Warisan Iman Turun Temurun

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5=====================”Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu””Bakat musiknya mengalir…

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
=====================
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”

warisan iman turun temurun

“Bakat musiknya mengalir dari kedua orang tuanya yang merupakan musisi terkenal pada jamannya, dan lebih jauh lagi dari kakeknya yang juga aktif di dunia musik di tahun 50an.” Demikian bunyi profil seorang artis pada suatu kali. Kesuksesan seseorang seringkali dipandang orang lain sebagai buah dari keberhasilan didikan yang dimulai dari beberapa generasi sebelumnya. Bakat diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Jika kita sukses maka orang tua kita pun akan turut harum namanya, bahkan kakek dan nenek kita juga akan dipuji orang, sebaliknya apabila kita berbuat sesuatu yang tidak baik maka orang tua dan beberapa generasi sebelumnya bahkan nama keluarga pun bisa turut tercemar. Betapa seringnya seorang anak nakal yang berbuat onar akan dinilai dari orang tuanya. “Bandel sekali, anak siapa sih itu?” Komentar seperti ini sering kita dengar, dan itu tidaklah heran. Anak kecil bagaikan buku tulis kosong yang isinya akan tergantung dari apa yang dituliskan oleh ayah dan ibunya atau bahkan kakek dan neneknya di dalamnya. Meski anak-anak akan memiliki sifat-sifat tersendiri, namun bagaimana orang tua mendidik anak akan sangat menentukan seperti apa mereka kelak pada saat menginjak dewasa.

Bukan hanya pengajaran atau didikan, tapi orang tua pun harus sanggup menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sadar atau tidak, anak akan mencontoh perilaku orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang berpikir bahwa mereka bisa memerintahkan anak untuk rajin berdoa, rajin ke gereja hanya sebatas di bibir saja  sementara mereka tidak memberi contoh yang sama. Mereka mengira bahwa mereka bisa memerintah anak saja tanpa harus menunjukkan contoh teladan dari perilaku mereka sendiri secara langsung. Mereka tidak sadar bahwa apabila ini yang terjadi, anak pun berpotensi untuk tidak menganggap serius semua itu, bahkan bisa-bisa berpandangan sinis terhadap apa yang diajarkan orang tuanya. Ketika sebagian orang tua terlihat rajin beribadah, tapi kehidupannya tidak mencerminkan ajaran Tuhan, anak akan menganggap bahwa semua itu hanyalah seremonial rutin yang tidak membawa manfaat apapun. Tidak jarang hal demikian membawa dampak negatif dalam perkembangan si anak. Bayangkan jika orang tua hanya getol menguliahi anaknya tentang iman, tetapi mereka selalu terlihat ketakutan dalam hidup mereka, hanya berpikir untung dan rugi secara finansial menjadikan materi sebagai segala-galanya, tidakkah itu akan berpengaruh buruk bagi perkembangan jiwa sang anak juga? Anak pelayan Tuhan sekalipun tidak menjamin mereka untuk tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, jika orang tuanya tidak memberi teladan yang benar dari kehidupan mereka sehari-hari untuk dicontoh dan dijadikan teladan.

Ayat bacaan kita hari ini memberi gambaran menarik akan hal itu. Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Jika kita mencari tahu latar latar belakang dari Timotius, kita akan mendapati awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1-3. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sekarang dikenal sebagai Turki). Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Alkitab mencatat bahwa Timotius terkenal sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya. (Kisah Para Rasul 16:2). Dari mana ia tumbuh seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya? Mari kita baca ayat bacaan hari ini. “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2 Timotius 1:5). Ayat tersebutmenjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan Alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike, hingga lalu sampai kepada Timotius.

Jika peran seorang ibu sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ayah pun tidak kalah pentingnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”. (Amsal 1:8). Bahkan dari contoh mengenai Timotius di atas kita bisa melihat bahwa peran nenek pun punya andil dalam kehidupan kita. Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun. Firman Tuhan berkata: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:6-9). Disini kita bisa melihat bahwa sebuah keteladanan pun tidak kalah pentingnya dengan menyampaikan pengajaran Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita. Mendidik mereka akan budi perkerti, ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran lainnya akan sangat baik buat masa depan mereka. Tetapi jangan lupa bahwa mengajarkan mereka tentang firman Tuhan dan menumbuhkan iman mereka sejak dini pun merupakan faktor yang teramat sangat penting yang tidak boleh diabaikan atau ditunda-tunda. Berilah contoh yang baik kepada anak-anak, bukan hanya lewat teori dan perintah, namun yang lebih penting justru dengan keteladanan secara langsung lewat cara, sikap dan gaya hidup kita. Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya. Sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka? Seperti apa mereka kelak dikemudian hari akan sangat tergantung dari seberapa baik kita mendidik mereka dan memberi keteladanan langsung lewat segala aspek dalam kehidupan kita.

Wariskan yang baik buat anak-anak kita lewat keteladanan nyata

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply