup. Tapi bagaimana jika hal itu menyesatkan kita dan membuat kita malah binasa? So, everything happen for a cause. Maka itu artinya, kita harus senantiasa bersyukur, baik dalam keadaan baik maupun buruk, karena semua itu adalah demi kebaikan kita. Tepat seperti apa yang diingatkan oleh Paulus. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Ada banyak saat dimana saya mengalami pergumulan, namun saya tahu benar hari ini, bahwa tanpa pergumulan-pergumulan yang saya alami dulu, saya tidak akan pernah bisa sampai pada siapa saya hari ini. Berhentilah membanding-bandingkan keadaan kita dengan orang lain. Itu akan membawa kita kepada sebentuk iri hati, yang merupakan buah dari perbuatan daging dan bertentangan dengan buah Roh. (Galatia 5:20-23). Fokuslah kepada apa yang kita miliki saat ini, dan bagikan berkat sesuai dengan apa yang dipercayakan Tuhan saat ini pada kita. Dan diatas segalanya, tetaplah bersyukur.

If you think their grass is greener, change your glasses with the Heavenly ones

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply