What Do You See? (1)

Ayat bacaan: Yeremia 1:11a
=====================
“Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?”

Mata akan melihat lurus ke arah mana kita menoleh. Kalau kita mengarahkan mata ke depan, maka apa yang didepan kitalah yang kita lihat. Demikian juga kalau melihat ke samping, belakang, ke bawah atau ke atas. Mata kita didesain seperti itu, bukan seperti ikan yang letaknya disamping. Seperti itu pula mata rohani kita. Kita sering diliputi kebimbangan dalam hidup. Kita terbiasa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, dan mengandalkan logika kita yang padahal terbatas ini untuk menilai segala sesuatu ketimbang bertanya kepada Tuhan dan mengaktifkan kepekaan terhadap suaraNya. Tidaklah mengherankan ketika kita mendapatkan pesan dari Tuhan untuk melakukan sesuatu, yang mungkin secara logika kita terlihat diluar kemampuan kita, kitapun serta merta merasa ragu untuk melakukannya. Kita lupa bahwa Tuhan mampu melakukan segalanya, dan jika Tuhan berkehendak, Dia sendiri pula yang akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang ada dalam rencanaNya. Lalu kemudian kita pun akan terlalu sibuk tenggelam dalam keraguan kita dan lupa bertanya kepada Tuhan. Kita tentu sudah cukup paham  bahwa rencana atau rancangan Tuhan itu selalu yang terbaik. Bagaimana kita bisa tahu apa yang terbaik kalau kita tidak bertanya kepadaNya atau mencari tahu apa yang menjadi rencanaNya buat kita?

Dari pengalaman Yeremia kita bisa belajar akan hal itu. Di awal kisah Yeremia kita akan melihat bagaimana firman Tuhan datang kepadanya. Yeremia sejak semula sudah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, dan kini waktunya tiba. (Yeremia 1:4-5). Maka ia pun kaget mendengar hal itu. Dia langsung menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (ay 6). Yeremia langsung mengukur kemampuannya menurut diri sendiri dalam memenuhi panggilan Tuhan. Tuhan pun kemudian mengingatkan Yeremia. “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (ay 7-8). Dari sini kita pun melihat sebuah ayat yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” (ay 11). Dan Tuhan pun membenarkan penglihatan Yeremia. Untuk kali ini saya akan fokus kepada bentuk pertanyaan terlebih dahulu, selanjutnya saya akan membahas makna dari dahan pohon badam yang ia lihat.

Apa yang Tuhan tanyakan kepada Yeremia adalah apa yang dilihatnya. God asked him, what’s your vision, what do you see?  Seperti itulah bunyi pertanyaan Tuhan kepada Yeremia. Tuhan sering mempertanyakan hal yang sama pula kepada kita. Apa yang kita lihat? Kemanakah kita mengarahkan pandangan mata rohani kita saat ini? Apakah kepada Tuhan dan rencanaNya yang indah buat kita atau kepada masalah demi masalah yang sepertinya sulit untuk diatasi? Sudahkah kita mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? Apa panggilan kita yang diberikan Tuhan? Ini pertanyaan-pertanyaan yang penting bagi kita, yang tidak akan mampu kita jawab jika kita tidak rajin bertanya langsung kepada Tuhan lewat doa-doa kita, memiliki kepekaan yang cukup untuk mendengar suaraNya atau apakah kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan atau tidak.

Adalah wajib bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi garis rencana Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Mengetahui apa panggilanNya, apa yang telah Dia rencanakan sejak awal kepada diri kita. Kenapa? Tidak lain karena apa yang telah Dia rencanakan jelas merupakan yang terbaik bagi diri kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (29:11). Kita bisa saja berusaha membenarkan atau mengambil keputusan hanya dengan mengandalkan pikiran, logika dan kekuatan atau kemampuan kita sendiri, atau juga mengandalkan orang lain namun semua itu bukanlah yang terbaik jika tidak sejalan dengan apa yang telah Dia gariskan sejak semula. Mencari dan menemukan panggilanNya adalah yang terbaik. Mengarahkan pandangan kepadaNya itulah yang tepat, karena dengan berjalan seturut rencanaNya kita pun akan mengalami penyertaan Tuhan dan menerima semua yang baik yang telah Dia persiapkan buat kita.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: