Watak Bisa Terbaca dari Cara Gunakan Gadget: Katrok atau Bermartabat?

TIADA hari tanpa perangkat gadget modern. Apakah itu HP, smart phone, iPad, Galaxy Tab, dan aneka perangkat pintar lainnya. Karena itu, pada hari Minggu Komunikasi Sosial beberapa waktu lalu, saya sengaja “memainkan” isi kotbah saya dengan sedikit pendekatan berbeda.

Di awal kotbah, saya sengaja mengajak umat yang hadir pada misa pagi itu untuk segera mengeluarkan aneka gadget modern mereka. Ada yang bawa BB, smart phones lainnya, juga aneka motif tablet. Lengkap sudah, perangkat komunikasi modern yang ada di tangan umat saya ini.

“Ayo segera keluarkan semua perangkat itu dan jangan ragu-ragu lagi untuk langsung menghidupkannya,” kata saya memberi tantangan langsung kepada umat.

Tentu saja, mereka sedikit terhenyak. Ah, jangan-jangan romo ini baru marah, lantaran melihat beberapa umat diam-diam bermain gadget saat misa.

Tidak. Saya justru ingin mengajak umat mengamini semua gadget modern itu sebagai perolehan hasil teknologi modern yang harus disyukuri.

“Tidak boleh setengah-setengah, tapi harus bersykur seutuhnya,” tantang saya lagi.

Kuasai teknologi komunikasi

Yang mau saya tekankan pada kotbah Minggu itu tak lain adalah semangat ingin mengucap syukur atas karunia Tuhan berupa gadget modern. Itu berarti, kata saya kemudian, umat harus didorong agar menguasai semua fitur yang ada.

“HP yang paling sederhana pun bisa menyimpan rumus-rumus doa. Saat kita sedang butuh, nah database rumusan doa itu bisa kita buka dan HP beralih fungsi menjadi semacam buku doa,” kata saya memberi dorongan moril.

“Yang lebih canggih dapat berisi program Alkitab, menyimpan lagu atau video rohani. Ketika memakainya untuk telpon atau bertukar SMS, MMS, komunikasi yang membangun kedewasaan rohani dapat dibangun. Ketika mau menikmati lagu/video rohani tanpa mengganggu yang lain, suara dapat diredam sekecil-kecilnya, atau bahkan hanya digetar saja, atau juga memakai head-set. Jadi, jangan takut bawa HP, juga di gereja, juga waktu misa. Dan tidak perlu meng-off-kan,” demikian isi tantangan saya.

Prasyarat

Tentu saja, saya lalu pasang prasyarat.  “Oke, boleh memakai HP, BB, iPad namun memperlakukan semua gadget modern itu sebagai  putra-putri Allah yang luhur dan mulia, yang sekaligus adalah manusia super modern,” kata saya kemudian.

Berikutnya saya lalu menyampaikan catatan refleksi pribadi.

Bagi saya,  tak jarang Gereja melakukan pendekatan secara salah.  “Gereja memilih menggunakan ‘jammer’ itu bukan mendidik umat untuk menjadi putra-putri Allah yang bermartabat luhur dan mulia,” kata saya.

Tentu saja, saya amat memahami kekeliruan itu.  Saya mahfum, karena pola itu  didasari oleh cara berpikir: “pokoknya….”; “boleh atau tidak” hingga kemudian umat seakan-seakan diposisikan sebagai khalayak yang  kekanak-kanakan”.

“Ujung-ujungnya, mereka memakai alat modern ini  sebagai bagian dari gaya hidup untuk mengangkat harga diri agar jangan lagi katrok, jadul, tidak cerdas,” terang saya.

Ciri-ciri tidak katrok
Berikut ini beberapa ciri-ciri  umat katolik  yang mampu menggunakan berbagai gadget modern itu secara luhur dan mulia agar jangan disebut katrok alias ndeso alias jadul banget:

  • Bapat mengatur  pola bunyi apa pun hingga tidak muncul atau terdengar selama berlangsung ibadat ekaristi;
  • Hanya dipakai kalau ada hal yang memang langsung tersedia dalam alat itu. Misalnya doa, nama yang mau didoakan, bacaan kitab suci;
  • Mencatat sesuatu yang dapat membantu pengembangan iman selanjutnya.
Ciri pemakaian yang merendahkan martabat dan kesucian serta menunjukkan pemakainya masih bermental ndesani alias katrok banget layaknya manusia modern hidup di zaman batu:
  • Tidak bisa menata nada silent atau getar hingga pas berlangsung ekaristi, tiba-tiba ring tone-nya berdering keras dan apalagi lalu muncul lagu Kucing Garong segala;
  • Nekad menerima atau malah menelpon seseorang di tengah misa;
  • Berani terima atau bahkan malah main SMS, MMS, BBM;
  • Nekad mendengarkan lagu dengan memakai head-set super gede;
  • Main game di tengah misa;
  • Merekam hal-hal yang tak ada  kaitan dengan ibadat atau ekaristi;

Ini catatan tambahan saya. Poin nomor 2-6 jelas menunjukkan ciri-ciri manusia “mabuk” sebagai berikut:

  • Tidak dapat mengendalikan hawa nafsu;
  • Tidak dapat menempatkan diri;
  • Tidak dewasa;
  • Semoga jangan sudah berpenyakit asocial.

Nah, yang paling penting dari semua itu tentu saja menggunakan semua peralatan komunikasi modern itu dengan sikap dan cara pandang yang jujur kepada diri sendiri dan Tuhan,.

Berkah Dalem

Pengelola www.klipkatolik.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: