Wall-E (1) : Cinta Kasih

Ayat bacaan: Yohanes 15:17
======================
“Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

wall-e,love


Seperti biasanya, musim panas kali ini penuh dengan film-film box office dari Hollywood. Salah satu film pengisi summer blockbuster tahun ini adalah film animasi 3D yang dibuat pixar dan diproduksi Walt Disney berjudul Wall-E. Wall-E adalah sebuah robot pembersih sampah yang tertinggal sendirian di bumi yang sudah kosong selama 700 tahun. Dikisahkan pada suatu ketika bumi tertimbun oleh banyaknya sampah. Bumi tidak lagi layak huni, tanaman tidak lagi bisa tumbuh karena terlalu banyak racun di udara. Teknologi maju memungkinkan manusia untuk pindah ke dalam sebuah pesawat ruang angkasa super besar bernama Axiom. Wall-E seperti halnya robot, hidup dengan program. Dia terus bekerja membersihkan sampah dan hidup dengan tenaga matahari di jam kerja. Pada suatu hari ia bertemu dengan Eve, robot kiriman dari Axiom. Kesepian sekian ratus tahun dan rindunya Wall-E akan kasih terobati dengan hadirnya Eve. Eve sebagai robot juga terprogram (dalam film dikatakan “directive“, alias instruksi). Singkat cerita, dalam petualangan mereka berdua, directive-directive rutin yang terprogram akhirnya tergantikan oleh kasih. Manusia yang sudah lama tidak mengenal cinta kasih, bahkan tidak lagi bisa berjalan akhirnya kembali ke bumi dan hidup bahagia.

Apa yang bisa kita petik dari kisah Wall-E? Kita lihat dulu komentar sutradara sekaligus penulis naskah film ini, Andrew Stanton.

“The greatest command Christ gives us is to love, but that’s not always our priority. So I came up with this premise that could demonstrate what I was trying to say- that irrational love defeats the world’s programming… our programming is the routines and habits that distract us to the point that we’re not really making connections to the people next to us. We’re not engaging in relationships, which are the point of living-relationship with God and relationship with other people”

Rutinitas hidup, berbagai kesibukan kita yang semakin hari semakin menyita waktu bisa membuat kita secara perlahan kehilangan hubungan dengan orang lain, dan tanpa disadari dapat berpengaruh pada semakin tipisnya rasa cinta kasih. Dalam kehidupan dan pekerjaan terkadang kita sudah bertindak seperti robot, mengerjakan segala sesuatunya dengan pola yang sama setiap hari seperti program rutin. Jika kita menomor duakan hubungan kita dengan Tuhan, lama kelamaan kita akan merasa asing pada kasih. Yesus mengajarkan bahwa dua hukum yang paling utama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, kemudian mengasihi sesama seperti diri sendiri. (Matius 22:37-40). Kita perlu menjaga hubungan dengan Tuhan meskipun kita terus disibuki rutinitas hidup, karena Kristus diam di dalam hati kita lewat iman kita, dan karenanya kita akan berakar serta berdasar di dalam kasih. (Efesus 3:17). Bahkan jika rutinitas membuat kita pada satu titik menjadi lemah, kasih karunia dalam Kristus pun akan kembali membuat kita kuat. (2 Timotius 2:1).

Love makes the world go round. Rutinitas dan kebiasaan yang menguasai hidup kita disertai teknologi yang semakin maju dapat membuat orang kehilangan sentuhan dan hubungan dengan sesama atas dasar kasih. Kita juga bisa melihat orang-orang yang hidup dalam teknologi tinggi dengan segala kemudahannya hidup tanpa sukacita dan kegembiraan tanpa adanya kasih dalam hidup mereka. Itulah pesan terpenting yang ingin disampaikan Wall-E lewat contoh yang sangat ekstrim. Tidak salah kalau 2000 tahun yang lalu Kristus mengingatkan kita akan dua hukum yang paling utama. Begitu banyak “directive” yang mengisi hidup kita, seperti halnya Wall-E (membersihkan sampah), dan Eve (mencari tanaman di bumi). Tapi seperti juga mereka yang mengubah “directive-directive” terprogram menjadi “directive” baru: love, pesan yang disampaikan pun bagi kita menjadi jelas. “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.”(1 Yohanes 4:12)

Love brings happiness to Wall-E and Eve, to every humankind in the movie, so it does to us

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment