Upaya-upaya Pembinaan Imam Pribumi di Seminari Menengah Mertoyudan Kurun Waktu 1911-2011 (7)

DALAM upaya mendidik serta menyiapkan calon imam yang andal sebagai pelayan dan pemimpin umat lokal Gereja Indonesia, pembinaan calon imam di Seminari Menengah St. Petrus Canisius terus-menerus mengalami pembenahan. Pada tahun-tahun awal berdirinya,  model pembinaan calon imam di Seminari Menengah Petrus Canisius masih begitu sederhana.

Meskipun demikian, para misionaris Jesuit Belanda yang merupakan formator awal serta perintis munculnya pendidikan calon imam di Indonesia ini tetap mengindahkan tuntutan Gereja Universal. Berkembangnya jumlah pemuda pribumi yang ingin menjadi  imam turut mempengaruhi upaya pembenahan dan perkembangan model pembinaan tersebut.

Pembenahan yang dilakukan oleh Seminari Mertoyudan sebagai pionir pendidikan calon imam pribumi di Indonesia dilakukan dalam rangka mempersiapkan para pemuda pribumi sebagai imam yang sesuai dengan harapan Gereja di tengah masyarakat Indonesia dengan segala dinamikanya. Pendidikan calon imam pribumi juga harus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan Gereja Universal dan tidak hanya menyiapkan calon imam sebagai pembantu para misionaris. Harapannya, Gereja yang telah mengakar itu akan tumbuh dan semakin kuat meski diterpa begitu banyak tantangan dan hambatan.

Dalam kurun waktu hampir satu abad (1911-2011), Seminari Menengah St. Petrus Canisius telah menjalankan kiprahnya dalam mendidik dan menyiapkan calon imam pribumi di Indonesia ini. Selama itu pula, dinamika dan proses pembinaan calon imam itu digulati di antara tuntutan pendidikan calon imam bagi Gereja Universal dan Gereja lokal (Indonesia). Konteks masyarakat internasional, nasional dan lokal menjadi bagian yang turut mewarnai dinamika pembinaan tersebut.

Tuntutan standar pembinaan calon imam sesuai dengan Gereja Universal itu dituangkan ke dalam visi dan misi pendidikan calon imam di Seminari Menengah St. Petrus Canisius. Sementara itu, perubahan model pendidikan dilakukan sebagai usaha untuk menerjemahkan serta mewujudkan usaha pencapaian visi misi tersebut sesuai dengan konteks Gereja dan masyarakat Indonesia.

Tahun 1911-1941

Lahirnya pendidikan calon imam di Indonesia yang diawali oleh Karya Misi para misionaris Jesuit merupakan buah karya Roh yang tumbuh di dalam perjuangan serta pergulatan para misionaris dalam mewartakan Kabar Gembira di tanah Hindia Belanda pada awal abad XX. Di tengah situasi sosial masyarakat Hindia Belanda sebagai jajahan dari Negeri Belanda yang sedang menggulirkan sistem Politik Etis, pewartaan Misi Katolik melalui media Pendidikan Calon Guru di Jawa pun mulai digulirkan oleh para misionaris Jesuit seperti Pater Franciscus van Lith SJ, Pater J. Mertens SJ, dan Pater J. Hoevenaars SJ.

Karya pendidikan calon guru yang dimunculkan oleh para misionaris Jesuit ini pertama-tama bertujuan untuk mempersiapkan kader awal Gereja Katolik bagi umat beriman pribumi Hindia Belanda. Di tengah situasi tersebut, muncul cita-cita untuk menjadi imam  dari dua pemuda pribumi (FX Satiman dan Petrus Semeru Darmaseputra) lulusan sekolah calon guru tersebut. Cita-cita dari dua pemuda pribumi energik dan penuh semangat inilah yang membuka pintu bagi munculnya pendidikan calon imam pribumi Indonesia. Hal ini semakin membuka lebar pintu perkembangan pewartaan Kabar Gembira di tanah Hindia Belanda (Indonesia).

Di awal kiprahnya, pendidikan calon imam belum sangat tersusun rapi mengingat hal ini muncul atas permintaan dari dua pemuda pribumi lulusan sekolah guru tersebut. Meski pada lima tahun pertama setelah munculnya pendidikan calon guru tersebut para misionaris telah memiliki harapan akan tumbuhnya panggilan imamat bagi para pemuda pribumi, namun inisiatif yang memungkinkan munculnya pendidikan calon imam ini hadir di antara kedua pemuda pribumi tersebut. Oleh karena itu, model pembinaan calon imam saat itu masih bersifat persiapan untuk memasuki jenjang pendidikan imamat yang sesuai dengan standard Tahta Suci di Eropa (Belanda).

Berdasarkan tulisan Pater L.Weve, SJ  “Geschiedkundig Oversicht  van De Eerste 25 Jaren” di Majalah Missie St. Claverbond diungkapkan bahwa Seminari Pertama di Indonesia ini dimulai dengan diberikannya pelajaran bahasa Latin oleh Pater van Lith SJ dan bahasa Yunani oleh Pater Mertens SJ kepada kedua pemuda pribumi lulusan Kweekschool Xaverius Muntilan yang menyatakan diri hendak menjadi imam. Proses perijinan untuk mendirikan Seminari pun tidak begitu berjalan dengan mudah. Dalam aturan Serikat Jesus, mendirikan Seminari harus mendapatkan formaliteiten (izin dari atasan).

Setelah pendidikan Seminari awal benar-benar mulai berjalan, kedua pemuda pribumi seminaris pertama di Indonesia itu tinggal di Onderwijzers Woningen (rumah guru). Setiap hari mereka harus bangun pukul 04.30 dan mulai menyiapkan pelajaran hari itu, serta persiapan mengajar di kolese. Pada tahun itu juga, Pater Superior Serikat Jesus E. Engbers SJ mulai mengajar mereka bahasa Perancis. Model pendampingan yang masih amat sederhana ini dimaksudkan sebagai persiapan untuk mengikuti pendidikan calon imam yang telah ada di Eropa (Belgia dan Belanda). Pertimbangan untuk mengirim para calon itu ke pendidikan calon imam di Eropa dikarenakan belum tersedianya tenaga misionaris serta sistem pendidikan calon imam yang memadai di bumi Indonesia, selain juga karena kemunculan cita-cita dari pemuda pribumi untuk menjadi imam ini terkesan tiba-tiba.

Pada tahun 1918, pendidikan seminari mulai sedikit tertata ketika ada dua orang seminaris tamatan Normaalschool menyatakan diri hendak menjadi imam. Normaalschool ini tingkatannya lebih rendah dari Kweekschool maka harus didahului dengan suatu kelas kursus untuk memperdalam bahasa Belanda. Kursus ini disebut sebagai  kelas BC (Bijcursus). Perkembangan ini diikuti dengan pendirian Seminari Petrus Canisius secara resmi oleh Vikariat Apostolik Batavia di Yogyakarta pada bulan Mei 1925 yang mulai menerima seminaris dari tamatan sekolah rendah. Kelasnya pun masih terbagi ke dalam kelas I dan II. Sementara itu, Seminari Muntilan masih berlangsung dengan sistem pembagian kelas: BC, I, II, III, IV. Pada tahun 1927, kedua seminari ini disatukan di Yogyakarta dengan pembagian kelas: I, II, III, IV, V dan BC. (Bersambung)

Photo credit: Buku Kenangan 100 Tahun Seminari Mertoyudan

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: