We Are The Body Of Christ

Ayat bacaan: Mazmur 122:1
=========================
“Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”

Ada tiga orang teman saya dalam waktu yang berbeda bercerita bahwa mereka mulai kehilangan gairah untuk pergi ke Gereja. Alasannya pun berbeda-beda. Yang satu terlalu disibuki dengan pekerjaan, sehingga ia kerap merasa terlalu lelah untuk beribadah pada hari Minggu. Yang satu sudah terlalu lama hidup tanpa Gereja, sehingga ia kehilangan motivasi dan urgensi untuk pergi ke Gereja. Satu lagi teman saya merasa bahwa banyak jemaat di Gerejanya bersikap munafik, terutama teman-teman sekerja di kantornya yang juga kebetulan beribadah pada Gereja yang sama. Ia menganggap bahwa para jemaat yang notabene adalah rekan sekerja dan pimpinannya tidaklah mencerminkan sikap sebagai orang kudus dalam dunia kerja. “Buat apa ke Gereja kalau orang-orangnya seperti itu?” katanya. Salah satu dari teman saya itu kemarin saya ajak untuk sama-sama beribadah, dan awalnya ia bersemangat untuk pergi bareng. Apa yang terjadi di hari Minggu? Dia mengatakan bahwa dia tidak enak badan karena terlalu lelah bekerja dalam beberapa hari terakhir, dan membatalkannya.

Saya jadi ingat sebuah kisah tentang seorang ibu di salah satu kota kecil di Amerika. Si ibu ini masuk headline di harian lokal karena satu hal saja: ia tidak pernah absen ke Gereja selama 20 tahun. 20 tahun! Itu waktu yang tidak singkat. Fakta ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak saya:

  • Apakah ibu itu tidak pernah sakit atau tidak enak badan di hari Minggu?
  • Apakah dia tidak pernah punya masalah dengan jemaat lainnya, pengerja atau mungkin pendeta di Gerejanya?
  • Apakah selama 20 tahun tidak pernah terjadi hujan atau cuaca buruk di hari Minggu?
  • Apakah ia tidak pernah merasa terlalu lelah sehingga lebih tertarik untuk tidur?
  • Apakah ia tidak pernah melakukan liburan akhir pekan ke tempat lain?
  • Apakah ia tidak pernah ketiduran sehingga terlambat untuk berangkat?
  • Apakah tidak pernah ada sanak saudara atau tamu berkunjung ke rumahnya di hari Minggu sehingga ia harus melewatkan waktu bersama mereka?
  • Apakah tidak ada acara mendadak yang harus membatalkan jadwal ke Gereja?
  • Tidakkah ia pernah merasa bosan mendengar kotbah atau firman tentang hal yang itu lagi, itu lagi?

Semua ini seringkali menjadi alasan untuk absen dari ibadah Gereja. “ah..satu kali kan nggak apa-apa.. sekali-kali saja kok..” Ya, mungkin awalnya hanya satu kali, tapi ketahuilah bahwa iblis itu terus mengaum-aum mencari mangsa (1 Petrus 5:8), dan akan memanfaatkan berbagai alasan untuk mencegah kita beribadah, mencari dan bertemu Tuhan, memuliakan Tuhan, mendengar firman dan menerima berkat. Iblis akan terus berusaha untuk mencegah anak-anak Tuhan bersekutu dalam nama Yesus dan saling mendoakan. Lambat laun, kemalasan akan menebal seperti karat dan orang yang demikian akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita karena terus semakin jauh dari Tuhan. Memang beribadah itu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan sudah seharusnya kita beribadah tanpa membatasi waktu. Hati, pikiran dan mulut kita senantiasa dipenuhi ucapan syukur dan memuji Tuhan. Sungguh baik sekali jika kita rajin meluangkan waktu untuk bersekutu dengan intim dengan Tuhan lewat saat-saat teduh kita. Tapi penting pula untuk diingat bahwa Gereja adalah tempat dimana anggota-anggota keluarga Allah berkumpul menjadi satu keluarga dengan Yesus sebagai kepala, sedangkan kita adalah bagian dari tubuhNya (the body of Christ). “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Efesus 1:22-23) Selanjutnya Paulus mengingatkan lagi: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” (2:19-21). Ya, kita adalah bagian tubuh Kristus, dimana Yesus adalah Kepala. Ini adalah suatu kesatuan luar biasa. Tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri. Alangkah indahnya jika kita mempunyai teman berbagi, saling mendoakan, saling mengingatkan dan saling menolong. Ketika kita sedang dalam kesusahan, saudara yang lain yang kebetulan sedang tidak mengalami kesusahan akan mengulurkan tangan, begitu pula sebaliknya. Hidup bersama dan saling menguatkan sebagai satu kesatuan sebagai tubuh Kristus. “Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” (1 Korintus 12:20). Dan ingatlah bahwa Kristus sendiri akan hadir jika kita berkumpul dalam namaNya. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”(Mat 18:20). Kita juga bisa memiliki wadah dimana iman kita bisa bertumbuh. “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Efesus 4:14-16). Belajar dari ibu di atas, mari kita sama-sama menyadari perlunya saling membangun dalam kasih, saling menguatkan, dengan Kristus bertahta sebagai kepala dari kita semua, sehingga kita bisa berkata seperti Daud pada ayat bacaan hari ini: “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” Saling membangun dalam kasih sebagai satu tubuh utuh yang tidak tercerai-berai

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply