Untung! Sungguh, Ini adalah “Blessing in Disguise”

BEBERAPA waktu lalu saya memperoleh kesempatan jalan-jalan a la backpacker ke Bangkok bersama teman-teman satu profesi. Awalnya kami berencana menjelajahi Bangkok berenam tetapi akhirnya hanya tiga orang yang berangkat. Perjalanan inipun bukan hal yang kami rencanakan secara bersama-sama. Semuanya seperti serba kebetulan.

Saya ingat waktu itu saya iseng-iseng membuka website sebuah maskapai low budget ke Bangkok. Harga tiket yang tertera di laptop saya amat mencengangkan murahnya, hanya sekitar 3000 THB (Baht) atau sekitar Rp.975.000 pergi pulang. Tanpa pikir panjang, saya langsung book tiket promo itu. Dalam perjalanan waktu, salah seorang karib saya (yang mungkin terprovokasi) mengabarkan bahwa ia juga sudah mem-book tiket Jkt-Bkk-Jkt meski keberangkatannya hanya selang sehari dengan saya. Merasa sukses mendapat tiket super murah, kamipun mulai bercerita kepada beberapa teman, sehingga ada empat orang teman lain yang berminat.

Selanjutnya melalui perjuangan cukup sulit menembus traffic line di maskapai yang sedang promo tersebut, akhirnya saya bisa mendapatkan dua tiket. Berarti tiket kami berempat sudah oke. Dua lainnya masih menunggu promo karena pada saat online, tiket sudah sold out. Wah, sayang sekali. Sayapun rasanya harap-harap cemas, setiap hari menengok website itu demi mendapatkan promo.

Minggu demi minggu, bulan berganti bulan, dua tiket promo yang kami harapkan tak kunjung saya dapatkan. Dua bulan menjelang keberangkatan teman yang satu sudah menyerah. Ia batalkan rencana perjalanannya ke Bangkok akan tetapi satu teman tetap berharap dapat ikut. Entah mengapa sampai sebulan kemudian, saya belum juga memperoleh tiket murah, apalagi keberangkatan sudah semakin dekat dan harga tiket juga sudah melambung naik tiga kali lipatnya. Bingung, sedih dan kasihan juga melihat teman saya ini. Masakan kami harus meninggalkan dia?

bangkok thailand 1

Sampai pada suatu malam saya mendapat kabar mengejutkan datang dari teman dalam grup ini, bahwa ia harus membatalkan tiketnya karena Ibundanya dipanggil Tuhan. Dengan segala rasa yang bercampur aduk, kaget, duka, sesal dan berat, akhirnya kami semua menerima keputusan ini. Maka batallah trip ke Bangkok dua orang lagi. Kawan yang berdukacita ini adalah sahabat karib dari teman yang belum mendapat tiket. Pada hari-H, hanya tersisa kami bertiga.

Hingga kini saya tercenung apabila mengingat pengalaman tersebut. Semua seolah terjadi secara kebetulan akan tetapi dibalik itu, saya yakin tangan Tuhanlah yang mengatur. Meski akhirnya hanya tiga orang, kami bersyukur tetap dapat menikmati trip ini dan menjadi kenangan tak terlupakan seumur hidup. Saya pun mulai belajar memahami bahwa dalam setiap peristiwa selalu ada hikmah yang bisa dipetik.

Memang tidak seketika hikmah bisa dipetik. Apalagi dalam pengalaman menyakitkan atau menyedihkan, logika berpikir kita menguap menjelma menjadi gumpalan emosi yang menggerus batin. Akan tetapi dengan berjalannya waktu dan keterbukaan hati, kadang ditemukan mutiara indah dalam setiap pengalaman pahit.

Tidak sedikit orang sukses di dunia berjuang mencapai keberhasilannya justru dari titik nadir yang paling memprihatinkan. Itulah sebabnya kerap muncul ungkapan From Zero To Hero, yakni ungkapan kemenangan sesorang menakhlukkan segala keterbatasannya.
Sutradara dan sekaligus pengisi suara dalam film animasi terlaris Despicable Me, Pierre-Louis Padang Coffin, adalah salah satu tokoh yang saya kagumi. Dari Wikipedia saya tahu bahwa ia adalah anak kedua dari NH Dini (1936- ), sastrawan terkenal Indonesia yang menikah dengan seorang diplomat Perancis Yves Coffin pada tahun 1960. Entah karena satu alasan mereka bercerai pada tahun 1984, pada waktu Pierre Coffin berusia 17 tahun. Tentu perceraian orangtua tentu bukan pengalaman menyenangkan bagi seorang anak, apalagi saat ia beranjak dewasa. Tetapi itulah yang terjadi, NH Dini memilih kembali ke Indonesia dan kedua anaknya tetap bersama sang ayah di Perancis.

Entah apa yang dirasakan Pierre Coffin, akan tetapi nampaknya ia menemukan blessing dari pengalaman menyedihkan itu yang kemudian membawanya menjadi pencipta film animasi terlaris di dunia saat ini. Dalam film animasi itu tergambar pengalaman kehilangannya lewat tokoh Gru, seorang penjahat yang bertobat dan mempunyai tiga anak asuh, Margo, Edith dan Agnes.

Hikmah itu rasanya telah dipetik Pierre Coffin puluhan tahun kemudian.

Rick Warren, dalam buku The Purpose Driven Life (2005), menulis segala sesuatu di dunia ada bukan karena kebetulan. Ia menyatakan setiap pengalaman yang dialami manusia di muka bumi ini mengandung suatu tujuan mulia. Allah merencanakan terlebih dahulu hari-hari hidup manusia termasuk di dalamnya semua pengalaman baik dan buruk. Bahkan Tuhan juga sudah memutuskan kapan manusia lahir dan berapa lama seseorang akan hidup.

Albert Einstein (1879-1955) dalam buku Proses Belajar Ilmuwan-Ilmuwan Dunia, tulisan Richard Decaprio (2012) awalnya adalah anak yang mempunyai masalah lambat bicara. Orangtuanya sempat berkonsultasi ke dokter ahli namun tidak membuahkan hasil. Yang ada Einstein kecil menjadi bahan olokan teman dan dianggap bodoh. Iapun dikisahkan tidak lulus jenjang SMP dan SMA karena tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Akan tetapi Einstein sanggup mengolah pengalaman buruk itu menjadi sebuah pencapaian tertinggi sebagai seorang ilmuwan dunia. Pengalaman kurang menyenangkan itu justru memacu semangatnya untuk terus meraih impiannya dan kelak menjadi inspirasi banyak orang.

Kehidupan saya tak lepas dari jatuh bangun, suka duka, naik turunnya irama kehidupan. Mudah bagi saya menerima semua pengalaman manis, indah, dan menyenangkan tetapi sering saya memberontak apabila mengalami kejadian pahit dan tidak mengenakkan. Padahal semua itu ada hikmahnya, ada tujuannya dan ada blessingnya.

Mungkin setelah menulis refleksi ini saya harus membongkar gudang memori di benak saya untuk merenungkan keberadaan diri saya dalam alam semesta, baik saat sekarang maupun masa lalu. Barangkali dari pengalaman-pengalaman yang saya alami entah dimana, tahun berapa, dan dengan siapa akhirnya saya mampu berucap……untung dulu saya begitu, untung saya sekarang begini…..

Akhirnya saya mampu berucap……untung dulu saya begitu, untung saya sekarang begini…..

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: