WHO: Setiap Detik, 40 Orang Bunuh Diri di Dunia

bunuh diri

WHO (World Health Organisation) lembaga PBB yang khusus menangani kesehatan merilis berita mencengangkan pada awal September ini di Jenewa, Swiss. Shekhar Saxena, direktur WHO bidang kesehatan mental, menyatakan bahwa setiap detik ada 40 orang yang bunuh diri.

Angka ini lebih tinggi dibanding jumlah orang yang meninggal akibat perang dan bencana alam.

“Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat yang luar biasa. Membunuh lebih banyak jiwa dibanding bencana alam, perang atau pun konflik. Setiap tahun sekitar 1,5 juta jiwa melayang, 800.000 di antaranya karena tindakan bunuh diri,” jelas Shekhar Saxena.

Secara umum, tingkat bunuh paling tinggi terjadi pada orang tua yang berusia 70 ke atas. Tetapi di beberapa negara, anak muda yang menempati peringkat teratas. Bunuh diri ternyata menduduki ranking dua sebagai penyebab kematian orang muda usia 15-29 tahun di dunia.

Jumlah korban laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.

Demikian rilis WHO tersebut. Tulisan tersebut merupakan hasil penelitian di 172 negara selama 10 tahun.

Berita sensasi
Salah satu peneliti WHO, Alexandra Fleischmann mengatakan bahwa media turut menuang minyak dalam masalah ini. Pemberitaan yang berlebihan terhadap kasus bunuh diri yang dilakukan selibriti seperti aktor Robin Williams baru-baru ini bisa memicu kenaikan angka bunuh diri di dunia. Kenaikan seperti itu pernah terjadi ketika atlit sepak bola Jerman Robert Enke melakukan bunuh diri pada tahun 2009.

“Bunuh diri tidak seharusnya dijadikan sensasi,” tutur Flescmann meminta agar pemberitaan tidak menuliskan penyebab kematian akibat bunuh diri di awal tulisan, tetapi di ujung artikel dengan catatan dimana saja para pembaca bisa mendapatkan bantuan kalau menghadapi masalah tersebut.

Menurut penelitian tersebut, pada tahun 2012, tingkat bunuh diri di negara kaya sedikit lebih tinggi dibanding di negara berkembang/miskin. Tetapi perlu dicatat bahwa populasi di negara-negara berkembang dan di negara miskin jauh lebih banyak sehingga sepertiga dari jumlah korban bunuh diri di dunia berasal dari negara-negara tersebut.

Menyedihkan, Indonesia termasuk nama negara-negara yang disebut dalam laporan tersebut, selain Korea Utara, India, dan Nepal. Data tersebut ditengerai masih tidak lengkap karena ada yang tidak tercatat.

Presiden WHO, Margaret Chan menyatakan bahwa dampak bunuh diri terhadap keluarga, teman, dan komunitas korban sangat dalam dan berefek jangka panjang.

Bisa dicegah
Tindakan bunuh diri dikategorikan sebagai tindak kejahatan di 25 negara, terutama di Afrika, Amerika Selatan, dan di Asia. Negara dengan tingkat bunuh tertinggi adalah Guyana (44,2 per 100.000), diikuti Korea Utara dan Korea Selatan (38.5 dan 28.9).

Berikutnya Sri Lanka (28.8), Lithuania (28.2), Suriname (27.8), Mozambique (27.4), Nepal dan Tanzania (24.9), Burundi (23.1), India (21.1), Sudan Selatan (19.8), Russia dan Uganda (19.5), Hungaria (19.1), Jepang (18.5), and Belarus (18.3).

WHO menargetkan untuk mengurangi tingkat kematian nasional akibat bunuh diri menjadi 10 persen di tahun 2020. Suatu tantangan besar karena korban bunuh diri biasanya merupakan orang-orang yang terpinggirkan dari populasi, orang yang miskin dan rentan. Tetapi Margaret Chan menyakini bahwa dengan usaha bersama hal itu bisa dicapai. “Bunuh diri merupakan tindakan yang bisa dicegah,” tegasnya.

Sumber: Sydney Morning Herald

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: